Jurnalis Washington Post bangsa Saudi, Jamal Khashoggi. Foto: Daily Mail

@Rayapos | Dokumen resmi pemerintah Turki, menggambarkan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi disiksa brutal. Jari jari tangganya dimutilasi, sebelum dibunuh.

Dokumen itu berbentuk rekaman audio dari jam tangan Khashoggi. Kini rekaman tersebut berada di tangan pemerintah Turki.

Dokumen mengerikan juga menjelaskan, bahwa Khashoggi bukan korban satu-satunya kekejaman Arab Saudi terhadap pihak yang dianggap bersalah.

Khashoggi (59) adalah jurnalis Washington Post. Dia warga Saudi Arabia. Dulu, dia salah satu orang kepercayaan (penasihat) Kerajaan Saudi Arabia. Sehingga mengetahui seluk-beluk Kerajaan Saudi.

Dia dianggap pembangkang oleh pemerintah Kerajaan Saudi, dan dilenyapkan pada 2 Oktober 2018.

Sebelum dilenyapkan, Khashoggi sebenarnya merasa, bahwa dia dalam kondisi bahaya.

Saksi hidup yang mengatakan itu adalah tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz (36). Cengiz bersama Khashoggi, beberapa menit sebelum Khashoggi hilang untuk selamanya.

Dilansir dari Daily Mail, Kamis (19/10/2018) Khashoggi menjemput maut, karena dia hendak menikahi wanita Turki, Hatice Cengiz.

Sejak Juni 2018 Khashoggi tinggal di Amerika, dekat Washington DC. Dia ke Amerika setelah berselisih dengan rezim Kerajaan Saudi.

Tapi, dia tidak berniat tinggal di Amerika. Ambisinya menikahi Cengiz, kemudian menetap di Turki.

Khashoggi berstatus menikah. Isterinya tinggal di Saudi. Sedangkan, pemerintah Turki melarang poligami. Maka, untuk bisa menikahi Cengiz, Khashoggi harus bercerai dulu dengan isterinya.

Nah… mengurus surat cerai itulah Khashoggi harus mendatangi Konsulat Saudi Arabia di Istanbul, Turki. Di gedung Konsulat itulah dia dijemput maut.

Kronologisnya demikian:

Dia pertama kali mengunjungi Konsulat Saudi di Istanbul pada Jumat, 28 September 2018. Dia bertanya tentang mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk memverifikasi perceraiannya.

Dia diberitahu, bahwa konsulat tidak bisa memberikan apa yang dia butuhkan hari itu. Tapi dia dianjurkan petugas, agar kembali pada minggu berikutnya.

Dia meninggalkan gedung itu. Dapat nomor telepon seorang pejabat intelijen yang membantunya di situ.

Cengiz, tunangannya, mengatakan, pertemuan Khashoggi dengan staf konsulat adalah ‘positif’. Staf konsulta ‘menyambutnya dengan hangat’ dan meyakinkannya, bahwa dokumen yang diperlukan akan datang.

Dia diberitahu untuk kembali empat hari kemudian, Selasa, 2 Oktober 2018. Untuk mengumpulkan dokumentasi.

Selasa, 2 Oktober 2018. Pukul 03.28 sebuah jet bisnis Gulfstream IV HZ-SK2, mendarat di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki.

Jet ini milik maskapai Sky Prime. Perusahaan penerbangan Riyadh, dikenal dekat dengan rezim Kerajaan Saudi.

Diperkirakan, penerbangan itu membawa sembilan pejabat Saudi dan perwira intelijen.

Diidentifikasi oleh kubu pembangkang, bahwa Letkol Salah Muhammad al-Tubaigy, Kepala Bukti Forensik, Departemen Keamanan Umum Saudi Arabia, salah satu penumpang pesawat.

Bukti seperti difilmkan pada CCTV di paspor kontrol, sembilan menit setelah pesawat mendarat.

Mereka lantas bergerak menuju tengah kota Istanbul.

Sekelompok orang masuk ke hotel bintang lima, Movenpick (sangat dekat dengan gedung Konsulat Saudi) pada pukul 5.05 pagi.

Sekelompok orang lainnya, pergi ke Grand Wyndham.

Kelompok di Movenpick pesan untuk tiga malam. Tapi kenyataannya mereka hanya beberapa jam saja di hotel.

