Auj-e Taqaddas di Pengadilan Negeri Denpasar Bali, Kamis (2/8/2018). Taqaddas menampar petugas Imigrasi (insert). Kolase: Rayapos / DWO

@Rayapos | Jakarta – Auj-e Taqaddas (42) jadi pemberitaan media massa dunia. Dia turis Inggris penampar petugas Imigrasi, Ardyansyah (28) di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Sabtu (28/7/2018) pukul 21.25. Penyebabnya dia overstay.

Dia masuk Indonesia melalui Jakarta. Menggunakan fasilitas bebas visa pada 19 Januari 2018. Masa tinggalnya di Indonesia habis pada 18 Februari 2018. Pada saat Taqaddas menampar petugas, dia overstay 160 hari.

Masyarakat pasti heran. Taqaddas tampak seperti orang bodoh yang berasal dari negara maju, Inggris. Bahkan, setelah berita insiden penamparan, dia diolok-olok oleh anak-anak kecil di media sosial.

Taqaddas, meskipun kelahiran Pakistan, tapi dia sudah lama tinggal di London, Inggris. Negara yang terkenal disiplin dalam law enforcement. Mengapa dia seolah-olah tidak paham peraturan overstay? Atau, mengapa dia paham overstay, tapi mengabaikan?

Ada baiknya publik mendengarkan konfirmasi dari Taqaddas. Dia memberikan keterangan kepada wartawan, ketika hadir di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis (2/8/2018).

Taqaddas mengatakan, dia paham bahwa dia overstay. Dia paham hal itu, sejak beberapa hari sebelum overstay jatuh tempo. Ketika itu dia masih berada di Jakarta.

Dan, dia mengaku, bahwa dia sudah berusaha mengurus persoalan itu di Kantor Imigrasi di Jakarta, beberapa hari sebelum overstay jatuh tempo.

“Saya sudah sering bertanya ke imigrasi. Saya sudah datang ke kantor Imigrasi di Jakarta untuk mengurus overstay. Tapi tidak ada respon,” kata Taqaddas kepada wartawan.

Di Jakarta ada enam Kantor Imigrasi. Direktorat Jenderal Imigrasi. Imigrasi Jakarta Pusat. Imigrasi Jakarta Selatan. Imigrasi Jakarta Utara. Imigrasi Jakarta Timur. Imigrasi Jakarta Barat.

Taqaddas tidak bisa menyebutkan tepat, dia datang ke kantor Imigrasi di Jakarta yang mana, untuk mengurus overstay.

Taqaddas mengatakan: “Saya sudah berbicara kepada petugas Imigrasi di Jakarta tentang hal ini. Saya menunggu tiga jam di sana. Bicara kepada petugas yang berbeda-beda. Tidak ada respon.”

Apakah setelah itu Taqaddas menyerah, kemudian mengabaikan overstay? Ternyata dia mengaku, juga sudah mengirimkan email ke Imigrasi Indonesia. Dia bertanya via email, bagaimana cara dia mengurus overstay? “Tidak ada respon,” ujarnya.

Kemudian dia jalan-jalan ke Bali. Rekreasi ke berbagai tempat di Bali. Kian hari masa kadaluarsa overstay terus bertambah. Sampai 160 hari.

Pada Sabtu (28/7/2018) dia berada di Bandara Ngurah Rai. Dia akan terbang ke Singapura. Siap-siap akan naik pesawat Maskapai Jetstar Airlines 3K-240. Dia mengurus boarding pass. Pada pukul 21.25 dia dicegah petugas, karena ketahuan overstay.

Mengapa Taqaddas menampar petugas? Bukankah dia berasal dari Inggris, negara yang terkenal disiplin dalam law enfocerment?

Cerita Taqaddas kepada wartawan ketika dia berada di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (2/8/2018) demikian:

“Ketika saya masuk ke dalam (ruangan Kantor Imigrasi di Bandara tersebut), saya diberi tahu petugas, bahwa saya tidak bisa berangkat. Mereka teriak-teriak, saya tidak bisa berangkat. Ada sembilan orang petugas saat itu,” kata Taqddas.

Sebaliknya, Taqaddas menjawab, bahwa dia sudah berusaha mengurus overstay di Kantor Imigrasi di Jakarta, dulu. Menunggu tiga jam. Berbicara kepada petugas Imigrasi yang berbeda-beda. Tapi tidak ada respon.

Petugas Imigrasi di Bandara Ngurah Rai (menurut Taqaddas, ada sembilan orang) tegas, bahwa Taqaddas melanggar peraturan. Sedangkan, Taqaddas bersikukuh bahwa dia sudah berusaha taat peraturan. Tapi tidak ada respon.

Perang mulut terjadi. Begitu sengit. Penuh emosi.

Akhirnya, Taqaddas menampar petugas Ardyansyah. Tamparan ke pipi kiri Ardyansyah, satu kali. Plaaar….

