Herayati, wisudawati Cum Laude, Program Studi Sarjana Kimia ITB. Foto: Dok Humas ITB

@Rayapos | Bandung – Ada yang istimewa dari sarjana ITB (Institut Teknologi Bandung). Namanya Herayati, anak tukang becak dari Cilegon yang lulus dengan predikat Cum Laude. Dia bersama lulusan ITB lainnya diwisuda Sabtu (21/7/2018).

Anak tukang becak? “Ya… ayah saya tukang becak sampai sekarang. Biasa mangkal di perumahan Krakatau Steel Cilegon,” kata Herayati, lulusan MIPA (Matematika Ilmu Pasti dan Alam) kepada wartawan.

Dia lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Cilegon. Setamat MAN dia masuk ITB lewat jalur beasiswa. Biaya dari Dinas Pendidikan Pemkot Cilegon.

Beasiswa pada tahun pertama 2014/2015 sebesar Rp 20 juta per tahun. Tahun berikutnya turun jadi Rp 15 juta. Tahun berikutnya lagi tetap Rp 15 juta.

Tapi di tahun terakhir kuliah, beasiswa dihentikan Pemkot Cilegon, untuk alasan yang tidak diketahui. Padahal, Hera aktif kuliah. Bahkan selalu ranking pertama di setiap semester dengan IP (Indeks Prestasi) rata-rata di atas 3,5.

Hera juga peraih penghargaan Dean’st List (6 kali berturut-turut per semester) yaitu penghargaan dari Dekan FMIPA karena prestasi akademik yang baik berturut-turut sejak Semester 1 2015 sampai Semester 1 2017.

Untung, di tahun terakhir kuliah Hera dapat bantuan tak terduga. Dari Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (kini Kepala Staf Kepresidenan RI) sebesar Rp 10 juta. Dan dari Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan (kini Menteri Koordinator Kemaritiman) Rp 10 juta.

Judul Tugas Akhir “Sintesis Kitosan Termodifikasi Glutaraldehid Menggunakan Metode MAOS (Microwave Assisted Organic Synthesis) sebagai Adsorben Ion Pb(II) dari Sampel Air Sungai Cikapundung”.

Keberhasilannya tak lepas dari doa kedua orang tuanya Pak Sawiri (66) dan Ibu Durah (62) serta bimbingan dosen wali akademik Dr. Deana Wahyuningrum.

Dosen wali akademik Deana mengatakan, Hera anak yang ceria, tidak minder, optimis, rajin, pekerja keras dan mau belajar banyak hal.

“Kalau saya beri tantangan pasti dia berusaha mencari tahu dan akhirnya bisa. Dia juga selalu ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan keilmuan maupun kemahasiswaan. Menyenangkan bisa bekerja sama dengan Hera,” kata Deana.

Deana berpesan, semoga Hera selalu rendah hati. Mempertahankan dan meningkatkan hal-hal positif yang sudah dimiliki saat ini. Tetap semangat berjuang meraih cita-cita dan prestasi terbaik. Pantang menyerah walau dalam serba keterbatasan. “Semoga sukses selalu dalam studi dan berkarya di masa mendatang,” pesan Deana.

Baca Berita Terkait: Perjuangan Herayati, Anak Tukang Becak, Cum Laude ITB

Apa sih, kunci belajar Hera? “Rajin nge-lab,” jawab Hera kepada wartawan. Maksudnya, rajin meneliti di laboratorium, karena dia di Program Studi Kimia.

“Juga, memperhatikan bimbingan dosen. Belajar, beribadah dan berdoa. Itu aja,” tuturnya.

Meskipun ayah Hera, Sawiri (66) hanya tukang becak, Hera bungsu dari empat bersaudara. Tiga kakaknya sebagian sudah menikah: Sumiati (43), Heryawan (28) dan Irfan Setiawan (27).

Hera bercita-cita jadi dosen. Syarat jadi dosen kini minimal sarjana strata 2 (S 2). Sedangkan dia kini baru mengantongi S 1.

Tapi dia tidak hanya berangan-angan. Dia sudah action. Di akhir masa kuliah program S 1, Hera juga mengikuti Program Magister Jalur Cepat (Fast Track) S 1 dan S 2 langsung.

Kini untuk Fast Track, Hera sudah menyelesaikan 12 SKS (Satuan Kredit Semester). IP (Indeks Prestasi) rata-rata per mata kuliah 3,75 atau A. Tinggal sedikit mata kuliah lagi yang harus dia selesaikan untuk meraih gelar sarjana S 2 (Magister). Sungguh, prestasi luar biasa.

Baca Juga:

Keberhasilan Hera tak lepas dari pendidikan karakter di FMIPA ITB. Di sana dia mengikuti Pragoram Pelatihan Softskills sejak April 2016 hingga lulus kemarin. Di situ diajarkan: Menentukan target, bekerja tim, mengatur waktu efektif, mengatasi tekanan tugas kuliah.

Yang mengharukan, setelah Hera dinyatakan lulus Cum Laude, dia ingin ayahnya Sawiri dan ibunya Surah (62) melihat dia diwisuda di Kampus ITB, Sabtu (21/7/2018).

“Saya ingin bapak-ibu saya melihat saya pakai pakaian wisuda,” kata Hera dengan mata berkaca-kaca. Orang tuanya tinggal di rumah sangat sederhana di Dusun Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Meskipun hanya untuk ongkos ayah-ibu Hera dari rumah ke Kampus ITB, cukup berat bagi orang tua Hera.

Hebatnya, Hera tidak minta bantuan uang dari teman-temannya. Dia punya tabungan dari honor sebagai dosen pengganti di ITB. Jika dosen tidak masuk, Hera menggantikan, mengajar adik-adik kelas.

“Tabungan saya juga sedikit. Lalu saya kirimkan ke bapak saya untuk ongkos ke sini,” ujar Hera.

Dan, benar. Pada saat wisuda Sabtu (21/7/2018) Sawiri dan Surah hadir. Duduk di antara keluarga wisudawan-wati. Menyaksikan Hera diwisuda bersama ratusan sarjana lain.

Usai wisuda, Hera sungkem ke ayah-bunya. Dia melakukan itu di tempat tersembunyi, agar tidak dilihat orang. “Saya bersyukur dilahirkan dari bapak-ibu saya,” ujar Hera. (*)