Baju adat Jokowi dan pesan bergaya interaksi simbolik

rayapos.com - Baju adat
Jokowi Pakai Baju Adat Bugis Foto : Rakyatku News

@rayapos | Jakarta: Ada hal luar biasa yang terlihat dalam rangkaian sidang tahunan MPR 16 Agustus di Senayan dan upacara bendera memperingati HUT RI Ke-72 di istana negara.

Pada dua acara kenegaraan itu Presiden Jokowi menggunakan baju adat khas Bugis dan baju adat Banjar, Kalimantan Selatan.

Dalam ilmu komunikasi dikenal teori interaksi simbolik. Teori yang dicetuskan George Herbert Mead ini singkatnya menyatakan bahwa orang bisa berinteraksi dan menyampaikan pesannya kepada orang lain secara non verbal melalui simbol-simbol yang mengandung makna. Setiap tindakan orang bisa memiliki pesan simbolik yang ingin disampaikan supaya dimaknai oleh orang lain.

Tindakan Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Bugis dan Banjar itu setidaknya memiliki tiga pesan simbolik yang ingin disampaikan kepada publik.

_Pertama,_ Jokowi mengajak masyarakat untuk menghargai budaya bangsa. Budaya Indonesia itu sangat kaya dengan keragaman. Rakyat Indonesia bukan hanya perlu menghargai tapi harus bangga dengan budayanya. Kembali ke akar budaya bangsa yang penuh kearifan dan keluhuran pekerti.

_Kedua,_ budaya itu adalah identitas diri, identitas bangsa. Jokowi seakan berkata bahwa budaya kita adalah identitas diri kita. Kita ada karena budaya. karakter kita sebagai bangsa dibentuk oleh budaya. Kearifan budaya menempa karakter manusia Indonesia menjadi santun, ramah, rendah hati, pemaaf tapi pada saat yang sama tegas dan berani. Itulah identitas dan jati diri kita sebagai bangsa.

Jadi jangan melupakan siapa kita, identitas kita. Identitas kita adalah budaya kita. Kita bukan bangsa yang beringas, pemarah, pendendam dan gemar bertikai. Sifat seperti itu bukan bagian dari budaya kita. Karena kita adalah Indonesia, bukan India, Arab apalagi Barat.

_Ketiga_, empati dengan budaya daerah lain di Indonesia. Belajar menempatkan diri seolah berada dan menjadi bagian dari budaya daerah lain. Empati budaya menyebabkan orang dapat memahami dan menerima perbedaan serta keunikan budaya yang berbeda dengannya.

Empati budaya menghasilkan pribadi yang toleran, welas asih dan mudah menerima sesamanya sekalipun berbeda adat kebiasaan, suku, perangai bahkan berbeda agama dan kepercayaan.

Empati budaya menghasilkan masyarakat beradab yang menjadikan keragaman budaya sebagai kekuatan dan modal sosial untuk membangun bangsa.

Itulah tiga hal yang bisa dimaknai dari pesan simbolik Jokowi yang memakai pakaian adat Bugis dan Banjar yang notabene bukan sukunya.

Selain itu, karena Bugis dan Banjar secara geografis berada di timur Indonesia, Jokowi seakan memberi isyarat untuk memberi prioritas bagi pembangunan Indonesia bagian timur. Sebagai orang dari Indonesia Timur, tentu saya bangga dengan pesan simbolik Jokowi. Semoga Jokowi benar-benar memberi perhatian khusus bagi pengembangan kesejahteraan rakyat di timur Indonesia.

Tapi yang terpenting adalah, mari kita rayakan kemerdekaan RI Ke-72 ini dengan semakin menghargai budaya nusantara, memperkuat identitas kebangsaan dan memiliki empati budaya yang tinggi. Karena kita Indonesia, kita beragam budaya yang dirajut menjadi satu.

Merdeka!

Baca Juga : Indonesia adalah keberagaman budaya yang dirajut menjadi satu

Penulis: Yerry Tawalujan M.Th, adalah Koordinator dari organisasi Forum Kita Semua Bersaudara. Ia juga aktif sebagai pemerhati berbagai isu kebangsaan terkini. Bersama keluarga, ia berdomisili di Jakarta. Ia juga merupakan pendiri dan Ketua Umum dari 2 LSM Pariwisata: Duta Wisata Sulut dan Gerakan Nasional Sadar Wisata/GERNASTA)

Comments

comments