Polisi syariah membawa Nur Fadilah (21) usai dihukum cambuk (Chaideer Mahyuddin/AFP)

@Rayapos | Aceh – Pasangan mesum dihukum cambuk setelah aksinya tepergok warga. Dua sejoli ini yakni Nurfadilla binti Basyirun (21), warga Aceh Besar, dan M Firmansyah Putra bin Ibrahim, (34), warga Banda Aceh.

Pasangan bukan muhrim ini ditangkap karena berbuat ikhtilat atau mesum di sebuah hotel di Banda Aceh. Lalu mereka dicambuk karena melanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat.

Nurfadilla dihukum 24 kali cambuk dan M Firmansyah 28 kali cambuk.

Baca juga:

Studi: Berhubungan Seks Bisa Bikin Kurus

Sandiaga Ngaku Nemu Tempe Seperti HP Jadul, Ini Maksudnya

Dilansir Antara, eksekusi cambuk berlangsung di atas panggung yang disaksikan puluhan warga di halaman Masjid Musyahadah, Banda Aceh, Senin (29/10/2018), sesuai putusan Mahkamah Syariah Banda Aceh.

Eksekusi hukum cambuk juga disaksikan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Banda Aceh.

Firman mendapat hukum cambuk sebanyak 28 kali. (Chaideer Mahyuddin/AFP)
Firman mendapat hukum cambuk sebanyak 28 kali. (Chaideer Mahyuddin/AFP)

Selain mereka berdua, ada tiga orang lagi yang dicambuk karena melanggar syariat Islam di Provinsi Aceh. Ketiganya terbukti bersalah karena maisir atau judi.

 

Mereka adalah Agus Guntoro bin Tuji (26), warga Rokan Hilir, Riau, Suriadi bin Rusli (30), warga Binjai, Sumatera Utara, dan Muji Hartono (43), warga Langkat, Sumatera Utara.

Ketiganya mendapat hukum cambuk masing-masing enam kali cambuk potong masa tahanan dua kali cambuk karena terbukti bersalah melakukan perbuatan maisir atau perjudian.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan prosesi hukuman cambuk di tempat terbuka ini bukan untuk memalukan para terhukum, tetapi bagaimana membuat mereka jera serta tidak menjadi contoh bagi yang lain.

“Pelaksanaan hukuman cambuk ini merupakan bukti bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh dan masyarakat berkomitmen dan bersinergi menegakkan hukum syariat Islam,” kata dia.

Wali Kota mengapresiasi masyarakat yang mengawal pelaksanaan syariat Islam. Hukuman cambuk ini merupakan bukti bahwa masyarakat Kota Banda Aceh mengawal pelaksanaan syariat Islam.

“Kami ingatkan bahwa Kota Banda Aceh harus bebas maksiat. Kami mengajak masyarakat tidak memberi ruang terhadap kemaksiatan dan pelanggaran syariat,” tegas Aminullah Usman.