Dinakkan Siak Upayakan Putus Mata Rantai Virus

rayapos.com - Anthraks di Trenggalek
Virus Antraks (Foto: Ilustrasi)

@Rayapos | Siak: Dinas Peternakan dan Perikanan kabupaten Siak, Riau menyatakan terus mengupayakan memutus mata rantai virus Jembrana yang telah menyebabkan sapi Bali di wilayah setempat mati mendadak.

“Selain pemberian vaksinasi, Dinas Peternakan dan perikanan juga terus lakukan pembersihan dan sterilisasi kandang, serta penyuluhan kepada masyarakat atau peternak,” kata Kepala Bidang Pengawasan dan Kesehatan Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan Siak, Giatno di Siak, Selasa.

Dia mengatakan, diperkirakan virus ini penyebaran atau penularan penyakit jembrana dari sapi ke sapi lainnya dibawa oleh serangga penghisap darah seperti lalat (lalat tapis) caplak dan nyamuk.

“Kita juga sedang meningkatkan pemberian pengertian pada masyarakat bahwa penyakit ini tidak hanya terjadi di Siak semata, melainkan juga melanda daerah Indonesia lainnya,” ungkapnya.

Namun yang menjadi kendala, ia tambahkan, pemberian vaksin baru bisa diberikan ketika sapi sudah kembali ke kandang usai dilepas di kebun sawit yakni pada pukul 17.30 WIB keatas. Sementara petugas Vaksinasi ada batasan waktu.

“Pemutusan mata rantai terkendala karena kebanyakan sapi di lepas pada kebun sawit seharian, dan sore baru dibawa kembali ke kandang. Bahkan banyak juga diantaranya yang dilepas hingga malam,” jelasnya.

Hal itu disebabkan karena Pemerintah Kabupaten Siak memanfaatkan sumber daya lokal untuk pengembangan budidaya sapi Bali untuk menghasilkan bibit ternak yang berkualitas dengan Sistem Integrasi Sapi Dan Kelapa Sawit (Siska).

Sementara itu lanjutnya, berdasarkan ahli penelitian Universitas Gajah Mada, Vaksinasi hanya dapat menyembuhkan 30 persen antibodi sapi yang dinyatakan positif terserang virus Jembrana.

“Sapi yang terserang penyakit jembrana akan mengalami penurunan nafsu makan, sehingga pertumbuhannya secara umum termasuk kenaikan berat badannya terhambat. Penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian,” katanya.

Distanak juga meminta peternak untuk waspada dan segera mengontak petugas dinas bila melihat gejala-gejala yang mencurigakan pada ternaknya.

Dia juga menyampaikan, sedikitnya 190 ekor sapi Bali di Siak mati akibat Jembara selama periode pertengahan Oktober 2016 hingga pertengahan Januari 2017 ini, dikhawatirkan akan mengurangi jumlah populasi dan produksi daging, dan sangat berdampak pada perekonomian masyarakat.

“Selama tiga bulan terakhirnya ini setidaknya sudah 190 sapi Bali di Siak mati akibat jembrana,” ungkapnya. [ant]

Comments

comments