Handoko Bunuh Isteri, Cekik Sampai Melet

Handoko peragakan cara cekik Novi, ieterinya. Foto: JPNN

@Rayapos | Boyolali – Pembunuhan Handoko (36) terhadap isterinya Novi Septiyani (22) nyaris tak terungkap. Novi sudah dikubur seminggu, barulah ketahuan pembunuhan.

Ternyata, Novi tewas akibat dicekik Handoko. Sampai melet. Latar belakang pembunuhan itu ternyata asmara. Handoko punya hubungan dengan wanita pemandu karaoke berinisial Y.

Kapolres Boyolali AKBP Aries Andhi didampingi Kasat Reskrim AKP Willy Budiyanto, menjelaskan kronologi kejadian itu.

Handoko sehari-hari bekerja sebagai blantik (makelar) sapi. Dia sudah enam tahun menikah dengan Novi. Punya anak satu, perempuan, usia 5 tahun.

Percekcokan terjadi ketika tersangka Handoko, sepulang dari tempat hiburan Karaoke di Boyolali, pada Minggu (30/92018) malam.

Handoko tiba di rumah, Dukuh Gumukrejo, Desa Kebongulo, Kecamatan Musuk, Boyolali sekitar pukul 22.00 WIB. Novi membukakan pintu rumah.

Ternyata Handoko mabok. Mulutnya bau minuman keras. Novi pun menegur. Sehingga mereka cekcok. Lalu Handoko masuk kamar dan berbaring di tempat tidur.

Curiga, Novi mengambil telepon seluler suaminya yang ditaruh di atas meja. Dia menemukan nomor telepon seorang perempuan berinisial Y.

Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Willy Budiyanto mengatakan, diduga Y memiliki kedekatan dengan Handoko.

Dari data telepon, Handoko dengan Y, sering berkomunikasi.

“Ya, ada kedekatan (antara Y dan Handoko). Makanya istrinya menghubungi (Y) dengan HP Handoko,” kata Willy saat dihubungi wartawan, Selasa (9/10/2018).

Y bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah tempat hiburan Karaoke di wilayah Boyolali.

Ketika Novi menelepon Y melalui telepon Handoko, hubungan tersambung. Novi mengingatkan, agar Y tidak mengganggu suaminya. Tidak perlu berhubungan lagi.

Di telepon, Novi dengan Y cekcok. Diduga, Y tidak terima disebut sebagai pelakor, meskipun kondisinya memang begitu.

Mendengar istrinya menelepon Y, Handoko yang sebelumnya berbaring di tempat tidur langsung bangun. Dia keluar kamar dan mendatangi istrinya.

Handoko berusaha merebut telepon seluler yang dipegang istrinya, namun gagal. Dia kemudian menganiaya Novi.

Saat Handoko menganiaya istrinya itu, anak perempuannya melihat. Anak itu melihat secara langsung tindakan ayahnya kepada ibunya.

Handoko mencekik Novi sampai melet. Dalam cengkeraman yang cukup lama, Novi pun lemas. Jatuh tersungkur. Posisinya tertelungkup.

Handoko tidak menolong korban. Dia yang sudah mabok, langsung masuk kamar lagi dan tidur.

Baru sekitar pukul 03.00 WIB, Handoko bangun. Dia tidak mendapati istrinya tidur di sampingnya.

Dia pun keluar kamar dan mencarinya. Ternyata Novi masih berada di tempat semula, saat jatuh semalam. Posisinya tak berubah. Tertelungkup.

Handoko berusaha membangunkan Novi, tapi tidak ada respon.

Selanjutnya, tersangka memanggil tetangganya untuk meminta tolong. Warga berdatangan menolong. Namun diketahui Novi sudah tidak bernyawa.

“Saat diangkat ke kursi, Novi kondisinya sudah dingin dan tidak ada detak jantung. Sehingga dapat disimpulkan korban sudah meninggal dunia,” kata AKP Willy.

Akhirnya keluarga memutuskan, Novi dikubur keesokan harinya. Dianggap sebagai kematian wajar. Keluarga sudah ikhlas. Baik keluarga Novi maupun orang tua Handoko.

Namun nyaris tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan jejak.

Baca Juga:

Ratna Di-pingpong antara Ahoker dan Wowower

Perolehan Medali Asian Para Games 2018 Hingga Selasa Pagi

Ratna Ahoker atau Wowower? Jadi Bahan Lempar Masalah

Jejak kasus Novi bermula dari gunjingan tetangga tentang kondisi mayat Novi saat dimandikan. Leher jenazah kebiru-biruan.

Gunjingan itu terus meluas. Sampai akhirnya anak Novi keceplosan bicara tentang ayah-ibunya bertengkar, lalu ayahnya mencekik leher ibunya/ Sampai ibunya jatuh.

Dari situlah warga melapor ke polisi. Kemudian polisi melakukan penyelidikan. Lantas penyidikan. Akhirnya Handoko mengakui, mencekik isterinya.

Minggu, 7 Oktober 2018

Polres Boyolali bersama tim DVI Polda Jateng, membongkar makam korban, di pemakaman umum Kya Sundigong, Desa Kebongulo, Kecamatan Musuk, Boyolali pada Minggu (7/10/2018).

Makam Novi dibongkar. Mayat sudah terkubur seminggu.

Kemudian dilakukan outopsi di tempat oleh tim DVI Polda Jateng untuk mengetahui penyebab kematiannya.

“Hasil sementara dari pemeriksaan tim DVI menyatakan bahwasanya ada kejanggalan atau ada bekas tindakan kekerasan di tubuh korban,” kata Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi di ruang kerjanya Senin (8/10/2018).

Hingga akhirnya kini polisi telah menetapkan Handoko sebagai tersangka.

Blantik sapi itu dikenakan Pasal 351 ayat 3 KUHP dan pasal 44 ayat 3 UU No 23/2004 tentang penghapusan KDRT dan Pasal 338 KUHP. (*)

BAGIKAN