Ilustrasi

@Rayapos | Semarang – Air rebusan pembalut bekas wanita dijadikan pengganti narkoba, karena murah. Barang sampah itu menghilangkan peran pengedar. Tapi, tingkat bahayanya naik.

Fenomena ini ditemukan Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Jateng. Menurut Kabid Berantas BNNP Jateng, Suprinarto, pihaknya mendapat laporan hal itu dari masyarakat.

“Informasi penggunaan pembalut wanita bekas di daerah Kudus, sekitar 3 bulan yang lalu,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (7/11/2018).

Selanjutnya, adanya laporan tersebut langsung dikoordinasikan dengan psikolog yang telah berkerjasama dengan BNNP Jateng.

Hasilnya sangat mengejutkan. Ternyata informasi tersebut benar.

“Seorang yang ditangani mengaku menggunakan pembalut yang direbus. Jadi setelah direbus didiamkan sesaat, kemudian saat dingin baru diminum,” katanya.

Prosesnya, pembalut bekas wanita direbus sampai mendidih.

Setelah mendidih, api kompor dimatikan. Air rebusa di panci dibiarkan terbuka. Sampai dingin.

Setelah airnya dingin, pembalut wanitanya dibuang. Tinggallah sisa air yang berwarna kekuningan. Air ini dituang dalam botol. Siap diminum, membuat mabuk, mirip mabuk narkoba.

Itu dari pengakuan salah satu pengguna, yang kini ditangani psikolog, Suprinarto menjelaskan mereka mengkonsumsi secara bersama-sama dengan teman-temannya.

Alasan mereka menenggak cairan tersebut bertujuan supaya nge-fly alias mabuk.

“Efek ngeflay seperti orang setelah menggunakan narkotika jenis sabu atau narkoba yang lain. Rata-rata mereka anak remaja, usianya 13 sampai 16 tahun,” bebernya.

Menurutnya, fenomena anak jalanan ini seperti halnya mabuk dengan cara menghisap lem. Bahkan, bahan ini lebih murah dibanding lem.

“Mereka ini awalnya coba-coba. Dari salah satu kelompok ini juga ada yang ikut dengan kelompok-kelompok lain, sehingga kemudian menyebar,” ujarnya.

Menurutnya, mabuk jenis ini bukan hal baru. Di Jogjakarta dan Karawang, Jawa Barat sudah sejak 2015. Di Bangka Belitung sejak 2016.

“Belakangan ini ditemukan di Kudus. Menurut pengguna yang tertangkap, sudah digunakan di Pati, Juana dan Rembang. Mungkin Semarang hya,” tegasnya.

Suprinarto belum mengetahui kandungan zat di bahan tersebut.

“Menurut mereka, pembalut yang berbentuk sayap lebih manjur. Karena ada kandungan gel,” ujarnya.

Baca Juga:

Pakar Kimia: Air Pembalut Wanita Mens, Dahsyat…

Sofyan Djalil Janjikan Seluruh Tanah Jakarta Terdaftar di PTSL

‘Bau Busuk’ Perkosaan Mahasiswi UGM Kian Merebak

Apakah pengguna bisa dihukum? Masih belum diatur. “Kecuali dijual, bisa dihukum,” tegasnya.

Penanggulangan pengguna, tidak mampu ditangani BNN sendiri.

“Departemen sosial, apa kesehatan bisa mengantisipasi seperti ini. BNN hanya memberikan informasi. Sebenarnya ini bukan ranah kita,” katanya.

Pengguna kini menjalani rehabilitasi. Namun, dia enggan membeberkan tempat rehabilitasinya.

“Mereka anak jalanan. Sebetulnya urusan departemen sosial,” pungkasnya. (*)

Simak videonya di sini:

BAGIKAN