@Rayapos | Jakarta – Kontestasi Pilpres 2019 kian lucu. Kubu Prabowo Subianto mengusulkan debat Capres-Cawapres berbahasa Inggris. Dibalas kubu Jokowi, bahasa Arab dan hafal Alquran.

Itu menggambarkan ‘perang politik’. Prabowo yang lama hidup di negara-negara Eropa, mengajak Jokowi berdebat bahasa Inggris.

Dibalas Jokowi, mengajak berbahasa Arab dan hafalan Alquran. Karena maminya Prabowo beragama Kristen. Pun, adinda Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, Kristen.

Jadinya, dua kandidat pemimpin Indonesia 2019 itu saling ‘tusuk’. Bukannya adu program, sebagaimana lazimnya debat politik.

Kalau usulan ini dibiarkan, maka kontestasi politik bisa kian liar. Masing-masing pihak akan berusaha saling mempermalukan lawan. Di depan 263 juta rakyat Indonesia yang tingkat partisipasi politiknya rendah, dibanding Filipina atau India.

Baca Juga:

Pemprov DKI Libatkan Kota Penyangga untuk Kurangi Pencemaran Kali

Japan Open 2018: Jadwal Lima Wakil Indonesia di Perempat Final

Gereja HKBP Minta Anies Baswedan Revisi Pergub Pemberian Hibah

Menanggapi itu, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menganggap, usulan Prabowo itu tidak masuk akal.

“Apakah kita mau memilih capres-cawapres Inggris atau Amerika Serikat? Kita ini mau memilih Presiden Republik Indonesia,” ujar Ace kepada wartawan, Jumat (14/9/2018).

Menurut Ace, debat capres bukanlah unjuk gigi kemampuan berbahasa. Debat dimaksudkan untuk beradu gagasan, program, visi dan misi para kandidat.

“Bukan seperti lomba pidato bahasa Inggris, unjuk gigi kemampuan bahasa. Debat capres-cawapres itu untuk beradu gagasan, program, visi dan misi yang dapat dimengerti seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

“Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti, gampang dicerna rakyat, konsep yang ditawarkan dapat diterjemahkan ke dalam program yang dapat dilaksanakan,” sambung Ace.

Debat capres juga bukan sekadar pidato berapi-api yang penuh retorika belaka. Debat capres harus memiliki substansi.

“Bukan menebar pesimisme, tapi selalu melahirkan harapan-harapan bagi rakyat dengan program-program yang konkret dan nyata. Bukan janji-janji yang ternyata pelaksanaannya tidak dapat dilaksanakan,” ujarnya.

Jika tujuan debat untuk menunjukkan kemampuan pergaulan internasional Jokowi, hal itu tak perlu dipertanyakan. Sebab, selama ini Jokowi menunjukkan kepiawaiannya dalam forum internasional.

“Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, berperan aktif dalam penyelesaian Rohingya, paling depan dalam mendukung kemerdekaan Palestina serta diperhitungkan di antara negara di dunia. Bahkan media internasional mengakui itu,” katanya.

“Soal debat bahasa Inggris, tidak perlulah. Nanti kalau ada yang minta baca Alquran dan debat pakai bahasa Arab bagaimana?” imbuh Ace.

Sebelumnya, koalisi Prabowo-Sandiaga mengusulkan format debat capres dan cawapres Pilpres 2019 menggunakan bahasa Inggris.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengatakan, usulan itu bisa menjadi pertimbangan KPU.

“Boleh juga kali, ya. Ya, makanya hal-hal detail seperti ini perlu didiskusikan,” kata Yandri seusai rapat sekjen di Posko Pemenangan PAN, Kamis (13/9). (*)

BAGIKAN