Bung Karno: Gubernur Jakarta Itu Harus Seseorang Yang “Beetje Koppigheid”

rayapos.com - Bung Karno
Foto: Jurnal askatasuna – WordPress.com

@Rayapos | Jakarta: Dalam buku “Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang Manusiawi” karya Ramadhan K.H, dikisahkan Ali Sadikin penasaran pada alasan Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Gubernur Jakarta sampai kemudian dia menemukan jawabannya dari mulut Bung Karno langsung.

Begini dialog Bung Karno dengan Bang Ali seperti tertulis dalam buku itu, “Saya kira dalam hal mengurus Jakarta Raya ini baik juga een Beetje Koppigheid (sedikit keras kepala). Apalagi ndoro dan ndoro den ayu sudah tahu, tidak boleh membuang sampah semau-maunya di pinggir jalan, tapi masih banyak toh yang membuang sampah di pinggir jalan. Nah itu perlu dihadapi oleh yang sedikit keras, yang sedikit koppig.”

Bang Ali lalu mendapat cerita lain dari Dr. Johannes Leimena, Wakil Perdana Menteri, bahwa kepada Bung Karno sebenarnya sudah diajukan tiga nama, tetapi ketiganya ditolak.

“Saya perlukan orang yang keras, tegas, dan berani,” kata Bung Karno memberikan alasan.

Mengetahui kriteria itu yang disyaratkan Bung Karno, Leimena lalu menyodorkan nama Ali Sadikin. Cuma, kata Leimena kepada Bung Karno, “Ali Sadikin orang koppig, keras kepala.”  Ternyata, Soekarno malah tertarik kepada orang koppig ini.  Kata koppig kemudian diulang Bung Karno saat melantik Bang Ali pada 26 April 1966.

Sejarah kemudian mencatat kekeraskepalaan, keberanian, dan ketegasan Bang Ali telah mengubah Jakarta menjadi kota modern seperti sekarang dikenal. Sampai kini Bang Ali adalah gubernur yang paling dikenang di Jakarta. Bang Ali menjadi legenda dan teladan untuk generasi pemimpin daerah setelah dia.

Jakarta memang tidak seperti kota-kota besar lain di Indonesia yang relatif lebih homogen. Jakarta sangat heterogen sehingga nilai, latar belakang dan kebiasaan warganya yang berbeda-beda membuat mereka kerap bertabrakan sehingga kota ini menjadi terlihat lebih keras dan lebih kompetitif dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Kota ini keras karena berisi warga yang sulit diatur seperti disebut Bung Karno.

Ironisnya, jika menengok kiprah Bang Ali dan gubernur-gubernur setelahnya yang rata-rata keras kepala, termasuk Sutiyoso, warga Jakarta begitu mengenang pemimpin keras hati yang pernah memimpin mereka karena mereka mungkin sebenarnya membutuhkan orang keras untuk mendisiplinkan hidup mereka yang keras.

Warga Jakarta mungkin sebetulnya mendambakan pemimpin keras kepala dan berani menegakkan aturan agar kekerasan hidup mereka tidak merugikan mereka dan tidak mengacaukan tatanan yang kemudian menyulitkan mereka untuk hidup sejahtera.

Lima dekade setelah ucapan Bung Karno itu, pada 15 Juli 2015, dalam bahasa berbeda, mantan gubernur DKI Sutiyoso menganalogikan Jakarta dengan hutan belantara yang penuh binatang buas.

“Jakarta itu ibarat belantara, isinya binatang buas semua. Jadi saya pesan, gubernur sama wagub lebih buas dibanding binatang-binatangnya,” kata pria yang akrab disapa Bang Yos ini.

Bang Yos sendiri pemimpin tegas nan keras kepala tetapi dengan dua sikapnya ini Jakarta justru mendapat hadiah terobosan sistem transportasi massal “busway”, bahkan nyaris menghadirkan monorel yang gagal karena Bang Yos mungkin harus menempuh kompromi-kompromi yang tidak perlu dari banyak kepentingan.

Bang Yos juga membuat wajah fasilitas publik menjadi relatif lebih baik, salah satunya Monas yang dia kurung dengan pagar besi yang terbukti mengubah Monas menjadi tempat yang jauh lebih nyaman dan lebih bisa dibanggakan dibandingkan dengan sebelumnya.

Risma

Pada tingkat dunia sendiri, hampir semua kota besar yang heterogen dan keras mendambakan para pemimpin berkualifikasi seperti disebut Bung Karno karena kota-kota seperti ini tidak bisa ditangani hanya dengan kesantunan belaka, apalagi oleh kelambanan dan ketidakberanian mengambil risiko.

Lee Kuan Yew di Singapura, Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, Mahmoud Ahmadinejad di Teheran, dan Rodrigo Duterte di Davao, adalah contoh para pemimpin kota yang keras kepala dan berani melakukan terobosan, berani tidak populer, bahkan berani mati.

