Direktur CIA, Gina Haspel. Foto: AFP

@Rayapos | Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) Gina Haspel ke Turki hanya ingin mendengar rekaman audio yang diklaim jadi bukti penyiksaan pembunuhan Jamal Khashoggi.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (24/10/2018), informasi ini disampaikan oleh empat sumber yang memahami kunjungan Haspel ke Turki.

Diketahui bahwa Haspel terbang ke Turki pada Senin (22/10) waktu setempat, dalam kunjungan yang menurut satu sumber, adalah kunjungan singkat.

Kunjungan ke Turki dilakukan usai otoritas Saudi mengonfirmasi Khashoggi tewas dalam perkelahian di Konsulat Saudi di Istanbul.

Otoritas Turki dalam argumennya meyakini Khashoggi tewas dalam pembunuhan berencana dan keji.

Para pejabat Turki sebelumnya mengklaim telah memiliki bukti berupa rekaman audio dan video yang membuktikan Khashoggi disiksa dan dibunuh, bahkan dimutilasi.

Pemberitaan soal bukti rekaman itu dibahas secara luas oleh media.

Namun diungkapkan oleh sejumlah pejabat keamanan negara Barat bahwa hingga Senin (22/10/2018) malam, Turki belum juga membagikan bukti-bukti itu kepada negara lain, termasuk AS dan sekutunya.

Padahal diketahui Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah meminta Turki untuk membagikan bukti-bukti yang didapatnya.

Kunjungan yang dilakukan Haspel ke Turki pekan ini, belum dikonfirmasi langsung oleh CIA.

Namun sejumlah sumber menyebut kunjungan itu dimaksudkan untuk membahas dan membantu penyelidikan kasus Khashoggi yang masih dilakukan oleh otoritas Turki.

Menurut empat sumber yang dikutip Reuters, Haspel juga berniat mendengar langsung rekaman yang diklaim sebagai bukti kasus Khashoggi itu. Informasi ini juga belum dikonfirmasi oleh CIA.

Baca Juga:

Rossi: Suzuki Lebih Baik dari Yamaha

Jokowi Payungi Anies di Acara Pembagian Sertifikat, Ini Cerita Dibaliknya

Prabowo Kumpulkan Selebgram dan Youtuber, Apa yang Dibahas?

Diketahui bahwa badan-badan intelijen AS dan Eropa belum memiliki gambaran jelas, atas apa yang terjadi di dalam Konsulat Saudi pada 2 Oktober 2018, saat Khashoggi tewas.

Disebutkan juga oleh sejumlah sumber keamanan, bahwa intelijen-intelijen AS dan Eropa kesulitan mendapatkan bukti saat menyelidiki dugaan keterlibatan putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dalam kasus Khashoggi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya pada Selasa (23/102018) menegaskan Khashoggi tewas dalam pembunuhan berencana.

Namun Erdogan tidak menyebut nama putra mahkota Saudi. Erdogan juga tidak membahas soal rekaman audio dalam pernyataannya itu. (*)

BAGIKAN