Dituduh cemari Danau Toba, dua perusahaan ini digugat Rp 905 triliun

@Rayapos.com | Jakarta: Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) mengajukam gugatan terhadap PT Aqua Farm Nusantara dan PT Sari Tani Pemuka atas pencemaran air Danau Toba, Sumatera Utara.

Kedua perusahaan swasta ini digugat lantaran menjadi penyebab turunnya kualitas air danau yang terletak di sejumlah kabupaten Provinsi Sumatera Utara.

Tim Ligitasi Yayasan Pencinta Danau Toba menilai kedua perusahaan yang hingga saat ini masih melakukan kegiatan usaha perikanan telah melanggar Pasal 69 ayat (1) huruf a Undang-undang No. 32 Tahun 2009.

“Kami menggugat para pihak dengan nilai kerugian Rp 905,6 triliun,” ujar Robert Paruhum Siahaan, perwakilan dari Tim Ligitasi Yayasan Pencinta Danau Toba kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).

Menurut Robert, pencemaran air Danau Toba sudah terjadi sejak tahun 2016. Kala itu dua perusahaan tersebut membuat keramba jaring apung (KJA) di perairan Danau Toba dengan menyebarkan 250 ton pakan ikan (pelet) setiap hari. Namun hampir 20% pakan itu tidam dimakan oleh ikan dan mengendap ke dalam dasar danau, akibatnya kualitas air Danau Toba menjadi tercemar.

Lporan status lingkungan hidup Provinsi Sumut tahun 2015 yang diterbitkan oleh pemerintah Kabupaten Simalungun menyatakan mutu air di 18 titik sekitar Danau Toba sudah tercemar.

“Kami melalui PT Sucofindo telah melakukan pengambilan sampel 11 titik air dan mendapatkan hasil air di Danau Toba sudah sangat tercemar dan bukan lagi air dengan kualitas nomor satu,” jelas Deka Saputra Saragih dari tim ligitasi yayasan lainnya.

Selain menggugat kedua perusahaaan itu, Tim Ligitasi Yayasan Pencinta Danau Toba juga menggugat perdata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutananan, Gubernur Prov. Sumut, Bupati Kab. Simalungun, Bupati Samosir, dan Bupati Toba Samosir.