Doa Politis yang lahir dari pemikiran picis

rayapos.com - pemikiran
Destructive Mind Foto : adamyounggolf

@rayapos | Jakarta: Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people. (Pemikiran besar membahas ide. Pemikiran sedang membahas peristiwa. Pemikiran kerdil membahas orang)
Eleanor Roosevelt

Lagi-lagi doa di sidang tahunan MPR bikin heboh. Jika tahun lalu anggota DPR dari fraksi Gerindra Muhammad Syafi’i menggemparkan Senayan dengan doanya yang meminta supaya negara ini dijauhkan dari pemimpin khianat, kali ini yang bikin heboh adalah Tifatul Sembiring, anggota DPR dari fraksi PKS.

Dalam doanya, Tifatul yang mantan Presiden PKS itu meminta supaya Allah menggemukkan badan Jokowi yang kini terlihat semakin kurus. Tifatul juga menyebut Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sudah tergolong tua.

Ternyata, penyebutan Jokowi semakin kurus dan Jusuf Kalla yang sudah tergolong tua itu keluar dari teks doa yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Itu improvisasi saja.

Apa yang ada dalam hatimu akan keluar lewat mulutmu

“What comes out of your mouth is determined by what goes into your mind.”
(Apa yang keluar dari mulutmu ditentukan oleh apa yang masuk dalam pikiranmu)
Zig Ziglar

Improvisasi Tifatul yang menilai segi lahiriah Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla mencerminkan isi hati dan buah pikiran yang sebenarnya dari kader PKS itu. Top of mind-nya tentang sosok Jokowi adalah tubuhnya makin kurus. Sedangkan Jusuf Kalla makin tua.

Tentu tidak dapat dilarang jika publik menafsir liar dan menyebut cara pandang Tifatul terhadap pemimpin bangsa ini negatif.

Khalayak wajar menduga kalau Tifatul berpikir Republik ini dipimpin oleh dua orang yang semakin kurus dan semakin tua. Pemimpin yang makin lemah karena semakin kurus dan tidak berdaya karena terlalu tua.

Sayangnya, pandangan Tifatul itu salah total. Jokowi bukannya makin kurus tanda tidak berdaya. Tapi justru makin lincah dan bergerak tambah cepat. Makin cekatan membangun infrastuktur di seantero negeri dan makin tangkas membenahi carut-marut bangsa. Termasuk makin kuat membungkam kelicikan lawan-lawan politiknya.

Kualitas orang ditentukan oleh pemikirannya

Eleanor Roosevelt tidak salah ketika berkata pemikiran kerdil membahas orang. Menceritakan fisik orang. Menggosipkan orang.

Pemimpin sekaliber Tifatul seharusnya membahas (dan mendoakan) ide-ide, rencana-rencana besar dan pencapaian-pencapaian Presiden Jokowi. Bukan mempersoalkan kurus gemuknya tubuh orang. Apalagi makin uzurnya usia orang.

Kalau soal gemuk kurus, dapat dipastikan Jokowi tidak memikirkan hal remeh-temeh itu. Wong Solo itu pasti tidak begitu pedulikan apakah tubuhnya kurus atau gemuk. Apa lagi sampai meminta Allah untuk membuat tubuhnya gemuk.

Sebab yang dipikirkan Jokowi adalah pemikiran besar, visi besar. Bagaimana membuat kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat. Bagaimana supaya seluruh Sumatera terhubungkan dengan jalan tol. Bagaimana harga semen dan bbm di Papua sama harganya dengan di Jawa. Bagaimana supaya seluruh desa di Papua terhubung dengan jalan raya. Seluruh Sulawesi terhubungkan denga rel kereta api. Bagaimana supaya pelabuhan-pelabuhan besar dibangun di banyak kota. Bagaimana supaya pembangunan yang merata segera dirasakan manfaatnya oleh rakyat banyak. Itulah pemikiran besar.

Tapi sudahlah, tulisan ini berhenti sampai disini. Kalau tidak saya akan ikut jadi orang kerdil karena membahas pemikiran kecil.

Penulis: Yerry Tawalujan M.Th, adalah Koordinator dari organisasi Forum Kita Semua Bersaudara. Ia juga aktif sebagai pemerhati berbagai isu kebangsaan terkini. Bersama keluarga, ia berdomisili di Jakarta. Ia juga merupakan pendiri dan Ketua Umum dari 2 LSM Pariwisata: Duta Wisata Sulut dan Gerakan Nasional Sadar Wisata/GERNASTA)

Comments

comments