Hashim Djojohadikusumo

@Rayapos | Jakarta – Hashim Soemitro Djojohadikusumo membongkar kelakuan dua orang yang pernah diusungnya di Pilkada DKI Jakarta 2012. Jokowi dan Ahok, melalui media sosial.

Ungkapan tersebut dalam bentuk video. Diunggah di Twitter dalam beberapa bagian yang terpisah, sesuai durasi. Total 7 video diunggah.

Salah satu yang dibongkar adalah kelakuan bekas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang dengan lugas dinyatakan sebagai sosok yang kurang ajar dan kualat.

“Jadi, setelah Pak Jokowi ikut Pilpres 2014, Ahok ini kader Partai Gerindra, dia naik jadi Gubernur DKI Jakarta,” katanya dalam video yang diunggah di media sosial, dikutip Selasa (12/3/2018).

Soalnya, Ahok yang diusung Partai Gerindra jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, mundur dari Gerindra.

Hal itu, kata Hashim Soemitro Djojohadikusumo, terjadi di bulan Oktober tahun 2014.

“Sampai menang, Pak Ahok datang, hampir tiap hari, ke ruang kerja saya.”

“Curhat karena semua temannya tidak mau dukung dia. Orang-orang besar tidak mau dukung dia.”

“Mengapa? Mereka semua dukung Pak Fauzi Bowo, peluangnya besar sekali, jadi tidak ada yang mau dukung, hanya ada 1, saya.”

Hashim menyatakan, yang dukung hanya dirinya agar Ahok maju di Pilkada DKI Jakarta 2012.

“Kader Gerindra jadi gubernur, kirim surat pengunduran diri, sopirnya yang bawa, dia tidak ada harga diri.”

“Ya, kurang ajar!” kata Hashim Soemitro Djojohadikusumo dengan nada tinggi.

Itu, kata Hashim dalam video yang diungkap di media sosial, Oktober 2014.

Orang Jawa, kata Hashim, yang menjelaskan kalau dirinya separuh Jawa, orang itu kualat.

Hashim yakin, Ahon keok di Pilkada DKI Jakarta karena karma, kualat, dan kurang ajar.

Faktanya meski diunggulkan hampir semua lembaga survei terkenal di antaranya LSI Denny JA dan SMRC, Ahok terjungkal dan masuk bui karena kelakuannya.

Hashim menyatakan, tidak ada harga diri dan dinilai kurang ajar karena tidak berani untuk menyampaikannya sendiri.

Soalnya, Ahok harusnya bukan lagi Wakil Gubernur DKI Jakarta dan tidak berhak menjadi Gubernur DKI Jakarta karena Partai Gerindra yang mengusung dia.

Ahok, katanya, saat itu harus mundur sebagai Wagub DKI Jakarta dari Partai Gerindra.

Posisi itu harus diisi oleh Partai Gerindra untuk menggantikan Ahok, tapi akhirnya dia ngotot bertahan dan terjungkal di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017.

“Akhirnya, kualat kan dia? Saya tidak tahu orang Jakarta percaya tidak, kualat, tapi saya percaya itu,” katanya. (*)

Baca Juga:

Beredar Video Agum Gumelar Ungkap Sidang Pemecatan Prabowo, BPN: Pembusukan