Ilustrasi. Foto: Instagram/bppmbalairung

@Rayapos | Jakarta – Mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) Agni (nama samaran) diperkosa mahasiswa UGM berinisial HS. Perkosaan terjadi pertengahan 2017 saat mereka KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Pulau Seram, Maluku.

Meskipun pemerkosaan (pelaku dan korban sesama Fakultas Teknik) terjadi sudah lebih dari setahun, tapi baru sekarang merebak ke publik. Ibarat bau busuk yang sulit dibendung.

Kasus ini merebak ke publik, setelah diungkap persma kampus UGM, Balairungpress. Media massa internal kampus itu memuat artikel berjudul ‘Nalar Pincang UGM Atas Kasus Perkosaan’.

Di situ, Agni curhat sebagai korban pelecehan seksual oleh rekan KKNnya, HS, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2014. Hebatnya, HS masih kuliah di UGM sampai sekarang. Dan hampir lulus.

Akibat perkosaan, Agni mengalami depresi berat. Orang tuanya meminta bantuan Pusat Pengembangan Sumber Daya untuk Penghapusan Kekerasan Perempuan Rifka Annisa.

Direktur Rifka Annisa, Suharti, dalam siaran persnya kepada wartawan. Kamis (8/11/2018) menyatakan:

“Rifka Annisa melakukan pendampingan pada penyintas (korban) sejak September 2017 setelah penyintas datang untuk mengakses layanan di kantor Rifka Annisa.”

“Berdasarkan assesment awal, penyintas berada dalam kondisi depresi berat. Sehingga fokus utama pendampingan Rifka Annisa adalah pemulihan kondisi psikologis dan menciptakan rasa aman bagi penyintas,” jelasnya.

Rifka Annisa pun mendorong keadilan pada korban terutama penyelesaian secara hukum.

Pihaknya juga telah menyampaikan hak-hak korban dan mendiskusikan alternatif penyelesaian melalui jalur hukum.

Namun sering terjadi dalam kasus kekerasan seksual terjadi kendala-kendala dalam pemenuhan hak dan keadilan korban.

“Pada akhir 2017, Rifka Annisa telah menjalin koordinasi dengan tim Fisipol UGM untuk penyelesain terbaik kasus itu,” tulisnya.

Dilanjut: “Kami mendorong pihak kampus menyusun sistem penyelesaian kekerasan di lingkungan kampus yang berbasis pada perlindungan dan pemenuhan hak-hak korban.”.

Setelah itu, barulah pihak UGM merespons. Membentuk panitia, tim investigasi. Semacam Tim Pencari Fakta. Kemudian menghasilkan banyak rekomendasi.

Sementara dengan kembali mencuatnya pemberitaan kasus ini, pihaknya menjelaskan, menjadi indikasi penyelesaian internal UGM belum memenuhi rasa keadilan.

Terbukti, korban Agni pertama kali melapor ke pihak UGM, beberapa saat setelah diperkosa. Akibat laporan itu, maka nilai KKN Agni diberi nilai C. Beberapa waktu kemudian nilai langsung diubah jadi A/B. Sangat gampang berubah.

“Mendorong kampus agar memiliki sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus yang menjamin keamanan korban, memberi perlindungan, memenuhi hak-hak, dan rasa keadilan bagi korban,” pungkasnya.

Baca Juga:

Aktivis Nilai Kondisi Politik Nasional Semrawut, Berpotensi Perpecahan

Politik Aliran Mendominasi, Akankah Indonesia Bernasib Seperti Suriah?

Habib Rizieq Curiga Ada Intel Busuk Indonesia yang Jebak Dirinya

Klarifikasi Pihak UGM

Sebelumnya, Dekan Fakultas Teknik UGM, Nizam saat dihubungi wartawan mengatakan kampus tidak pernah tinggal diam terkait kasus pelecehan seksual itu.

Meskipun, kejadian sudah setahun lebih dan terduga pelaku pemerkosaan masih tetap kuliah di UGM.

Menurut Nizam, pihak kampus sudah membentuk tim investigasi independen. Tim Pencari Fakta. Menghasilkan banyak rekomendasi.

“Sebetulnya itu sudah ditindaklanjuti. Itu kan kejadian tahun 2017 dan dibentuk tim oleh UGM yang intinya sudah ada sanksi pembatalan KKN dan mengulang KKN. Tim independen di tingkat universitas untuk mencari masalah dan solusi terbaik yang berkeadilan,” kata Nizam, Rabu (7/11/2018).

Hanya saja jika korban merasa belum mendapatkan keadilan, Nizam setuju bahwa jalan terakhir adalah dengan menempuh jalur hukum.

Nizam menyayangkan pemberitaan Balairungpress (persma kampus) yang memuat berita ini, seolah-olah kampus melakukan pembiaran.

Nizam mengklarifikasi bahwa dirinya selalu terbuka pada semua pihak, termasuk Balairungpress.

“Saya terus terang menyayangkan media internal diblowup dan seolah-olah ada pembiaran padahal sama sekali tidak,” tegasnya.

Meskipun kejadian pemerkosaan sudah setahun lebih, dan terduga pelakunya masih tetap kuliah. (*)

BAGIKAN