Ini videonya:

Kejadian tersebut direkam kamera (tentu oleh petugas Imigrasi). Kemudian tersebar di Youtube. Menghasilkan, peristiwa ini menghebohkan dunia.

Baca Juga:

Jelang MotoGP Brno, Rossi Fokus Soal Ban

Kapolsek Tembak Anak Buahnya, Ini Kata Mabes Polri

Wiranto: Jelang Pemilu, SARA Jadi Instrumen Raup Popularitas

Di Pengadilan Bali, Taqaddas Marah Lagi

Taqaddas kemudian ditahan polisi. Bukan karena overstay, tapi karena penamparan petugas Imigrasi. Kata pihak Imigrasi Indonesia, peristiwa itu sama saja menghina petugas yang seharusnya dihormati. Lebih jauh, dikaitkan dengan penghinaan bangsa Indonesia oleh bangsa asing.

Lima hari Taqaddas ditahan polisi, dijadwalkan sidang di Pengadilan Negeri Denpasar pada Kamis (2/8/2018) pagi. Dan, tepat sesuai jadwal sidang, Taqaddas sudah diantarkan petugas ke Pengadilan.

Ternyata, di Pengadilan dia menunggu beberapa jam. Ketika dia masuk ke ruang sidang, hanya lima menit di situ. Hakim mengetuk palu, mengatakan, sidang ditunda karena berkas perkara belum lengkap.

Taqaddas dibisiki penterjemah, yang menjelaskan arti penyataan hakim. Lantas Taqaddas bertanya pada hakim, apa yang belum lengkap, sedangkan Polisi menyatakan sudah lengkap. Buktinya, dia sudah dibawa dari ruang tahanan Polisi ke Pengadilan.

Tapi, hakim hanya mengatakan, bahwa berkas perkara belum lengkap. Sidang tidak dapat berlangsung. Itu saja.

Taqaddas marah lagi. Dia emosional lagi.

Taqaddas kepada wartawan mengatakan: “Mereka (hakim di Pengadilan) hanya bilang, bahwa ada yang belum lengkap di berkas. Saya ingin tahu, apa yang belum lengkap. Padahal polisi yang membawa saya ke sini bilang, bahwa kasus ini sudah lengkap untuk sidang.”

Maksud Taqaddas, jika Polisi mengatahui bahwa berkas perkara belum lengkap, mengapa Taqaddas dibawa Polisi dari ruang tahanan ke Pengadilan? Lantas dia menunggu beberapa jam di sana? Maksud dia, mengapa tidak ada koordinasi antara Polisi dengan pihak Pengadilan?

Taqaddas tidak paham, bahwa dalam sistem peradilan di Indonesia, kejadian semacam itu sudah lazim. Polisi tidak pernah diberitahu oleh pihak Pengadilan tentang kelengkapan berkas perkara, sebelum jadwal persidangan. Sehingga pihak yang berperkara hukum, sudah biasa menunggu di Pengadilan, tanpa mengetahui, apakah berkas perkara sudah lengkap atau belum.

Taqaddas menunggu beberapa jam di Pengadilan membuat dia emosional. Tapi, kali ini dia tidak bisa menampar siapa pun. Sebab, kesalahan (dalam persepsi Taqaddas) bukan pada orang, melainkan pada sistem peradilan.

Namun, ada baiknya publik mendengarkan suara Taqaddas. Seperti dia katakan kepada wartawan di Pengadilan: “Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya terjebak sekarang di sini. Saya sendirian. Tidak ada keluarga saya. Tidak ada orang yang mendengarkan saya. Saya ingin pulang sekarang.”

Taqaddas mengucapkan itu dengan nada emosional. Taqaddas ketika mengucapkan itu, mengenakan pakaian yang sama dengan momentum saat dia menampar petugas di Bandara Ngurah Rai, lima hari sebelumnya. Bahkan, dia membawa tas hitam yang sama.

Indonesia, kini berusaha menarik sebanyak-banyaknya wisatawan asing datang ke sini. Kedatangan wisatawan asing meningkatkan devisa negara. Maka kejadian ini, seharusnya diperhatikan.

Rayapos sebagai media massa, menyajikan pemberitaan berimbang. Keseimbangan antara fakta di lapangan dengan kronologis kejadian di balik fakta Youtube. Fakta yang tersebar di Youtube hanya berlangsung beberapa detik. Tidak bisa dijadikan acuan sebagai pengadilan publik terhadap seseorang.

Paling tidak, bagi anak-anak kecil yang belum dewasa dan mereka aktif di media sosial, harus membaca keseimbangan informasi ini. Agar mereka tidak serta-merta mengolok-olok Auj-e Taqaddas sebagai orang bodoh dari negara maju Inggris. Meskipun dia sudah melanggar peraturan. (DWO)

BAGIKAN