Cambridge Analytica (Foto: Getty Images)

@Rayapos | Jakarta – Lembaga konsultan Cambridge Analytica akhirnya memutuskan untuk menutup usahanya, setelah terlibat skandal penyalahgunaan data pribadi 87 juta pengguna Facebook untuk kepentingan politik.

Penutupan itu dilakukan karena  mengalami kesulitan bisnis pasca terungkapnya skandal kebocoran data pengguna Facebook sejak sekitar dua bulan lalu.

Namun, Cambridge Analytica mengklaim sebagai “korban” atas pemberitaan yang marak soal skandal penyalahgunaan data Facebook.

“Selama beberapa bulan terakhir, Cambridge Analytica menjadi subyek banyak tuduhan tidak berdasar dan meski telah berupaya melakukan koreksi, perusahaan merasa dicemarkan atas aktivitasnya, yang tak hanya legal, tapi diterima secara luas sebagai komponen standar dari iklan online, baik dalam ranah politik dan komersial,” demikian cuplikan pernyataan pers yang dimuat di situs perusahaan.

Dilansir Reuters, Kamis 3 Mei 2018, manajemen perusahaan menyatakan sedang mengalami kebangkrutan karena kehilangan klien dan membengkaknya biaya penasehat hukum untuk menghadapi tuntutan atas skandal kebocoran data Facebook itu.

“Akibat kasus ini, kami tidak lagi mampu melanjutkan bisnis dan tidak ada solusi untuk mempertahankan perusahaan,” demikian pernyataan resmi manajemen perusahaan.

Seperti diketahui, skandal penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica sebagai pihak yang dituduh mencuri data 87 juta pengguna Facebook itu telah membuat saham perusahaan anjlok. Perusahaan ini mulai menutup operasionalnya pada Rabu 2 Mei 2018 waktu setempat.

Baca juga: 

Meski bangkrut dan tutup, belum berarti Cambridge Analytica tamat. Sejumlah mantan karyawan perusahaan itu yang diwawancarai surat kabar Inggris, Financial Times, dalam kondisi anonim, mengaku yakin, Cambridge Analytica akan bermetamorfosis, menjelma dalam bentuk lain atau menggunakan kedok.

Menurut informasi, tak hanya Cambridge Analytica yang ditutup, tetapi penutupan operasional ini juga dilakukan oleh induk perusahaan asal Inggris, SCL Elections, yang sama-sama menjadi pihak ketiga dalam skandal penggunaan data pengguna jejaring sosial Facebook.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, telah mengakui kesalahan manajemen karena tidak berhati-hati memberikan akses data pengguna kepada perusahaan pihak ketiga untuk digunakan sebagai data terkait kegiatan kampanye.

Zuckerberg telah memasang iklan berukuran besar di sejumlah surat kabar di AS dan Inggris menjelaskan masalah yang dihadapi Facebook dan berjanji ini tidak akan terulang lagi.

Zuckerberg juga telah menghadapi panggilan dari DPR AS dan Senat serta menjelaskan duduk masalah sambil mengulangi permintaan maafnya terkait penggunaan data oleh Cambridge Analytica.

BAGIKAN