rayapos.com - Cambridge Analytica
Alex Stamos (Foto: Reuters)

@Rayapos | Jakarta – Boss Facebook bidang Keamanan Informasi, Alex Stamos, mengumumkan pengunduran dirinya pasca terkuaknya skandal Cambridge Analytica. Skandal tersebut membuat Facebook menghadapi krisis karena bocornya 50 juta data pengguna Facebook.

Dikutip dari The New York Times Rabu (21/3/2018), Alex Stamos disebut-sebut baru akan meninggalkan Facebook bulan Agustus mendatang.

Dilihat dari kicauannya di Twitter, Stamos mengatakan sampai hari ini ia masih bekerja di Facebook, tetapi di posisi yang berbeda.

“Meskipun ada desas-desus, saya masih terlibat sepenuhnya dengan pekerjaan saya di Facebook,” ujar Alex melalui akun Twitternya.

“Memang benar peran saya berubah. Saat ini saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi risiko keamanan yang muncul dan bekerja untuk keamanan saat pemilu,” lanjutnya.

Rencana hengkangnya Stamos dari Facebook telah menimbulkan banyak spekulasi yang mengindikasikan ada ketegangan antar pimpinan di perusahaan milik Mark Zuckerberg itu.

Baca juga : 
Zuckerberg Akui Facebook Salah Terkait Proteksi Data Pengguna
Mantan Pendiri WhatsApp Ajak #DeleteFacebook
Facebook Terdampak Skandal Cambridge Analytica

Menurut penuturan sejumlah karyawan, ketegangan tersebut bermula dari silang pendapat di antara para petinggi mengenai keterbukaan Facebook pada publik terkait pembahasan negara-negara yang mungkin menyalahgunakan serta mengintervensi media sosial ini.

Alex Stamos disebut-sebut sebagai pihak yang agresif ingin mengungkap keterlibatan Facebook di tengah isu campur tangan Rusia di Pemilu Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump.

Beberapa waktu lalu memang dikabarkan sebanyak 50 juta data personal pengguna Facebook dicuri dan disimpan firma analisis data Cambridge Analytica. Firma tersebut bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada pilpres 2016 lalu.

Bukan cuma Cambridge Analytica, data pengguna Facebook juga tersimpan dalam arsip Strategic Communications Laboratories (SCL).

Kedua perusahaan ini memang saling berafiliasi. Cambridge Analytica dan SCL diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook.

Dari 50 juta data pengguna Facebook yang berceceran di tangan pihak ketiga, 30 di antaranya sudah lengkap untuk memetakan data dan perilkau seseorang. Jika sudah begitu, privasi pengguna tak lagi menjadi tertutup.