Uus Sukmana, pembawa bendera HTI (kiri) dan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna. Foto: Dok Istimewa

@Rayapos | Jakarta – Polisi akhirnya menemukan pembawa bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dikibarkan saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat. Dia diamankan di Bandung.

Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto saat ditemui wartawan di Mabes Polri, Kamis (25/10/2018) mengatakan:

“Tadi siang sekitar pukul 13.00 WIB, Tim Polda Jabar sudah berhasil menemukan yang bersangkutan. Yang bersangkutan bernama Uus Sukmana, berasal dari Desa Cibatu, Garut.”

Dilanjutkan: “Dan, ditangkap di Jalan Laswi, Bandung, di tempat kerja. Dia bekerja di toko bangunan (material),” sambung Arief.

Dalam foto, tampak Uus sedang duduk berdampingan dengan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna.

Uus kemudian dibawa untuk diperiksa. Statusnya masih sebagai terperiksa.

Polisi masih menggali alasan Uus membawa dan mengibarkan bendera organisasi yang sudah dilarang di Indonesia. Polisi memastikan Uus bukan santri yang diundang dalam acara tersebut.

Baca Juga:

Video… Jantung Manusia di Jatuhnya Gulungan Baja 25 Ton di Pluit

Prabowo Sebut 99% Rakyat Indonesia Hidup Pas-Pasan, Begini Respon BPS

PKS Belum Ikhlas Kursi Wagub DKI Diberikan ke Gerindra

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Umar Fana kepada wartawan, Kamis (25/10/2018) mengatakan:

“Amat sangat bisa dipastikan (bukan santri undangan). Kalau ada orang yang nggak diundang dalam suatu acara, terus dia datang dan bawa sesuatu yang sudah dilarang, nama yang cocok apa?”

Hasil gelar perkara kepolisian, Uus terancam Pasal 174 KUHP.

“Patut diduga telah melanggar Pasal 174 KUHP,” kata Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto.

Pasal 174 KUHP berbunyi:

Barang siapa dengan sengaja mengganggu rapat umum yang tidak terlarang dengan mengadakan huru-hara atau membuat gaduh,

Dihukum selama-lamanya tiga minggu atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900.

Hukuman, termasuk denda, yang pada zaman sekarang kelihatan tidak berarti. Sebab, ini KUHP warisan lama.

Dalam dokumen juga tertulis, peristiwa pembakaran bendera HTI, tidak akan terjadi jika Uus tak membawa dan mengibarkan bendera tersebut.

“Tidak akan pernah terjadi insiden ini, jika tidak ada tindakan yang membawa bendera HTI,” tertulis dalam dokumen tersebut.

Seperti diketahui, pada peringatan Hari Santri Nasional di Garut pada Senin (22/10/2018) lalu terjadi peristiwa pembakaran bendera.

Polisi awalnya menahan 3 orang terkait pembakaran bendera ini. Mereka sempat diperiksa di Polres Garut dengan status saksi.

Namun ketiganya akhirnya dilepaskan karena tak ditemukan pelanggaran pidana.

Pembakaran bendera berkalimat tauhid yang dinyatakan sebagai bendera HTI terjadi dalam Apel Hari Santri Nasional (HSN) di Garut pada Senin (22/10/2018).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menjelaskan yang dibakar di Garut itu adalah bendera HTI.

Dalam banyak kegiatan, polisi juga mengamati HTI menggunakan bendera itu.

“Itu bendera HTI,” kata Dedi Prasetyo di Markas Besar Polri, Rabu (24/10/2018).

Sementara itu Gerakan Pemuda Ansor sebelumnya menegaskan bendera bertuliskan tauhid yang dibakar personel organisasinya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser), merupakan bendera HTI.

Meski begitu, GP Ansor menyesalkan pembakaran tersebut. Karena seharusnya bendera itu diserahkan kepada polisi.

Ansor juga meminta maaf bila kasus itu menimbulkan kegaduhan. (*)