Disain: MerconMotor

@Rayapos | Jakarta – Pola kriminalitas jalanan Jakarta berubah. Dulu, pelaku merampas sambil mengancam korban. Sekarang serang korban, baru merampas barangnya. Itu terjadi di begal motor bertopi miring di Jalan Pesanggrahan, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (15/8/2018).

Dalam peristiwa itu, korban Muhammad Syahril (20) nyaris ditebas golok. Pelaku empat orang naik dua motor.

“Mereka membawa golok, leher saya nyaris ditebas. Salah seorang pelaku kemudian mengayunkan golok ke leher saya,” cerita Syahrir kepada Rayapos.com, Rabu (15/8/2018).

Untungnya, Syahrir masih diberi kesempatan hidup. “Salah seorang pelaku lainnya menepis golok tersebut, dan melarang rekannya melukai saya,” ungkap Syahrir. Dia pun selamat.

Tapi, motornya Honda Beat nomor B-3879-SWD dicolong pelaku. “Para pelaku seusia saya, pakai topi miring kayak rapper gitu. Saya tidak lihat jelas wajahnya, karena gelap,” tuturnya. Kejadian sekitar pukul 03.45, Rabu (15/8/2018).

Kini polisi masih memburu para pelaku. Kanit Reskrim Polsek Kembangan, Inspektur Satu Dimitri Mahendra mengatakan: “Masih kami dalami,” ujarnya, Rabu, (15/8/2018).

Syahrir masih selamat. Pola kriminalitas jalanan di Jakarta kini adalah: Serang korban, kemudian rampas barangnya. Dan, polisi bertindak tegas. Bila pelaku melawan, langsung tembak di tempat.

Baca Juga:

Tim Basket Putri Indonesia Dibungkam Korea Bersatu 40-108

Sepakbola Asian Games: Indonesia Dikalahkan Palestina 2-1

Mahfud Analisis Jokowi, Begini…

Perubahan pola kriminalitas jalanan dijelaskan Kabid Humas Polda Metro, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono. “Pola kejahatan jalanan sekarang cenderung sadis,” katanya kepada wartawan, belum lama ini.

Dijelaskan, kini kejahatan jalanan seperti jambret dan begal, tak segan melukai korban. Sekitar lima tahun silam tidak seperti ini.

“Ada aturan non formal di kalangan pelaku perampokan: Kamu jangan melukai korban yang tidak melawan. Itu ada aturan tidak tertulis mereka,” tuturnya.

“Dulu, misalkan serahkan handphone, (diberikan). Sudah, begitu saja. Bukan dibacok dulu, ditembak dulu, baru diambil. Tidak seperti itu,” katanya.

Kebutuhan merampok zaman dulu pun berbeda dengan sekarang. Argo menjelaskan, dulu perampokan karena faktor ekonomi yang kurang. Untuk memenuhi biaya hidup.

“Dulu sebagian orang merampok, mengambil barang (orang lain) untuk makan, untuk hidup, bukan untuk bunuh untuk bacok. Sekarang berbeda,” ucapnya.

Perubahan pola, menurut Argo, dipengaruhi penggunaan narkotika. Hal tersebut diketahui usai dilakukan tes urine kepada para pelaku tertangkap. Juga pengaruh minuman keras.

“Lima tahun sekarang ini berubah, karena narkoba. Kami selalu tes urine, hasilnya (positif) narkotika dan miras,” kata Argo.

Sejumlah kasus perampokan dengan kekerasan hingga mengakibatkan tewas korban memang telah terjadi belakangan.

Di antaranya, jambret di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pelaku S terhadap korban W, penumpang ojek online. W tewas, jatuh dari motor.

Juga, perampokan di Cipondoh, Tangerang. Dua pelaku menembak korban perempuan hingga tewas. Kemudian motor korban diembat. (*)

BAGIKAN