Habib Bahar bin Smith

@Rayapos | Jakarta – Habib Bahar bin Smith pernah ditahan polisi. Pada Ramadhan 2012, saat dia bersama sekitar seratus pengikutnya menyerbu Kafe De Most di Bintaro, Jakarta Selatan.

Dikutip dari Wikipedia, penyerbuan dia lakukan, sebab kafe tersebut tetap buka di siang hari pada Ramadhan. Kejadiannya pada Minggu, 29 Juli 2012, sekitar pukul 01.30 dini hari.

Bahar bersama sekitar 100 pengikutnya sweeping yang disertai aksi perusakan di Kafe De Most di Jalan Veteran Raya, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Dalam aksinya itu, mereka menuntut agar pihak kafe menutup bisnisnya sebulan penuh selama bulan Ramadan.

Massa melengkapi diri dengan clurit, golok, stik golf dan lainnya. Senjata tajam itu dibuat khusus menjelang aksi, seperti empat buah pedang yang dibuat seminggu sebelum kejadian.

Aksi mereka dihadapi petugas gabungan Polresta Tangerang, Polsek Pondok Aren, Koramil 19 Pondok Aren, dan Satpol PP Pondok Aren.

Polisi menangkap Bahar dan 62 orang pengikutnya. Barang bukti yang disitas, 1 golok, 1 clurit, 4 samurai, 4 stik golf, 1 stik besi, 1 kayu, 1 bendera Majelis Pembela Rasulullah. Serta satu set alat musik milik kafe.

Dari 62 orang yang ditangkap, 41 di antaranya merupakan anak di bawah umur. Bahkan, ada anak berusia 13 tahun yang ikut serta dalam aksi sweeping tersebut.

Polisi kemudian menetapkan 23 orang termasuk Bahar sebagai tersangka karena terbukti melakukan pengrusakan dengan senjata tajam, dua di antaranya adalah anak di bawah umur pembawa golok dan clurit.

Atas hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat menyayangkan keterlibatan anak kecil dalam aksi tersebut. KPAI juga meminta petugas memberikan penangguhan penahanan terhadap kedua anak itu.

Polisi kemudian menjerat Bahar dan pengikutnya dengan Pasal 170 KUHP tentang pengrusakan dengan ancaman hukuman lima tahun.

Selain itu, mereka juga dijerat Pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun.

Setelah ditahan dan dilakukan interogasi singkat, Bahar mengaku bersalah dan menyesal karena tidak melapor kepada pihak kepolisian terkait sweeping.

Bahar dikenal sebagai seorang pendakwah yang dianggap sering memprovokasi massa.

Dalam ceramahnya yang beredar di media sosial, dia kerap melontarkan ceramah yang memprovokasi umat Islam untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan perilaku yang dianggap tindak kekerasan.

Selain itu, dalam ceramahnya dia juga kerap menyebut bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah sarang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Terkait hal tersebut, organisasi sayap Islam PDIP, Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) mengkritik pernyataan Bahar tersebut.

Bamusi menyindir bahwa Habib Bahar kurang bacaan dan literatur, serta tuduhan kepada PDIP tanpa tabayun. Sehingga menjadi fitnah. Akibatnya merusak citra penceramah agama Islam.

Baca Juga:

In Memoriam Bush Senior, Jaya di Perang Teluk, Kalah di Pemilu

Akankah Prabowo Hadir di Reuni Akbar 212? Ini Jawabnya

Tim Jaguar Tangkap Pengendara Motor Bawa Celurit

Pada akhir November 2018, video ceramah Bahar viral di media sosial. Di tengah proses pilpres 2019 yang panas, dia menuduh Presiden Jokowi pengkhianat bangsa, negara, dan rakyat.

Ia juga menyebut Jokowi sebagai banci dan meminta jama’ah untuk membuka celana Jokowi supaya terlihat apa ada darah menstruasi di sana.

Kemudian Bahar juga menuduh Jokowi hanya mensejahterakan orang-orang non-Muslim (kafir), orang Tionghoa-Indonesia (Cina), dan perusahaan-perusahaan Barat serta memperbudak pribumi.

Ia juga menyalahkan jama’ah karena tidak memenangkan capres Prabowo Subianto yang didukung FPI di pilpres sebelumnya. Akhirnya dia dipolisikan. (*)

BAGIKAN