Sekeluarga pengebom tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018).

@Rayapos | Surabaya – Manusia takut mati, wajar. Informasi terbaru, dua anak lelaki pengebom gereja Surabaya, Dita Oeprianto, menangis pada Sabtu (12/5/2018). Mereka adalah Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

Hal ini diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

Sehari sebelum aksi bom bunuh diri di gereja Surabaya, anak-anak dari Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya, Dita Oepriarto (pelaku), sempat terlihat menangis.

Berdasarkan keterangan RT tempat tinggal mereka, Setyo mengatakan, anak-anak itu, Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16), saling menangis saat salat di Musala.

Itu terjadi sehari sebelum kejadian yakni pada Sabtu, 12 Mei 2018.

“Ada keterangan Pak RT yang mengatakan satu hari sebelum kejadian, malam minggu, dua anak itu salat di musala dan saling tangis-tangisan,” ujar Setyo, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018).

Ia pun menduga bahwa anak-anak itu mengetahui akan mengakhiri hidupnya dengan aksi bom bunuh diri keesokannya.

Sehingga, jenderal bintang dua itu menilai para anak-anak Dita telah sadar akan melakukan amaliyah.

“Ada apa itu? Kemungkinan besar mereka sadar akan melakukan amaliyah,” imbuh Setyo.

Sebelumnya, Ketua JAD Surabaya Dita Oepriarto melakukan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Minggu (13/5).

Pada hari yang sama, istrinya, Puji Kuswati, bersama anaknya, FS dan FR, meledakkan bom di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro.

Sedangkan anak Dita yang lain, YF dan FH, melakukan pengeboman di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel.

Peristiwa pengeboman di tiga gereja itu menyebabkan 18 orang tewas dan 43 orang mengalami luka-luka. (*)

Baca Juga:

BAGIKAN