Hati-hati, marah picu serangan jantung

ilustrasi marah (Foto: ilustrasi)

@Rayapos.com | Jakarta: Marah merupakan perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh di dalam dada.

Setiap orang pasti pernah merasa kesal atau bahkan marah jika suatu hal mengganggu ketenangannya. Jika masalah sudah bertambah serius, tidak jarang orang tidak kuat menahan amarah hingga ingin berteriak atau malah menangis. Hal ini sangat wajar terjadi dan ketika saat itu tiba, jangan pernah memendam perasaan kesal.

Meskipun memang memaafkan adalah saran yang baik yang perlu dilakukan, namun seringkali rasa sakit karena suatu hal tidak akan bisa begitu saja dengan mudah dilupakan.

Perasaan marah, kesal atau sedih termasuk perasaan negatif memang sebaiknya dikeluarkan dari tubuh, tentunya dengan cara yang positif dan tidak merugikan orang lain. Dilansir dari huffingtonpost.com, menahan atau memendam amarah atau emosi negatif justru akan berisiko serius meningkatkan potensi serangan penyakit jantung koroner.

Marah menyebabkan tubuh menjadi tegang dan siap meledak. Tak hanya marah, ketegangan yang berlebihan juga bisa meningkatkan risiko sakit jantung sampai hampir 10 kali lipat. Maka salah satu faktor penyebab sakit jantung ini sebaiknya dihindari, apalagi jika gampang marah.

Peneliti Thomas Buckley dari Universitas Sydney dan Rumah Sakit Royal North Shore di Australia mengatakan bahwa setiap seseorang meluapkan emosinya dalam satu kesempatan maka bisa berakibat serangan jantung mendadak yang berbahaya.

Untuk itu bagi anda yang suka marah-marah  pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu disikapi dengan marah,  tentunya masih ada cara-cara lain untuk menyelesaikan masalah selain dari marah-marah.

Selain berbahaya bagi kesehatan, permasalahan yang diselesaikan dengan cara marah-marah, hasilnya sering akan menjadi hancur dan tidak selesai masalahnya, bahkan masalah akan semakin bertambah rumit.

Jika ada orang lain yang  membuat anda emosi, maka usahakan memperbaiki hubungan.   Kita tidak pernah bisa secara sempurna  mengetahui kondisi orang lain, demikian juga orang lain terhadap kita. Untuk itu diperlukan rasa toleransi ataupun rasa memaklumi. Jika masalah yang dia buat tidak besar, maka tidak perlu terpancing emosi.  Berlapang dada saja ketika melihat hal yang menyebalkan apalagi hanya hal yang sepele.

Comments

comments