Foto: Dok Kemenpar

@Rayapos | Banyuwangi – Front Pembela Islam (FPI) menolak kegiatan adat Festival Gandrung Sewu 2018 di Banyuwangi. Ketua DPW FPI Banyuwangi, H. Agus Iskandar membenarkan pernyataan sikap tersebut.

“Benar, itu pernyataan sikap kami. Maksudnya adalah kami mengingatkan agar kita tidak diazab oleh Allah karena mengumbar kemaksiatan seperti itu. Kejadian bencana di Palu harus menjadi cermin bagi kita warga Banyuwangi,” ungkap Agus kepada wartawan, Kamis (18/10/2018).

FPI hanya ingin mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat terkait dengan kemaksiatan.

“Kami hanya mengingatkan. Soal mau diterima atau tidak, ya terserah. Menurut saya, bupati sebagai pemegang kebijakan, kan bisa mencari yang lain yang lebih santun untuk memajukan Banyuwangi,” katanya.

Baca juga:

Viral Video Wanita Sebut Anies Tutup Reklamasi untuk Bahan Gagah-Gagahan

Takut Ditenggelamkan Susi, Sandiaga Uno Ralat Ucapannya

Menurutnya, setiap hari banyak terjadi bencana di Indonesia. Ini karena kemaksiatan tumbuh subur di Indonesia.

“Akhir ini kita semua diuji. Ada gempa bergilir, gunung meletus, lahar, tsunami, lumpur ya intinya nasihat lah. Banyuwangi dekat pantai sudah pengalaman kena tsunami. Kami hanya ingin memberi nasihat tidak untuk melakukan penertiban. Hanya aksi moral saja,” tambahnya.

Ia setuju bencana gempa bumi dan tsunami muncul karena ada tumbukan lempengan, yang sesuai dengan penjelasan BMKG. Namun yang terpenting adalah bagaimana masyarakat tidak lagi melakukan maksiat di muka bumi ini.

“Allah memberikan bencana itu sifat kasih sayang supaya kita tidak kebablasan. Karane terbukti setelah bencana pasti Allah menumbuhkan lagi daerah itu lebih baik lagi,” pungkasnya.

Kegiatan Festival Gandrung Sewu sedianya digelar di Pantai Boom Banyuwangi, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan ini sudah digelar 7 kali di tempat yang sama. Sebanyak 1.300 penari akan menarikan Gandrung, tarian khas Banyuwangi.

Tari Gandrung sendiri adalah tari khas daerah yang telah ditetapkan sebagai warisan Budaya Bukan Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di masa kolonialisme, Tari Gandrung adalah bagian tak terpisahkan dari taktik untuk melawan penjajahan. Bramuda menjelaskan, tahun ini, pergelaran Gandrung Sewu mengangkat tema “Layar Kumendung”.

Penonton tidak hanya akan menyaksikan kemegahan tarian, tapi juga fragmen drama kepahlawanan yang menyertainya. Pertunjukan ini melibatkan sebanyak 1.173 penari, 64 penampil fragmen, dan 65 pemusik.

BAGIKAN