Wasekjen Gerindra Andre Rosiade. Foto: Instagram

@Rayapos | Jakarta – Capres Prabowo Subianto di acara Indonesia Economic Forum, mengaku sedih, banyak bangsa jadi tukang ojek setelah lulus sekolah.

Pernyataan itu menurut timses Jokowi-Ma’ruf, Ruhut Sitompul, sama seperti merendahkan pekerjaan driver ojek online.

Namun Wasekjen Gerindra Andre Rosiade menepis komentar Ruhut tersebut.

Andre mengatakan, tidak ada maksud Prabowo merendahkan profesi tersebut. Prabowo, kata Andre, hanya ingin menyampaikan adanya masalah ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini.

Sehingga banyak anak bangsa yang bahkan lulusan sarjana, rela bekerja menjadi pengemudi ojek online.

“Bukan Pak Prabowo bermaksud merendahkan pekerjaan ojek online, hanya menggambarkan orang sudah sekolah tinggi-tinggi lapangan pekerjaan enggak ada,” kata Andre.

“Akhirnya orang untuk menyambung hidup menjadi ojek online,” tambahnya.

Menurutnya, tidak ada orang tua yang bercita-cita anaknya menjadi ojek online setelah lulus kuliah.
Namun karena kondisi ekonomi dimana lapangan pekerjaan begitu sulit didapat, akhirnya mereka memilih menjadi pengemudi ojek online.

“Gak ada lapangan pekerjaan, sekolah tinggi-tinggi daripada nganggur. Apakah orang tua bercita-cita anaknya, kuliah bayar mahal-mahal anaknya jadi tukang ojek? kan enggak, itu maksudnya Pak Prabowo,” jelasnya.

“Pesannya berarti ada masalah soal ketersediaan lapangan pekerjaan. Tentu teman-teman yang sudah berusaha sekolah rajin-rajin bahkan jadi sarjana tapi untuk menyambung hidup akhirnya mereka menjadi ojek online,” imbuhnya.

Baca Juga:

Liverpool Siap Pertahankan Simon Mignolet

Ini Alasan Haris Bunuh Juga Anak-anak Daperum

Terkait komentar Ruhut yang menyebut pernyataan Prabowo sebagai bentuk politik genderuwo, Andre tidak ambil pusing.

Sebab menurutnya, sulitnya lapangan pekerjaan memang sebuah fakta yang harus diterima.

“Genderuwo gimana? apa yang ditakut-takuti dari Pak Prabowo? kan memang fakta. Inilah orang kubu sebelah introspeksi negara lagi sulit lalu orang mengkritik disebut genderuwo,” ketusnya.

Ia bahkan menganggap Ruhut asal berkomentar karena menganggap apa yang disampaikan Prabowo sebagai politik genderuwo.

“Kalau Ruhut enggak usah ditanggapin, yang jelas Prabowo mengkritik agar pemerintah sadar lapangan pekerjaan itu harus dibangun. Ruhut ini contoh kader Pak Jokowi yang bukan bicara program tapi bicara genderuwo, sontoloyo, gak bermutu,” pungkasnya. (*)