Presiden Jokowi di Lapangan Gasibu, Bandung

@Rayapos | Bandung – Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan bahaya berita hoax dan ujaran kebencian. Apalagi menjelang pilpres dan pemilu. Kali ini ia sampaikan itu di acara puncak HSN 2018 yang digelar di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (21/10/2018).

“Silakan beda pilihan tidak apa-apa. Tapi jangan sampai sesama muslim dan sebangsa senegara saling menjelekkan. Saya titip jangan mudah percaya hoax, berita medsos. Hati-hati sudah menjelang tahun politik banyak hoax, fitnah, kabar bohong. Tolong disaring benar atau tidak,” ujarnya di hadapan ribuan santri.

Baca juga:

Ahmad Dhani Dicegah ke Luar Negeri

Anies Ancam Walikota Bekasi: “Mau Baik-baik, atau Ramai di Media?”

Jokowi juga mengatakan, ulama dan santri berperan penting dalam menyaring ujaran kebencian serta mempersatukan bangsa.

“Sejarah mencatat ada peran besar ulama dan santri dalam menjaga pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bhineka tunggal ika, juga memandu kebaikan dan kemajuan bangsa,” ujar Jokowi.

Santri, kata Jokowi, adalah sebuah cermin generasi bangsa muslim yang memiliki akhlak yang baik sekaligus rasa nasionalisme. Hal itu sebagaimana ditauladani dari para kiai, ajengan dan ulama.

“Pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan, menyadarkan bahwa negara NKRI adalah rumah kita yang harus terus kita rawat dan jaga. Siapa yang menjaganya? Salah satunya santri,” katanya.

Ia bersyukur kultur pesantren di Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia sangat kuat dalam menjaga hubungan antar manusia dan juga pada Allah SWT.

Jokowi mengatakan Indonesia memiliki anugrah yang besar dari Allah SWT berupa keberagaman suku, bangsa, tradisi, bahasa hingga agama. Ia tak ingin keberagaman itu malah memecah belah bangsa.

“Kita sering lupa bahwa kita ini saudara sebangsa dan setanah air. Oleh karena itu dalam rangka menjaga rumah bersama, NKRI, marilah jaga persatuan,” ucapnya.

Bagi Jokowi, aset terbesar Indonesia adalah persatuan, persaudaraan dan kerukunan. Sehingga ia mengajak seluruh santri untuk menjaganya jangan sampai terjadi perpecahan dengan saling mencela, menjelekkan hingga menebar fitnah.

Menurutnya kebiasaan saling mencela bahkan fitnah kerap muncul menjelang pemilu baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi hingga presiden.