Kolase: Rayapos / DWO

@Rayapos | Jakarta – Menjelang Pilpres ini data kemiskinan dihebohkan. Supaya memperjelas, bahwa banyak orang miskin di Indonesia. Miskin parah. Padahal, sudah puluhan tahun mayoritas rakyat Indonesia miskin.

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengeluarkan angka kemiskinan per Maret 2018 sebesar 25,95 juta orang. Itu dengan parameter penghasilan Rp 401.220 per kapita per bulan. Atau, kepala keluarga dengan satu isteri dan dua anak, berpenghasilan Rp 1,6 juta per bulan.

Penghasilan berbeda dengan gaji. Namun kebanyakan orang kita menyebut penghasilan sebagai ‘gaji’. Bonus, insentif, tunjangan, termasuk potongan, sering disederhanakan jadi gaji. Take home pay disebut gaji. Disebut gaji, konotasinya pasti per bulan. Kecuali, bagi pedagang.

Belakangan ini jumlah orang miskin Indonesia disoroti. Berbagai pihak bicara kemiskinan dengan indikator yang berbeda-beda. Menghasilkan opini publik yang simpang-siur.

Terbaru, Ekonom INDEF, Enny Sri Hartati menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (4/8/2018) bahwa dibutuhkan indikator yang tepat tentang kemiskinan. Tidak satu indikator seperti digunakan pemerintah sekarang. Supaya tidak simpang-siur pendapat publik.

Dia mengatakan: “Misalnya pemerintah melalui BPS menggunakan indikator 2.100 kalori. Tapi juga disediakan data pembanding dengan negara lain yang satu kondisi perekonomian.”

Menurutnya, itu bisa dijadikan pemerintah untuk perbandingan keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan. Kemudian cara tersebut jadi challenge untuk pemerintah dalam menghitung angka kemiskinan di Indonesia.

Pendapat Enny mengoyak lebih dalam lagi tentang kemiskinan Indonesia. Membandingkan Indonesia dengan negara lain, meski dia katakan ‘yang satu kondisi perekonomian’, tetap saja mengoyak sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Sejak Indonesia merdeka, parameter kemiskinan Indonesia ya hanya itu. Angka batas penghasilan orang miskin hanya berubah sesuai harga kebutuhan pokok. Dasar penghitungannya 2.100 kalori.

Baca Juga:

Cristiano Ronaldo ‘Unfollow’ Intagram Real Madrid

Obor Asian Games Tiba di Palembang, Alex Noerdin Jadi Pelari Pertama

Kapolsek Tembak Anak Buahnya, Ini Kata Mabes Polri

Sedangkan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Bojonegoro menjelaskan, batas angka penghasilan orang miskin sudah naik dari waktu ke waktu. Itu dikatakan Bambang di rapat dengan Badan Anggaran DPR, Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Dijelaskan, pada Maret 2014 batas kemiskinan adalah penghasilan Rp 302.735 per kapita per bulan. Atau, kepala keluarga dengan satu isteri dan dua anak sekitar Rp 1,2 juta per bulan.

Pada September 2016 naik menjadi penghasilan Rp 361.990 per kapita per bulan. Atau, kepala keluarga dengan satu isteri dan dua anak sekitar Rp 1,4 juta per bulan.

Pada Maret 2018 naik menjadi penghasilan Rp 401.220 per kapita per bulan. Atau, kepala keluarga dengan satu isteri dan dua anak sekitar Rp 1,6 juta per bulan.

Dengan kenaikan batas kemiskinan sesuai penghasilan itu, kata Bambang, Jumlah orang miskin menurun. Artinya, banyak orang yang semula termasuk miskin, berubah jadi tidak miskin.

Ketika batas penghasilan miskin per Kepala Keluarga Rp 1,4 juta per bulan pada September 2016, jumlah orang miskin 10,7 persen dari total penduduk Indonesia.

Tapi, ketika batas penghasilan miskin naik jadi Rp 1,6 juta per KK per bulan pada Maret 2018, jumlah orang miskin turun jadi 9,82 persen dari total penduduk Indonesia.

Dan, per Maret 2018 itu pencapaian terbaik pemerintah Indonesia. Tercatat dalam sejarah, itulah untuk pertama kalinya jumlah orang miskin kita pada angka single digit. Sebelumnya selalu double digit atau di atas 10 persen.

Dengan pencapaian terbaik pemerintah itu, jumlah orang miskin 25,95 juta orang. Sebanyak 17,3 juta orang tinggal di pedesaan. Sisanya di perkotaan. Bandingkan, per September 2016 jumlah orang miskin 27,76 juta orang. Jumlah orang miskin berkurang.

Simak video ini:

Nah, kalau parameternya diubah, apalagi menggunakan perbandingan dengan negara lain, seperti dikatakan pengamat, pasti berubah semuanya. Jumlah orang miskin bisa 100 juta orang, bahkan bisa lebih dari 200 juta orang. Tergantung negara pembanding.

Upaya sejumlah pihak menyeret ke perbandingan Indonesia dengan negara lain, dilakukan saat ini. Saat sebentar lagi Pemilihan Presiden RI. Supaya terang-benderang, bahwa rakyat kita sangat miskin. Dan jumlahnya sangat banyak.

Kendati begitu, dengan batas penghasilan miskin sekarang Rp 401.220 per kapita per bulan, menarik disimak.

Dengan penghasilan segitu, maka satu orang punya jatah Rp 13.360 per hari untuk semua kebutuhan hidupnya. Itulah batas miskin, Di bawah itu miskin, di atasnya tergolong tidak miskin.

Maka, bagi Kepala Keluarga yang berpenghasilan (gaji) Rp 1,6 juta atau lebih per bulan, bersyukurlah. Jangan pernah mengeluh. Sebab, keluarga anda bukan orang miskin. (DWO)