Facebook Digugat Karena Beri Akses Dagang Seksual

Ilustrasi

@Rayapos | Jakarta – Facebook terus dirundung masalah. Setelah platform-nya dibobol hacker sehingga lebih dari 50 juta penggunanya rawan dibajak, kini digugat penggunanya.

Seorang perempuan Amerika, Jane Doe, menuduh platform jejaring sosial tersebut dapat digunakan sebagai wadah perdagangan seksual.

Doe menerangkan, ia telah diperkosa, dipukuli, dan diperdagangkan untuk seks di usianya yang ke-15 tahun. Pelakunya seorang germo, salah satu temannya di Facebook.

Dalam dokumen tuntutannya di Pengadilan Distrik Wilayah Harris, Houston, AS pekan ini, Doe juga melaporkan alamat situs iklan baris rahasia, Backpage.com, serta nama pendirinya.

Situs tersebut kini telah ditutup karena dilaporkan menjadi platform penjualan seks.

Berdasarkan tuntutannya, Doe sudah ‘berteman’ dengan si pelaku yang kelihatannya kenal dengan beberapa teman aslinya di dunia nyata pada 2012 lalu.

Teman pria yang ternyata adalah seorang germo itu kemudian mengirimkan pesan kepadanya melalui Facebook.

Singkat cerita, sang germo menawarkan bantuan untuk menghibur Doe yang sedang bertengkar dengan ibunya saat itu. Namun, kenyataannya justru berkata lain.

Setelah menjemput perempuan itu di rumahnya, germo tersebut malah memukul, memperkosanya dan mengambil foto dirinya yang kemudian diposting di situs web Backpage.com.

Dalam tuntutannya, Doe mengatakan bahwa Facebook tidak melakukan cukup verifikasi untuk memastikan kebenaran identitas penggunanya.

Doe juga mengakui bahwa dirinya tidak pernah diperingatkan tentang para pelaku perdagangan manusia yang beroperasi di media sosial.

Baca Juga:

Jokowi-Ma’ruf Unggul Jauh Banding Prabowo-Sandi

Polisi Siapkan Pemanggilan Kedua Amien Rais

Facebook Bantu Gempa Sulteng Rp 15 M

Sementara itu, Facebook yang ikut menyumbang donasi kepada korban bencana di Sulawesi Tengah.

Bersama dengan WhatsApp, Facebook memberikan dana bantuan sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 15 miliar. Sumbangan ini diberikan melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Menurut perusahaan, ini adalah bentuk komitmen mereka dalam mendukung proses pemulihan dan membantu komunitas yang terkena dampak dari bencana.

Facebook juga akan membantu LSM dan bisnis kecil lokal untuk bangkit kembali pasca bencana melalui program Laju Digital.

“Sebagai bagian dari upaya kami untuk mendukung masyarakat Indonesia, Facebook, dan WhatsApp memberikan donasi sebesar 1 juta dollar AS kepada Palang Merah Indonesia untuk penanggulangan gempa dan tsunami di Palu dan Donggala,” kata Facebook dalam pernyataan resmi, Kamis (4/10).

CEO Facebook Mark Zuckerberg juga telah menyampaikan rasa simpati terhadap masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang menjadi korban bencana.

Ia bahkan mengajak pengguna Facebook untuk ikut bantu upaya pemulihan dengan berdonasi ke GlobalGiving melalui halaman Penanggulangan Krisis.

Ucapakan duka juga disampaikan kepada Sheryl Sandberg selaku COO Facebook.

Seperti Zuckberg, ia mendorong pengguna untuk mengumpulkan bantuan agar para korban bisa pulih secepatnya.

Facebook menambahkan, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan layanan mereka untuk mengumpulkan bantuan.

Tidak hanya itu, aplikasi pesan instan WhatsApp juga banyak dipakai untuk memberitahu teman serta keluarga mereka bahwa mereka dalam keadaan selamat, meminta bantuan, berbagi informasi, dan menggalang dana bagi mereka yang terkena dampak bencana.

“Setelah tsunami terjadi, banyak orang yang menggunakan (fitur) Penanggulangan Krisis, Grup dan Penggalang Dana (Fundraisers) untuk mengerahkan bantuan dan membantu sesama,” tambah Facebook.

Perusahaan mencontohkan, warga Palu dan Donggala menggunakan grup Facebook bernama ‘Info Kota Palu’ untuk berbagi informasi terkini.

Facebook mengaku ada lebih dari 1.300 meminta bantuan melalui Community Help untuk cari informasi, makanan, tempat pengungsian, dan ketersediaan air bersih.

Bahkan, lembaga Adventist Development and Relief Agency (ADRA) International sukses menggalang dana sebanyak 57 ribu dolar AS atau sekitar Rp 859 juta di Facebook.

Hal yang sama juga dilakukan organisasi World Vision yang telah mengumpulkan lebih dari 20.000 dolar atau sekitar Rp 300 juta untuk bantu korban bencana. (*)