Astronot NASA. Foto: AFP

@Rayapos | Drama menegangkan ketika roket Soyuz mengalami kerusakan, Kamis (11/10/2018). Roket berawak dua orang itu meluncur ke bumi dengan kecepatan 1.800 meter per detik. Para awaknya selamat.

Itulah hari tak terlupakan bagi astronaut Nick Hague dan kosmonaut Alexei Ovchinin. Mereka menghadapi situasi antara hidup dan mati saat harus melakukan pendaratan darurat.

Penyebabnya, karena roket Soyuz yang membawa mereka mengalami kerusakan.

Dikutip dari Science Alert, NASA menjelaskan bahwa kegagalan roket pendorong membuat Soyuz yang membawa Hague dan Ovchinin mendarat dengan cara menukik ekstrem.

Cara ini disebut “ballistic descent mode”. Artinya, Soyuz mendarat ke Bumi dengan sudut yang sangat curam dibanding biasanya.

Hague menjelaskan bahwa ketika ia melihat lampu peringatan mengenai roket pendorong menyala, ia sudah menyadari bahwa ia tidak akan ke luar angkasa.

Seketika itu juga, misi ke angkasa luar telah berubah menjadi usaha pendaratan darurat.

Hague kepada Associated Press, menceritakan pengalamannya. Demikian:

“Kami sadar bahwa jika kami ingin berhasil mendarat, kami perlu tetap tenang dan harus melakukan prosedur pendaratan dengan baik serta efisien semampunya.”

“Ketika Anda sedang meluncur ke luar angkasa dan roket pendorong Anda mengalami masalah di saat kecepatan mencapai 1.800 meter per detik, segala sesuatu terjadi dengan dinamis dan juga sangat cepat,” tambah Hague.

Baca Juga:

Miris, Negara Kaya Minyak Ini Warganya Makan Daging Busuk

Gedung DPR Dipasangi Kaca Anti Peluru, Begini Tanggapan Polisi

Bisa dibilang hasil latihan selama dua tahun yang dijalani Hague di Rusia lah yang membantu menyelamatkannya.

Hague bisa menjalankan prosedur pendaratan darurat dengan lihai dan melakukannya dalam bahasa Rusia.

“Semua insting dan refleks saya saat berada di dalam kapsul (Soyuz) adalah untuk bicara Bahasa Rusia,” ujar Hague.

Selama pendaratan darurat, Hague terus melihat ke luar jendela untuk memastikan sistem di Soyuz bekerja dengan baik dan juga memeriksa daerah pendaratan mereka.

Karena mendarat dengan manuver ekstrem, ia merasakan tekanan gaya tujuh kali lebih kuat dari gaya gravitasi.

Untungnya, Hague dan Ovchinin berhasil mendarat dengan selamat 20 kilometer di sebelah timur kota Dzhezkazgan di Kazakhstan tanpa cedera.

“Saat mendarat kami berada di posisi tergantung dengan kepala di bawah dan kami saling melihat satu sama lain sambil tersenyum lebar,” kata Hague.

“Dia (Ovchinin) mengulurkan tangannya yang saya sambut dengan jabat tangan, dan kemudian kami mulai bercanda mengenai betapa sebentarnya perjalanan kami,” tambahnya lagi.

Ia pun menjelaskan bahwa mereka langsung menghubungi ruang kontrol dan kemudian keluarga mereka.

“Saya bilang ke istri ‘Saya baik-baik saja dan ini merupakan perjalanan paling gila’,” kata Hague. (*)

BAGIKAN