CEO Boeing, Dennis Muilenburg. Foto: Reuters

@Rayapos | Washington DC – Raksasa penerbangan Amerika Serikat, Boeing untuk pertama kalinya mengakui peran sistem anti-stall pada Boeing 737 MAX 8 dalam dua tragedi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dan Lion Air.

Seperti dilansir CNN, Jumat (5/4/2019), CEO Boeing, Dennis Muilenburg, menyampaikan pengakuan ini pada Kamis (4/4) waktu setempat.

Itu dalam pernyataan menanggapi laporan awal tragedi Ethiopian Airlines yang dirilis otoritas Ethiopia.

Dalam laporan itu, para penyidik Ethiopia mendapati bahwa sebuah sensor yang mengalami malfungsi dalam penerbangan Ethiopian Airlines bulan lalu.

Sensor telah mengirimkan data yang tidak benar kepada sistem kontrol penerbangan pada pesawat jenis 737 MAX 8 itu.

Disebutkan dalam laporan awal tersebut bahwa pilot Ethiopian Airlines ET 302 berjuang melawan sistem yang terus-menerus, secara otomatis, memposisikan hidung pesawat ke bawah — disebut nose-dive atau nose down — saat pesawat mengudara.

Sistem bekerja seperti itu karena merespons data yang salah dari sensor angle-of-attack, yang tampaknya menunjukkan pesawat bergerak terlalu ke atas dan berisiko mengalami posisi stalling.

Angle-of-attack atau AOA merupakan sudut yang terbentuk antara chordline (garis lurus antara ujung luar dan bagian dalam sayap) sayap dengan arah udara yang melewati sayap pesawat.

Masalah yang muncul dari Ethiopian Airlines mirip dengan masalah yang juga muncul dalam penerbangan Lion Air JT 610 yang jatuh pada Oktober 2018 lalu.

Kedua kecelakaan yang melibatkan pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 itu menewaskan total 346 orang.

Pekan lalu, Boeing mengumumkan pihaknya akan memperbaiki sistem anti-stall, yang juga disebut sebagai Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS).

“Tampaknya bahwa dalam kedua penerbangan (Ethiopian Airlines dan Lion Air), Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver, yang dikenal sebagai MCAS, aktif sebagai respons atas informasi angle-of-attack yang keliru,” sebut Muilenburg dalam pernyataan terbaru pada Kamis (4/4) waktu setempat.

Lebih lanjut, Muilenburg menyebut MCAS sebagai satu tautan dalam ‘rantai kejadian’ yang memicu kecelakaan tersebut.

“Menjadi tanggung jawab kami untuk menghilangkan risiko ini. Kami bertanggung jawab atas ini dan kami tahu bagaimana melakukannya,” tegasnya.

Diketahui bahwa proses sertifikasi Otoritas Penerbangan Federal (FAA) untuk update software MCAS telah dilakukan dalam prosedur yang terpisah dari review awal terhadap Boeing 737 MAX.

Boeing pertama kali mengajukan rencana sertifikasi untuk update software MCAS kepada FAA pada Januari 2019.

Sejak saat itu, FAA berpartisipasi dalam tes-tes simulasi untuk software terbaru tersebut. Pada 12 Maret 2019 FAA ikut serta dalam penerbangan sertifikasi Boeing untuk menguji software terbaru itu.

Update software MCAS akan menyertakan data dari sensor kedua dan tidak lagi mampu memicu angle yang tidak bisa dilawan secara manual oleh pilot.

“Update ini, bersamaan dengan pelatihan terkait dan material pendidikan tambahan yang diinginkan pilot setelah kecelakaan ini, akan menghilangkan kemungkinan aktivasi MCAS tanpa sengaja dan mencegah insiden terkait MCAS kembali terjadi,” tegas Muilenburg dalam pernyataannya. (*)

BAGIKAN