Ini hanya contoh, bayi mata satu. Kondisi bayi itu seperti ini. Disebut cyclops syndrome. Foto: Medical King - Educational Case Studies

@Rayapos | Medan – Bayi perempuan bermata satu, tanpa hidung, lahir di Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis (13/9/2018) kemarin. Kini dirawat di RSU Panyabungan.

Ibunya Surianti. Kini syok berat. Bayi itu anak ke lima, lahir sesar, kemarin siang. Orang tuanya kabur-kaburan. Mungkin bingung atau malu.

Syarifuddin Nasution, dari Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal, sudah menengok bayi tersebut. “Semoga orang tuanya tabah,” ujarnya.

Sebab, menurutnya, dokter sudah mengatakan, biasanya bayi seperti ini usianya tidak lama. Dasarnya, sering terjadi di berbagai tempat.

“Kata dokter, penyebabnya bisa karena obat-obat yang dikonsumsi si ibu. Bisa juga karena virus,” ujar Syarifuddin.

Bayi seperti ini pernah dilahirkan di Pangkalpinang, Bangka Belitung, 5 April 2016. Bayi laki-laki berat 1,5 kg ini, hanya memiliki satu mata dan tidak punya hidung.

Dan saat dilahirkan kondisinya sudah meninggal dunia.

Pada 12 Juni 2015 di Pustu Avona, Teluk Etna, Kaimana, Papua Barat, juga lahir bayi lelaki serupa. Itu diposting di Facebook oleh Anugrah, seorang tenaga kesehatan yang membantu kelahirannya.

“Anak itu prematur. Di pedalaman tidak ada inkubator. Dia meninggal dua jam setelah dilahirkan,” ucap Anugrah.

Baca Juga:

DKI Jakarta Paling Banyak Pekerjakan PNS Terpidana Korupsi

Sandiaga: Erick Thohir Nangis di Sebelah Saya

Mau Foto dengan Trump, Segini Tarifnya..

Penyebabnya Beragam

Bayi lahir bermata satu, bahasa medik disebut cyclops syndrome. Peneliti LIPI, Anang Setiawan Achmadi, menyebut, bayi seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama.

“Karena beberapa bagian tubuhnya tidak sempurna, biasanya fungsi beberapa organ tubuh tidak bisa berjalan normal. Dia akan cepat mati,” katanya.

Penyebabnya kompleks. Salah satunya radiasi. Artinya, ibu bayi itu pernah terpapar radiasi ketika hamil.

Ada pula faktor genetik. “Secara herediter, faktor resesifnya yang muncul,” kata Anang.

Bisa juga, si ibu terpapar zat kimia saat hamil. “Pengaruh obat berlebihan. Misalnya obat untuk kehamilan yang bersifat kontradiksi,” katanya.

Tiadak tertutup kemungkinan, si ibu punya pengalaman traumatis saat masa kehamilan. “Jadi penyebabnya kompleks,” kata dia.

Laman Mirror, Rabu (7/10/2015), memberitakan, cyclopia terjadi ketika proses pembentukan embrio kedua mata tidak bisa terpisah. Sehingga bergabung saat lahir.

“Paparan radiasi dalam rahim atau kombinasi obat-obatan yang berbeda yang dikonsumsi selama kehamilan bisa menjadi pemicunya,” ujar Dr Ahmed Badruddin.

Ahmed menuturkan, banyak bayi dengan kondisi ini juga memiliki cacat jantung. Sehingga mereka hanya hidup beberapa hari.

Ada jurnal “Cyclopia: An Epidemiologic Study in a Large Dataset From the International Clearinghouse of Birth Defects Surveillance and Research”. Dipublikasikan Oktober 2011.

Di situ disebutkan, pernah ditemukan sebanyak 257 kelahiran bayi dengan kondisi cyclopia. Kemungkinan terjadi pada 1 dari 100.000 kelahiran bayi. (*)