@Rayapos | Jakarta – Hakim Indonesia jadi bulan-bulanan media massa dunia. Gegara seorang gadis 15 tahun diperkosa kakak kandungnya 17 tahun. Si gadis hamil lalu aborsi, sehingga dia dihukum enam bulan penjara. Korban perkosaan malah dihukum.

Media massa di negara-negara besar: Amerika Serikat, Inggris, Singapura dan lainnya, seolah membodohkan hakim Indonesia. Sebab, korban perkosaan dihukum, membalikkan logika hukum.

Media paling berpengaruh di Inggris, The Guardian, menulis dengan judul ‘Indonesia girl jailed for abortion after being raped by brother’.

Sedangkan, Daily Mail menulis ‘Indonesian girl, 15, who was raped by her brother is jailed for having an abortion’.

Bahkan, media AS, Washington Post menulis kasus itu dengan judul ‘Indonesian teen raped by her brother jailed for abortion’.

Media AS lainnya, New York Times juga menurunkan berita tersebut.

Adapun media paling berpengaruh di Singapura, The Straits Times, juga menurunkan berita dengan judul serupa.

Peristiwa ini terjadi di Muara Bulian, Jambi, September 2017. Lantas, Pengadilan Negeri Muara Bulian memvonis Kakak hukuman 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja. Adik dihukum 6 bulan penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan. Ibu mereka kini masih diproses polisi.

Baca Juga: 

Korban Perkosaan Dihukum, Pengacara Protes

Rabu Pagi, Lombok Kembali Diguncang Gempa

Lenovo Siap Luncurkan Ponsel 5G Pertama

Ditaksir Sejumlah Klub, Chelsea Naikan Gaji Ngolo Kante

Berikut kronologi kasusnya

September 2017
Si kakak memperkosa adiknya. Pemicunya karena si kakak nonton film porno. Si kakak usianya 17 tahun, si adik usianya 15 tahun.

“Kakak memperkosa karena dipicu nonton video porno,” kata humas PN Muara Bulian, Listyo Arif Budiman.

Februari 2018
Perut si anak membuncit. Panik. Korban perkosaan mengurut-urut perutnya hingga keguguran. Janin itu dibungkus taplak meja dan dibuang keesokan harinya. Janin itu ditemukan warga dan polisi melacak kasus itu.

Duduk sebagai tersangka:

1. Ibu sebagai tersangka karena diduga ikut membantu anaknya aborsi.
2. Si kakak jadi tersangka pemerkosaan atas adiknya.
3. Si adik jadi tersangka karena aborsi atas janinnya.

5 Juli 2018
Berkas dilimpahkan ke PN Muara Bulian

19 Juli 2018
PN Muara Bulian menjatuhkan hukuman:

1. Kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja.
2. Adik dihukum bulan 6 penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan.

Ibu masih diproses di kepolisian.

27 Juli 2018
Si anak mengajukan banding.

30 Juli 2018
LSM melaporkan majelis hakim ke Komisi Yudisial (KY).

Mirip Kejadian di Sudan, Afrika

Kasus ini mirip dengan peristiwa di negara miskin Afrika, Republic of Sudan. Kasusnya juga perkosaan. Korban perkosaan malah dihukum, karena membunuh pemerkosa.

Kasus di Sudan, Noura Hussein (19) dinikahkan secara paksa oleh orang tuanya, ketika dia berusia 16. Setelah menikah, keluarga Noura memaksa anaknya tinggal di rumah suami.

Karena sejak awal ogah dinikahkan, Noura tidak melayani suaminya di hari-hari pertama mereka hidup bersama. Lantas, Noura kabur dari rumah suaminya.

Tiga tahun kemudian (2018) setelah Noura berusia 19 tahun, bibinya membujuk agar Noura ikut ke suatu tempat. Noura menurut. Ternyata kembali ke rumah suaminya. Lantas Noura disekap di sana.

Di hari pertama Noura tinggal di rumah suaminya, dia berontak ketika diajak berhubungan seks. Hubungan seks pun gagal.

Esoknya, sang suami memanggil enam orang kerabatnya. Para kerabat ini datang hanya untuk memegangi Noura agar bisa digauli suaminya. Memegangi tangan, tubuh, dan merentangkan kedua kaki Noura.

Terjadilah hubungan seks. Sang suami puas.

Esoknya lagi, sang suami berniat mengulangi hubungan seks. Ketika mereka sudah berdekatan, Noura menikam suaminya hingga tewas.

Awalnya Noura divonis hukuman mati. Kemudian diubah jadi hukuman penjara 19 tahun. Keluarga Noura juga harus membayar 337.000 Pound Sudan (sekitar Rp 260 juta). (*)