@Rayapos | Jakarta – Polemik Amien Rais versus politisi pendukung Presiden Jokowi kian seru. Terbaru, Amien menyatakan, akuisisi 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh Indonesia adalah bohong. Akibatnya, dianggap tidak mengerti.

“Emangnya Amien ngerti soal Freeport?” kata Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah, Sabtu (14/7/2018).

Dilanjutkan: “Baca Kontrak Karya II PTFI Tahun 1991 saja kayaknya nggak pernah, deh… itu orang,”

Menurut Inas, Amien selalu bersikap sok tahu. Dia kemudian kembali menyinggung Amien dengan istilah ‘comberan’.

“Selalu saja gaya sok tahunya dijadikan andalan, bahkan semakin hari semakin bercomber ria dengan segala ocehan yang asal-asalan. Bukan hanya menyesatkan masyarakat, tapi dirinya sendiri ikut tersesat,” ujar Inas.

Dia pun menyarankan Amien banyak mencari tahu soal PTFI sebelum menyampaikan pendapatnya di hadapan publik. Inas mengatakan, pernyataan Amien itu bisa menyesatkan masyarakat.

Inas menyarankan: “Ada pepatah yang mengatakan ‘malu bertanya, sesat di jalan’. Nah, itu terjadi dengan Amien Rais. Seharusnya dia bertanya dulu kepada pemerintah mengenai divestasi Freeport. Agar tidak sesat ketika menyampaikan kembali kepada masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya, Amien Rais menyinggung pemerintah yang baru saja menyepakati akuisisi 51 persen saham PTFI, adalah bohong. Itu dia katakan saat menyampaikan sambutan dalam acara halalbihalal Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di aula Masjid Al-Furqon, Jakarta Pusat.

Kata Amien: “Seolah-olah kita sudah senang karena Freeport kembali ke tangan Ibu Pertiwi. Buat saya, itu hanya, maaf, bohong-bohongan, karena operasional masih mereka, semuanya masih mereka. Gitu.”

Namun Amien tidak mau melanjutkan ucapannya soal Freeport itu. “Saya tidak ingin mendalami ini karena ada yang lebih ahli, nanti saya bisa keliru,” ujarnya.

PDIP Heran terhadap Amien Rais

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno heran terhadap Amien Rais. Seolah Amien tak percaya lagi pada kemampuan Indonesia.

“Saya justru heran, Pak Amien seperti mulai hilang kepercayaan kepada kemampuan bangsa sendiri. Tidak percaya kepada semangat para penyelenggara negara,” katanya.

“Meragukan jalan Trisakti, kehendak kuat untuk berdaulat, berdikari, berkepribadian, kepada segenap komponen bangsa,” imbuhnya.

Baca Juga:

Hendrawan kemudian menjelaskan soal divestasi saham PTFI itu. Dia membenarkan bahwa sejauh ini proses divestasi itu masih dalam tahap pembahasan pokok perjanjian. Namun hal itu, menurut Hendrawan, juga perlu diapresiasi sebagai sebuah kemajuan.

“Benar, yang dilakukan baru pokok-pokok perjanjian yang pada saatnya ditindaklanjuti dengan transaksi. Namun harus diapresiasi karena ada kemajuan dalam negosiasi,” jelas Hendrawan.

Dia mengatakan tidak mungkin proses akuisisi PTFI terjadi dalam sekejap. Transisi akuisisi itu juga mempertimbangkan kepentingan banyak pihak.

“Kalau inginnya ‘sak dek sak nyet’, seketika simsalabim, tentu tidak masuk akal. Apa Amien Rais berpikiran mengelola negara pakai ilmu gaib?” tukas Hendrawan.

“Transisi akuisisi ini harus berjalan sesuai dengan kepentingan para pihak. Jadi harus ‘win-win’. Pergantian kepemilikan tidak boleh mengganggu operasi dan kinerja korporasi,” tuturnya. (*)