Ada Kejutan bagi Pembunuh

Pukul 9.30 kelompok Movenpick meninggalkan hotel. Terekam CCTV.

Pagi itu, Khashoggi menelepon konsulat. Bertanya tentang waktu, kapan dia bisa mengurus dokumen. Petugas memberitahu, bahwa surat-surat yang dibutuhkan Khashoggi akan siap sore itu. Paling tidak, pukul 13.00

Pada pukul 12.30, semua staf lokal Turki di Konsulat Saudi, keluar berangkat makan siang.

Pada saat itu mereka diberitahu, agar mengambil libur sore. Karena akan ada pertemuan diplomatik tingkat tinggi, nanti.

Artinya, mereka tidak usah kembali ke kantor. Jadi, kantor hanya berisi karyawan orang Saudi.

Catatan WhatsApp menunjukkan, Khashoggi terakhir melihat pesannya di ponsel AS di 13.06.

Dan, pada pukul 13.14 sebuah kamera CCTV di pintu masuk konsulat mencatat kedatangan Khashoggi.

Tapi, ada sesuatu yang di luar perhitungan pihak pembunuh. Karena Khashoggi datang tidak sendirian. Melainkan bersama tunangannya, Cengiz.

Ternyata, Cengiz tidak ikut masuk ke gedung konsulat. Cengiz menunggu di dekat pintu depan. Tidak dijelaskan, atas inisiatif siapa Cengiz tidak masuk gedung.

Ini penting… Khashoggi menyerahkan telepon genggamnya pada Cengiz.

Khashoggi menyerahkan handphone sambil berpesan, menunjuk alamat nomor telepon di handphone tersebut, nomor seseorang.

Khashoggi berpesan, jika terjadi sesuatu terhadap dirinya, maka Cengiz diminta menelepon nomor tersebut.

Pemilik nomornya adalah penasihat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Dari kejadian ini, tampak bahwa Khashoggi sudah merasakan ada sesuatu yang berbahaya mengancam dirinya.

Bisa dibayangkan, Cengiz mestinya juga merasa khawatir. Atau bisa jadi hal-hal semacam ini sudah biasa mereka lakukan. Pekerjaan Khashoggi adalah jurnalis yang lekat dengan bahaya.

Cengiz menjawab: “Aku akan menunggu di sini untukmu.”

Khashoggi menimpali: “Baiklah sayangku…”

Itulah komunikasi terakhir mereka. Kemudian Khashogi masuk gedung. Di rekaman CCTV Khashoggi masuk pukul 13.14.

Baca Juga:

Pembunuhan Jurnalis Khassoggi, Akhirnya Saudi Akui Begini…

Sule: Nempel Dikit… Ama Adek Kelas

Wisudawati ITB Ini Umurnya 18 Tahun, loh…

Penasihat Presiden Turki, Datang Pertama

Hampir dua jam kemudian, Cengiz melihat kendaraan dengan pelat diplomatik meninggalkan konsulat.

Mobilnya, Mercedes Vito hitam dengan kaca jendela gelap.

Info dari sumber lain menyebutkan, di tempat lain, ada kendaraan lain melaju ke kediaman Konsul Jenderal Saudi Arabia untuk Turki, Mohammed al-Otaibi di Istanbul.

Mereka tiba di kediaman al-Otaibi pukul 15.10 dan tinggal selama beberapa jam.

Waktu menunjuk pukul 16.00. Khashoggi belum juga keluar dari gedung. Sudah hampir tiga jam Khashoggi di dalam.

Cengiz saat itu sudah sangat khawatir.

Akhirnya, Cengiz masuk gedung konsulat. Dia bertanya ke petugas. Ternyata petugas menjawab, bahwa Khashoggi sudah pergi dari sana.

Cengiz mendebat, karena dia menunggu di dekat pintu masuk. Petugas menjawab enteng, mungkin Cengiz tidak melihat, ketika Khashoggi keluar.

Di situlah Cengiz tahu, bahwa kemungkinan terjadi sesuatu pada kekasihnya. Dia segera menelepon orang yang nomornya ditunjuk Khashoggi.

Orang itu bernama Yasin Atkay, Penasihat Presiden Turki Erdogan. Yasin Atkay segera datang ke konsulat. Tapi, Khashoggi tidak pernah kelihatan lagi.

