Agung Wahyudi di kamar jenazah RSUD dr Soetomo Surabaya. Foto: Jawa Pos

@Rayapos | Surabaya – Pembantaian di Jalan Dinoyo, Surabaya, diduga bermotif asmara. “Korban dengan Mohaiyah seperti kekasih,” kata Nur Rohim, pemilik warung yang disinggahi korban.

Seperti diberitakan Rayapos, Agung Wahyudi (36) tewas dibantai di Jalan Dinoyo, di depan warung kopi milik Nur Rohim.

Pembantai bersenjatakan clurit menghajar Agung dengan bacokan berkali-kali hingga tewas di tempat. Bacokan terakhir kena punggung, tembus dada.

Dalam kejadian itu, Mohaiyah (35) melerai pembacokan. Tapi, dia juga dibacok pelaku, kena kepala. Agung tewas, Mohaiyah terluka. Pelaku kabur.

Terkait:   Drama Pembantaian Dinoyo, Korban Diclurit Punggung Tembus Dada

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran, juga menduga motif asmara dalam pembantaian itu. Namun, dia belum menyimpulkan. “Tunggu sampai pelaku kami tangkap,” ujarnya.

Tim dari Polrestabes Surabaya bersama Polsek Tegalsari, kini memburu pelaku ke Madura. Polisi sudah mengantongi identitas pelaku.

Ada Cinta di Warung Kopi

Dikisahkan saksi Nur Rohim, saat kejadian dia berada di warung.

“Juga ada beberapa orang pengunjung warung. Tapi tidak berani melerai, karena pelaku seperti kesetanan mengamuk menghajar korban dengan clurit,” tuturnya.

Agung adalah pengunjung langganan warung kopi milik Nur Rohim. Agung akrab dengan karyawati warung kopi itu, Mohaiyah. “Kayaknya mereka pacaran,” ujar Nur.

Pada Senin (29/10/2018) malam Agung datang sendirian dengan motor ke warung tersebut. Seperti biasa, dia lebih banyak ngobrol dengan Mohaiyah.

Sekitar pukul 21.00 Mohaiyah ke toilet. Agung menyusul. Tapi, Agung tidak ikut masuk ke toilet. Melainkan menunggu di puntu luar toilet.

Setelah Mohaiyah keluar toilet, mereka ngobrol. “Kelihatannya mereka ngobrol serius. Saya tidak tahu ngobrolin apa,” cerita Nur.

Baca Juga:

24 Kantong Jenazah JT-610 Hanya Potongan Tubuh, Petugas Sulit Identifikasi

Cristiano Ronaldo Geser Posisi Selena Gomez di Instagram

Sekarat, Merintih Panasnya Clurit

Usai ngobrol cukup lama, Agung pamit pulang. Jalan menuju motornya. Tapi, belum sampai dia menyalakan mesin motor, mendadak didatangi pelaku.

Tanpa bicara apa-apa pelaku membacokkan clurit, kena dada Agung. Seketika Agung lari ke arah Jalan Dhoho.

Pelaku mengejar dengan clurit terhunus, berlumuran darah. Mohaiyah menyusul mereka.

“Pelaku pakai helm putih, tidak dicopot. Sebelum mendatangi Agung, pelaku membawa seorang anak lelaki digendong, lalu diletakkan di bawah pohon, agak jauh dari lokasi pembacokan,” tutur Nur.

Ilustrasi clurit.
Ilustrasi clurit.

Drama pembacokan berikutnya, Nur tidak melihat. Sebab, korban dan pelaku, juga Mohaiyah, lari ke Jalan Dhoho. Di sana korban dihajar bacokan berkali-kali.

Mohaiyah yang berusaha melerai, kena bacokan di kepala.

Korban Agung terus lari. Balik lagi ke Jalan Dinoyo. Persis di depan Kampus Widya Mandala, Agung terjatuh dekat taman.

Saat itulah bacokan penghabisan menghujam punggung Agung. Bacokan tembus dada. Sampai clurit sulit dicabut. Tapi, clurit tercabut juga setelah pelaku mencongkel dengan hentakan.

“Kayaknya, lengkungan clurit nyangkut di tulang. Sehingga sulit dicabut,” tutur seorang saksi yang keberatan disebut namanya.

Betapa pun, logam sangat tajam itu bakal dengan mudah memotong tulang, jika clurit nyangkut di tulang.

Rupanya, bacokan penghabisan itu menghentikan pembantaian. Pelaku puas, lantas meninggalkan Agung yang sekarat.

Para saksi mendengar Agung merintih menahan sakit. Terdengar rintihan: “Panas… panas…” ujar saksi.

Pelaku berjalan santai sambil menenteng clurit. Mendekati anaknya yang jongkok di bawah pohon.

“Lalu dia menggendong anaknya, berjalan menuju motor Mio warna merah,” kata Nur.

Baik Nur maupun saksi mata lain tidak melihat nomor polisi motor pelaku. Karena, lokasi parkir agak jauh dari warung dan di lokasi gelap.

Sedangkan para saksi tidak ada yang berani mendekati pelaku yang menteng clurit.

“Pelaku kemudian kabur dengan motornya. Anaknya dibonceng di depan,” kata Nur.

Apakah Nur kenal pelaku? “Tidak kelihatan wajahnya, karena dia terus pakai helm putih,” jawab Nur kepada wartawan.

Dugaan motif asmara muncul, sebab ada peran Mohaiyah di situ. Sedangkan Mohaiyah dengan Agung kelihatan mesra, seperti orang berpacaran. Diduga, terjadi cinta segi tiga. (*)