Ilustrasi: Polres Semarang menangkap pelaku pencabulan terhadap anak-anak. Tersangka TBS (27) wajahnya ditutup. Foto: Antara

@Rayapos | Depok – Kasus ayah mencabuli anak tiri, sangat banyak. Kasus yang menimpa gadis M (16) disetubuhi ayah tiri D (30) selama dua tahun. Itu terungkap karena ibunda M berinisial S membaca Whatsapp (WA).

Pernikahan S dengan D bercerai gara-gara itu. Mereka kini tinggal terpisah di kawasan Depok. Kasusnya kini ditangani Pengacara Nurhayati Tantri. Dilaporkan ke Polresta Depok. Laporan Polisi bernomor stplp/1841/k/7/2018/pmj/ restadepok.

Repotnya, pihak Polres Depok membutuhkan visum. Bukti bahwa M disetubuhi D. Padahal, pencabulan sudah terjadi sejak dua tahun silam, dan berlangsung terus-menerus.

Polisi juga membutuhkan saksi yang melihat langsung persetubuhan itu. Sedangkan, saksi yang ada hanyalah saksi korban M.

Dijelaskan Nurhayati kepada wartawan di Depok, Senin (23/7/2018), bahwa gadis M disetubuhi ayah tirinya D, sejak sekitar dua tahun silam, ketika usia gadis M 14 tahun. “Awalnya, si ayah berdalih menghukum M karena suatu kesalahan M. Bentuk hukumannya adalah percabulan,” tuturnya.

Setelah D mencabuli anak tirinya, M, dia mengancam M. Jika berani melaporkan itu kepada ibunya, M dan ibunya akan dibunuh. “Korban masih anak-anak. Benar-benar tidak berdaya,” kata Nurhayati.

Beberapa hari kemudian, percabulan berlanjut. Naik tingkat jadi persetubuhan. Bisa juga disebut pemerkosaan. D memperkosa M. Lagi-lagi disertai ancaman D terhadap M.

Setelah itu persetubuhan D terhadap M berlanjut rutin. Selama dua tahun. “Korban tidak berani menceritakan kejadian ini, karena diancam. Juga, dia tidak mengerti bahwa tindakan ayah tirinya melanggar hukum,” tutur Nurhayati.

Baca Juga:

Kebejatan ini terungkap gegara S, ibu kandung M, membaca WA suaminya. Inti tulisan dalam WA, memaksa M melakukan hubungan seks seperti biasanya. Diduga, karena ada penolakan dari M.

Setelah S membaca WA tersebut, dia konfrontir ke anak gadisnya. Sehingga M mengakui semua yang terjadi. Jumlah persetubuhan tidak terhitung oleh M. Karena sudah berlangsung rutin selama dua tahun.

Meledaklah amarah S. Akhirnya S dan D bercerai. Kemudian S menyerahkan kasus ini kepada pengacara Nurhayati.

Problemnya, menurut Nurhayati, Polres Depok belum memproses kasus hukum ini. Meskipun sudah dilaporkan ke Polres Depok. “Pelaku belum dipanggil,” ujarnya.

Menurut Nurhayati, polisi mengatakan, baru akan menangkap D, setelah hasil visum menunjukkan M sebagai korban pencabulan D.

“Sampai saya minta untuk menahan pelaku malam ini, mereka (Polresta Depok) tetep enggak mau. Karena visum belum keluar alasannya. Saksi yang melihat enggak ada, hanya saksi korban,” ujarnya.

Kasus hukum sejenis ini di Indonesia sangat banyak. Bertumpuk. Menimpa masyarakat miskin yang berpendidikan rendah. Tapi, jadi sulit diproses hukum. (*)