Namun justru rakyat jatuh cinta kepada mereka. Rakyat pun membantu mereka ke panggung nasional sehingga Erdogan menjadi Presiden Turki, Ahmadinejad menjadi Presiden Iran dan Duterte menjadi Presiden Filipina.

Keberanian dan kreatif menawarkan terobosan seperti Ahmadinejad dan Erdogan juga dimiliki Bang Ali dan Bang Yos, termasuk penerusnya, Fauzi Bowo yang akrab dipanggil Bang Foke.

Sayang, Bang Foke si “anak didik” Bang Ali yang sebetulnya juga keras hati dan tegas itu harus melakukan kompromi-kompromi melelahkan dengan koalisi gemuknya yang membuat gerak birokrasi menjadi lamban sehingga warga Jakarta “menghukum” dia pada Pilkada 2012.

Sebaliknya pada Pilkada 2012 itu, Joko Widodo berhasil menampilkan sosok pemimpin cekatan, berani, dekat dengan rakyat, keras kepala dan mandiri, sehingga bagian terbesar warga Jakarta memilihnya.

Kemunculan Joko Widodo pada panggung Pilkada DKI 2012, dan dua tahun kemudian pada pentas politik nasional bersama Prabowo Subianto, adalah wujud keinginan bagian terbesar rakyat untuk hadirnya pemimpin yang bergerak cepat dan berani.

Kini setelah empat dan dua tahun itu, terlalu gegabah menyimpulkan rakyat tidak lagi menginginkan hadirnya pemimpin yang cepat dan berani, termasuk di Jakarta, yang hampir selalu memberi tempat khusus kepada pemimpin koppig.

Karakter Jokowi yang keras kepala sehingga terobosan sistem transportasi massal seperti MRT mulai bisa diwujudkan, beresonansi dengan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, kecuali dalam cara berkomunikasi.

Pengganti Jokowi ini malah seperti tidak peduli dengan popularitas sehingga semua dilawannya, dari tikus-tikus anggaran, sampai preman pelindung pelacuran.

Namun kelemahan terbesar dia dalam berkalimat telah menjadi senjata terbesar lawan untuk menghabisi dia. Tragisnya, hal ini dikait-kaitan dengan latar belakang etnis dan keyakinannya, mungkin karena wilayah inilah yang paling bisa membuat Basuki terjengkang dari Pilkada. Padahal dalam banyak hal, kecuali sekali dalam bertata bahasa, kriteria gubernur Jakarta yang koppig seperti disebut Bung Karno, ada pada Basuki.

Saat ini mungkin hanya ada tiga pemimpin koppig yang populer yang kompatibel dengan Basuki, yakni Presiden Joko Widodo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Risma telah membuktikan diri sebagai kepala daerah yang berhasil karena berkemauan keras, berani, dan koppig seperti diinginkan Bung Karno di Jakarta.

Berani

Dua pesaing Basuki, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan, sepertinya dihadirkan sebagai antitesis dari Basuki. Namun semata menampilkan diri sebagai pemimpin yang antitesis dari cara berkomunikasi Basuki untuk memenangkan hati warga Jakarta, adalah agak terlalu percaya diri.

Anies dan Agus dituntut menampilkan diri sebagai pemimpin berani, koppig, dan tentu saja kreatif menawarkan gagasan baru yang bisa ditangkap warga Jakarta sebagai inovatif, orisinil dan aplikatif, sekaligus memperlihatkan tekad bahwa mereka akan berkeras hati mewujudkan ide-ide baiknya untuk Jakarta.

Dalam kaitan Anies yang mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, Presiden Joko Widodo pernah berkata dia tak akan mengganti menterinya jika sang menteri berani dan cepat bertindak.

Jokowi juga pernah menyentil kondisi sektor pendidikan dasar dan menengah selama dua tahun pemerintahannya, salah satunya ketika pada 5 Oktober 2016 dia mengungkapkan ada 1,8 juta ruang kelas di Indonesia dan hanya 466 ribu dalam kondisi yang baik, padahal anggaran pendidikan selalu naik.

Itu kritik tidak langsung terhadap kecepatan dan keberanian Anies dalam mengeksekusi kebijakan.

Sedangkan Agus yang masih baru dalam dunia politik dituntut memberi pesan dan kesan bahwa kisah Bang Foke yang harus menempuh kompromi yang melelahkan tak akan terulang pada dia. Tuntutan serupa berlaku untuk Basuki, kendati selama ini Basuki telah membuktikan diri berani mandiri dari siapa pun.

Agus juga sebaiknya tidak membiarkan sang ayah sering tampil di ruang publik dalam kerangka Pilkada DKI karena bisa menimbulkan pertanyaan dari awam terhadap kemandirian politik Agus.

Intinya, Basuki menghadapi masalah serius dalam berkalimat, tetapi Anies dan Agus juga menghadapi tantangan serius dalam mencitrakan diri sebagai pemimpin berani dan keras hati karena Bang Ali dan Bang Yos telah mengajarkan bahwa gubernur Jakarta itu mesti berani dan koppig.[ant]

BAGIKAN

LEAVE A REPLY