Ilustrasi fobia sosial

@Rayapos | Jakarta – Sebagian orang pasti pernah merasakan malu pada kondisi atau momen tertentu. Misalnya, ketika seorang anak pertama kali harus berbicara di depan kelas, atau ketika seseorang harus naik ke panggung untuk berbicara di depan publik, bahkan rasa malu juga dirasakan saat pertama kali bertemu dengan orang baru.

Rasa malu ini sebenarnya merupakan hal yang wajar-wajar saja. Tak ada yang salah dengan itu selama tidak berlebihan apalagi membuat gugup dan seakan takut untuk berinteraksi.

Tetapi, jika Anda merasakan kondisi malu dan gugup berlebihan yang cenderung membuat gelisah dan merasa cemas, hal itu biasa disebut sebagai gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial (Social Anxiety Disorder).

Fobia sosial adalah suatu kondisi kesehatan mental kronis ketika interaksi sosial menyebabkan kecemasan irasional. Fobia sosial dapat menyebabkan gangguan seperti merasa ketakutan yang berlebih, ketidaknyamanan serta selalu gelisah ketika berada di dalam sebuah lingkungan sosial.

Bagi beberapa orang dengan fobia sosial akut, interaksi yang dilakukan setiap hari justru bisa membuat menderita. Mereka akan selalu merasakan kecemasan irasional dan dibayangi perasaan takut dan malu karena memikirkan pendapat orang lain. Gangguan ini juga erat kaitannya dengan perasaan ditolak atau ketakutan ditatap orang lain.

Lalu bagaimana membedakan si pemalu dengan fobia sosial?

Selama ini, perlakuan terhadap dua kondisi tersebut masih tumpang tindih. Padahal, keduanya adalah kondisi yang berbeda. Fobia sosial atau gangguan kecemasan seringkali dipahami sebagai perasaan malu yang ekstrem, nyatanya tidak demikian.

Perbedaan pemalu dan fobia sosial sebenarnya bisa dilihat dari gejala fisik, seperti gugup dan stres. Orang pemalu pada umumnya tidak akan mengalami stress parah. Contoh kasusnya, ketika si pemalu ini diminta untuk berbicara di depan publik, perasaan gugup dan gemetar hanya terjadi saat itu saja.

Sementara orang yang menderita fobia sosial akan merasakan gejala seperti rasa takut berlebihan terhadap penilaian orang lain, khawatir tentang rasa malu atau penghinaan, atau khawatir akan menyinggung seseorang. Untuk fobia sosial kronis dapat merasakan kondisi ini bertahun-tahun atau seumur hidup.

Orang dengan fobia sosial sering berlebihan dalam menganalisa hal-hal yang sudah dilakukan serta menilai negatif pada dirinya sendiri. Gejala fobia sosial sendiri bisa terlihat sejak usia dini. Tapi sayangnya, tidak sedikit yang meremehkan gejala gangguan ini dan akhirnya jadi tidak terdiagnosa.

Untuk mengatasi kecemasan sosial ini, dibutuhkan diagnosa oleh tenaga medis professional. Terapi bicara dan antidepresan dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.

BAGIKAN