Diskusi publik. Dari kiri, Yose Rizal Damuri SE Ph D, Prof Ahmad Erani Yustika, Redaktur Pelaksana Infobank Sudarto, dan moderator Arys Aditya. Foto: Muhammad Agus Jauhari

@Rayapos | Jakarta – Pembangunan infrastruktur yang jadi fokus pemerintah, sudah menunjukkan hasil. Ekonomi kerakyatan tumbuh signifikan. Justru masyarakat daerah-daerah terpencil memetik manfaat.

Demikian kata pakar ekonomi Prof Dr Ahmad Erani Yustika dalam diskusi publik “Perkembangan, Tantangan dan Prospek Ekonomi Indonesia”.

Diskusi digelar Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) di Hongkong Cafe Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Selain Prof Erani, pembicara lain Yose Rizal Damuri SE Ph D, Kepala Departemen Ekonomi CSIS, dan Sudarto, Redaktur Pelaksana Majalah Infobank. Dipandu moderator Arys Aditya.

Dijelaskan Erani, dari sekitar 75.000 desa di Indonesia, pemerintah sudah membangun jalan di sekitar 35.000 desa. “Hampir separo desa di Indonesia sudah dibangunkan jalan,” kata Erani.

Dampaknya luar biasa. Wilayah yang semula terisolir, kini jadi terbuka. Mobilitas masyarakat naik drastis. Dan, perekonomian kerakyatan melonjak.

“Contoh saja, desa-desa di Kabupaten Donggala (Sulawesi Tengah) warganya menanam pohon salak,” katanya.

Dulu, warga kesulitan menjual hasil panen salak. Karena tidak ada akses jalan. Jangankan mobil, motor pun tidak bisa masuk ke kebun-kebun salak. “Maka, petani menjualnya di kebun,” ujarnya.

Jika memaksa menjual ke pusat desa, petani harus memanggul salak, berjalan kaki menuju pusat desa untuk menjualnya. Bahkan, banyak salak yang membusuk karena tidak terangkut.

Kini jalan-jalan desa sudah dibangun. Apa hasilnya? “Penghasilan petani naik dua kali lipat banding sebelumnya,” tuturnya.

Itu memang tidak mewakili seluruh petani Indonesia. Namun, rata-rata penghasilan petani naik dua kali lipat akibat pembangunan jalan desa.

Tapi, karena Prof Erani kini Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi, dia merasa tidak fair jika dia yang mengatakan dampak positif pembangunan infrastruktur terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

“Silakan lembaga independen yang menilai. Tapi, jelas pembangunan infratsruktur selama empat tahun terakhir ini meningkatkan pendapatan ekonomi rakyat,” tuturnya.

Baca Juga:

Maia Estianty Menikah: “Welcome to My Family, Dad…”

PA 212 Kembali Gelar Aksi Bela Tauhid Jilid II, Ini Alasannya

12.783 Kilometer Jalan Sudah Dibangun

Presiden Jokowi dalam pidato RUU APBN 2019 di Sidang Tahunan DPR, beberapa waktu lalu memaparkan, pemerintah sudah membangun belasan ribu kilometer jalan sejak 2015 hingga kini.

Tepatnya: “Sejak tahun 2015 hingga sekarang, Pemerintah telah membangun jalan, rekonstruksi, dan pelebaran jalan nasional sepanjang 12.783 kilometer,” papar Presiden Jokowi di DPR, Jakarta, 16 Agustus 2018.

Juga sudah dibangun: “11 bandara baru, dan dari tahun 2016 sampai 2017 sudah dibangun sekitar 369 kilometer spoor rel kereta,” tuturnya.

Jokowi mengatakan, pemerintah yang dipimpinnya juga fokus menyediakan memberikan penjaminan pada program pembangunan infrastruktur energi prioritas.

Misalnya, pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap 1, infrastruktur digital berupa akses internet di daerah non-komersial dan broadband di desa.

Ada juga penjaminan program penyediaan air minum kepada 11 PDAM, serta penjaminan program kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha.

“Di sisi lain, dalam rangka menyediakan perumahan bagi masyarakat, Pemerintah telah memfasilitasi kepemilikan 781 ribu unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, melalui dana bergulir, subsidi bunga, bantuan uang muka, dan insentif perpajakan,” katanya. (*)