Ilustrasi botol air

@Rayapos | Jakarta – Air minum menjadi kebutuhan wajib dalam kehidupan manusia. Tak bisa dipungkiri, air minum kemasan juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Selain praktis karena tak membuat orang repot harus membawa-bawa air dari rumah, air kemasan yang mudah didapat dimana saja juga tersedia dalam berbagai merk dan ukuran dengan berbagai harga terjangkau.

Namun kemudahan ini bukan tanpa risiko, sebagian orang dan beberapa organisasi mulai menyadari efek yang ditimbulkan oleh pemakaian air minum dalam kemasan terutama botol plastik yang digunakan, apalagi secara berulang. Tidak hanya mengganggu keseimbangan lingkungan, penggunaan botol plastik juga dapat membahayakan kesehatan Anda.

Baca juga: Arti Kode PLU di Buah-Buahan Impor yang Perlu Diketahui

Pernahkah Anda melihat label “BPA Free” pada botol plastik? Bisphenol A atau biasa dikenal sebagai BPA banyak ditemukan pada produk plastik padat, pelapis pada kemasan kaleng makanan atau susu formula, bahkan bagian yang licin pada struk belanja Anda (BPA berfungsi untuk menstabilkan tinta yang tercetak di kertas struk). Tujuan digunakannya BPA adalah untuk mengeraskan plastik agar bisa dibentuk, dan praktik ini sudah berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya.

Tidak hanya kandungan kimia yang terdapat di dalamnya, botol plastik cenderung menjadi sumber bakteri. Ini terutama dikarenakan penggunaan berulang kali yang kurang memperhatikan kebersihan botol. Anda mungkin merasa botol hanya berisi air saja dan tidak perlu dicuci karena tidak kotor, padahal hal ini ternyata dapat memicu pertumbuhan bakteri dalam botol.

Kontaminasi bakteri tersebut akan semakin parah jika botol plastik yang Anda gunakan adalah botol plastik yang berasal dari air minum dalam kemasan, di mana sebenarnya jenis botol tersebut tidak disarankan untuk dipakai berulang kali. Semakin sering digunakan, semakin besar kemungkinan bakteri dapat berkembang biak, bahkan meningkatkan risiko menipisnya lapisan botol plastik sehingga memungkinkan rusaknya lapisan botol dan pada akhirnya memudahkan bakteri masuk ke dalam botol.

Baca juga: Mengapa perokok pasif lebih berbahaya?

Biasanya, pada botol plastic terdapat simbol yang menunjukan jenis plastik yang digunakan.

  • Botol berlabel 1 (PET atau PETE) merupakan botol plastik yang jernih, transparan atau tembus pandang. Botol jenis ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Sebab saat terkena oksigen atau suhu tinggi termasuk terpapar sinar matahari, botol plastik akan mengeluarkan zat beracun yang dapat masuk ke dalam air.Padahal jenis botol inilah yang biasa digunakan khalayak umumsecara berulang kali sebagai wadah air minum.
  • Hindari botol dengan kode atau berlabel 3 atau 7 (PVC dan PC) karena bahan kimia pada botol plastik ini dapat menembus ke dalam makanan dan minuman Anda.
  • Botol berlabel 2 atau 4 dan 5 (polietilen dan polupropilena) bisa di gunakan secara berulang. Botol plastik dengan label ini cukup aman jika digunakan untuk menyimpan air berulang-ulang.

Perlu diketahui, botol berkode PET memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang bagi perempuan, terutama pada kelompok usia produktif dan anak-anak. Beberapa gangguan kesehatan seperti gangguan perkembangan, kekebalan tubuh, meningkatkan tingkat keguguran, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah. Selain itu, BPA pada botol bertindak sebagai faux-estrogen dan dapat menyebabkan kelainan kromosom, cacat lahir dan cacat perkembangan di dalam rahim dan masa kanak-kanak.

Selain bahaya kesehatan, penggunaan botol plastik juga sangat berdampak buruk bagi lingkungan karena bahannya yang tidak mudah hancur dan dapat mencemari lingkungan. Setiap tahunnya, lebih dari 8 juta ton plastik mencemarilaut dan merusak ekosistem. Bahkan telah disebut-sebut bahwa plastic sebagai penemuan paling buruk dalam sejarah manusia.

BAGIKAN