Pukul 17.15 pesawat Jetstream Aviation Services Sky (kedua) HZ-SK1, membawa enam pejabat Saudi mendarat di Bandara Ataturk.

Berita menghilangnya Khashoggi menyebar dengan sangat cepat. sebab, ada peran penasihat Presiden Erdogan di situ.

Karena Yasin Atkay pula, menyebabkan pemerintah Turki menggeledah gedung Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, beberapa hari kemudian. Penggeledahan dilakukan selama delapan jam.

Tidak ditemukan mayat Khashoggi di dalam gedung. Petugas hanya menemukan, bahwa ada bagian dalam ruangan yang dicat ulang. Atau cat baru. Seolah menutupi sesuatu.

Menghilangnya Khashoggi pertama kali dimuat di koran tempat Khasshoggi bertugas, Washington Post. Dimuat setiap hari. Disambut Daily Mail. Juga media massa dunia.

Pemerintah Turki menyatakan, memegang dokumen penting. Yakni jam tangan Khashoggi. Jam itu merekam pembicaraan (audio) saat, diduga Khashoggi disiksa.

Rekaman suara itu digambarkan, mengerikan. Suatu interogasi brutal. Disimpulkan, jari tangan Khashoggi dipotongi satu per satu. Kemudian akhirnya dibunuh.

Menghebohkan Dunia

Kecurigaan wartawan tertuju pada pemerintah Kerajaan Saudi. Sedangkan, pihak pemerintah Saudi membantah keras tudingan membunuh Khashoggi.

Tapi, semakin kuat pihak Saudi menutupi, semakin gencar pemberitaan media massa. Seluruh dunia memberitakan hilangnya Khashoggi.

Televisi Al Jazeera menyebutkan, Khashoggi disiksa selama sekitar tujuh menit, sebelum dibunuh. Dasarnya adalah rekaman audio tersebut.

Tak kurang, Presiden AS Donald Trump ikut marah pada Saudi Arabia. Trump mengancam Saudi. Sebaliknya Saudi tetap bersikukuh tidak mengakui membunuh Khashoggi.

Jaringan TV milik negara Saudi, Al Arabiya mengklaim 15 warga Saudi yang tiba di Turki pada hari hilangnya Khashoggi, adalah turis.

Sementara, Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga mengecam pembunuhan Khashoggi. Bahkan, diterima informasi bahwa Khashoggi disiksa dengan sadis.

Yakni, tubuhnya dimutilasi ketika Khashoggi masih hidup. Mutilasi menggunakan gergaji tulang.

Kemudian, Presiden Tump menugaskan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, ke Arab Saudi untuk pembicaraan darurat dengan Raja Salman.

Dilaporkan pada hari yang sama bahwa Saudi bersiap untuk mengakui mereka membunuh Khashoggi ketika interogasi berjalan terlalu jauh. Namun, Saudi belum juga mengaku.

Pompeo mendapat tugas berat. Namun, ini bukan pertama kalinya Saudi dituduh mencari musuh dari rezim dengan niat kekerasan.

Lebih dari 15 tahun, kritikus domestik tingkat tinggi lainnya telah dipetik dari pengasingan oleh kerajaan, seperti yang akan kita lihat.

Harian The New York Times berhasil mengonfirmasi identitas sembilan orang dalam kelompok Saudi itu.

Harian tersebut melaporkan, empat dari sembilan orang itu pernah menjadi pengawal putra mahkota Mohammed bin Salman.

Sejauh ini Pemerintah Arab Saudi masih membantah tudingan terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi di kantor konjennya di Istanbul.

Pemerintah Saudi selalu menyatakan, Khashoggi sudah meninggalkan gedung konsulat. Tapi tidak menyertakan bukti untuk memperkuat klaim mereka.

“Pemerintah Saudi tidak bisa terus diam. Dan pemerintah kami serta pihak lain harus terus mendesak agar kebenaran diungkap,” kata CEO The Washington Post, Fred Ryan.

Bahkan, Kepala Badan HAM PBB, Michelle Bachelet, menyerukan, agar kekebalan diplomatik para pejabat Saudi yang diduga terlibat dalam masalah ini dicabut. (*)

BAGIKAN