BEI Beri Fasilitas Kepada Perusahaan Rintisan Untuk Kembangkan Bisnis

@Rayapos | Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan fasilitas kepada perusahaan rintisan (start up) yang ingin mengembangkan bisnisnya melalui pusat inkubator pasar modal.

“Di pusat inkubator itu, perusahaan start up akan diberikan pengetahuan mengenai akuntansi, mencari modal, serta memperkenalkan mereka dengan investor,” ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Kamis(26/1).

Ia mengharapkan bahwa dengan adanya fasilitas itu, perusahaan rintisan di Indonesia dapat mampu tumbuh dan berkembang yang akhirnya dapat didorong untuk mencatatkan sahamnya di BEI.

Ia mengemukakan bahwa di dalam inkubator itu dapat menampung sekitar 60 peserta program, dengan ketentuan maksimal tiga orang untuk setiap perusahaan. Sehingga minimal terdapat 20 perusahaan yang ikut dalam satu kali program di pusat inkubator pasar modal.

Ia menambahkan bahwa inkubator bagi perusahaan rintisan itu akan beroperasi pada Februari tahun ini. Setelah dibentuk di Jakarta, BEI akan menyasar kota-kota yang memiliki perusahaan rintisan prospektif lainnya, salah satunya di Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Bali.

Kepala Divisi Privatisasi, Start-Up, dan Foreign Listing BEI Saptono Adi Junarso menambahkan bahwa program itu dibuka untuk semua level, baik yang masih dalam bentuk persiapan ide, sampai perusahaan yang mengarah masuk ke pasar modal.

“Selain BEI, program ini juga mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), stake holder, emiten, dan profesi penunjang di pasar modal,” paparnya.

Mulai Senin pekan depan (30/1), lanjut dia, peserta program sudah bisa melakukan registrasi pendaftaran. Nantinya, peserta akan diberikan program pembinaan, meliputi mentorship, co-wokring space serta memberikan akses untuk mendapatkan pendanaan.

“Kami akan membuat event yang mempertemukan perusahaan dengan investor profesional,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya juga akan mengakomodasi perusahaan-perusahaan kreatif yang aset berwujud (tangible assets) tidak dapat diukur valuasinya.

“Valuasi kreativitas itu kan sekarang belum bisa dikapitaslisasi. Kita akan kerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) bagaimana mengkapitalisasi aset tidak berwujud (intangible assets),” ujarnya.[ant]

Comments

comments

LEAVE A REPLY