Sampah di Mount Everest

@Rayapos | Gunung tertinggi dunia Mount Everest kian jorok. Sampah dan kotoran manusia berserak di berbagai lokasi. Sekitar 15 ribu orang pendaki per tahun naik ke sana. Mereka buang hajat dan sampah, sebab memang tidak ada WC.

Pendaki yang buang hajat benar-benar mirip kucing. Mereka menggali salju secukupnya, lalu jongkok di situ. Setelah selesai mereka menutup dengan salju.

Jadi, kalau galian itu kurang dalam, maka bisa jadi bahaya laten bagi pendaki yang kurang waspada. Atau bagi pendaki sial. Sebab, kotoran manusia (tinja) tertutup salju tipis.

Dilansir dari BBC, Ang Tshering, Ketua Pendaki Gung Nepal, meminta pemerintah Nepal menyediakan WC. Namun, sejak dulu permintaan itu belum terwujud.

Dia mengatakan feses dan urin telah “menumpuk” selama bertahun-tahun di sekitar empat kamp. “Pendaki biasanya menggali lubang di salju untuk dijadikan sebagai toilet dan membuang kotoran manusia di situ.”

Berdasar catatan otoritas setempat, ada 15 ribu pendaki Everest per tahun. Masing-masing pendaki biasanya berada di sana sekitar 5 sampai 7 hari.

Jika seorang pendaki meninggalkan sekitar setengah kilo feses selama mendaki, maka tak kurang 7,5 ton feses per tahun di sana. Terserak di berbagai titik. Tersamar oleh salju tipis.

Baca Juga:

Kunjungan ke Moskow Dikritik DPRD DKI, Sandiaga Uno Bela Diri

Ngabalin: Pak Amien Rais Ngomongnya Kayak Comberan

Jalanan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, DPRD DKI: Kita Ini Dzalim Pak

Dawa Steven Sherpa, petugas kebersihan Everest sejak 2008 mengakui, dia sering menginjak ‘bahaya laten’ itu. “Ini berbahaya bagi kesehatan. Perlu ditangani,” ujarnya.

Memang, tidak semua puluhan ribu pendaki itu buang hajat dengan cara kucing. Ada pula yang menampungnya di tas plastik (semacam tas kresek).

Tapi, hasil akhirnya sama saja. Tas kresek berisi itu tidak mungkin digendong di ranselnya saat turun gunung. Bakal bau. Melainkan diayunkan seperti main lasso. Lalu terlempar ke sembarang arah. Jadi bahaya laten juga.

Tonton videonya di sini:

Otoritas setempat tak mau repot. Sejak 2018 ada aturan, setiap pendaki harus menyetorkan deposit USD 4.000 (sekitar Rp 56 juta) per tim, sebelum mendaki. Pulangnya, masing-masing tim pendaki harus membawa sampah 8 kilogram. Jika tidak, uang deposit hilang.

Namun, yang diangkut pendaki itu umumnya sampah plastik dan makanan basi. Tisu bekas dan sejenisnya. Hampir tidak ada yang membawa feses.

Everest pertama kali ditaklukkan oleh pendaki asal Selandia Baru, Edmund Hillary dan pemandu Sherpa, Tenzing Norgay pada tahun 1953. Waktu itu pastinya Everest masih bersih. (*)