Hercules saat ditangkap polisi. Foto: JPNN

@Rayapos | Jakarta – Polisi menangkap Hercules Rosario Marshal diduga terkait kasus pendudukan tanah di Kalideres oleh puluhan preman. Hercules kini dibawa ke Polres Jakarta Barat.

“Baru ditangkap,” ujar Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi kepada wartawan, Rabu (21/11/2018).

Penangkapan ini diduga berkaitan dengan pendudukan tanah sengketa di Kalideres.

Tim Polres Jakbar sebelumnya menangkap 25 orang preman di Jalan Bulak Sereh Pegadungan dan di Jalan Daan Mogot. Dari situ ditetapkan jadi tersangka 23 orang.

“Iya, intinya itu,” ujar Kasat Reskrim AKBP Edi Sitepu.

Baca Juga:

Ngeri… Linggis Dipasakkan ke Leher Begini… di Pembunuhan Bekasi

Pembunuh Gadis Dalam Lemari, Hantam Kepala dengan Palu

Gisel dan Gading Marten Cerai, Apa Penyebabnya?

Latar Belakang Kasus

Polres Metro Jakarta Barat kini menyelidiki kasus pendudukan tanah di Kalideres oleh puluhan preman.

Pihak Polres mencari pihak yang memberikan perintah kepada puluhan preman itu untuk menduduki tanah tersebut.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Barat, Senin (12/11/2018) mengatakan:

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi

“Nanti, siapa yang menyuruh melakukan, yang menyuruh siapa, siapa yang bersama-sama, turut serta, dan lain sebagainya.”

Dilanjut: “Kami akan tuntaskan laporan ini, termasuk segala sesuatu yang ada di belakangnya.”

Sebelumnya, Polres Jakarta Barat menangkap 25 preman yang menduduki tanah sengketa di Kalideres itu.

Puluhan preman itu ditangkap di dua lokasi berbeda, ada yang ditangkap di Jalan Bulak Sereh Pegadungan, ada juga di Jalan Daan Mogot.

Setelah dilakukan pemeriksaan, sebanyak 23 preman ditetapkan sebagai tersangka. Hengki menyebut puluhan preman itu melakukan penyerangan.

“Lokasi dengan luas kurang-lebih 2 hektare tanah tersebut bersertifikat, diisi oleh para penghuni, di situ ada tujuh ruko, ada kantor pemasaran,” tuturnya.

Dilanjut: “Tiba-tiba, berdasarkan keterangan saksi dan fakta hukum sementara yang kami peroleh, diserang atau didatangi oleh 60 orang preman.”

Menurut Hengki, tanah yang dipersoalkan itu merupakan milik PT Nila Alam.

Namun ada kelompok lain yang mengaku sebagai pemilik lahan itu dan dengan cara paksa menduduki tanpa proses pengadilan.

“Sekali lagi, ini tanah bersertifikat secara legal. Artinya, ada satu kelompok yang bertindak selaku eksekutor seolah bertindak sebagai pengadilan, melangsungkan eksekusi,” kata Hengki.

Dari puluhan preman yang ditangkap, 10 di antaranya mengaku berasal dari kelompok Hercules. Hengki memastikan akan mengejar otak dari kasus pendudukan tanah tersebut.

“Kami sudah tangkap 10 orang, yang mengaku dari kelompok Hercules. Ini juga terpampang di papan,” jelasnya.

“Karena itu, kami akan kejar terus siapa yang menyuruh melakukan, siapa yang memimpin. Artinya, akan kami tindak tegas,” jelas Hengki.

Sebanyak 23 preman yang ditetapkan sebagai tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang perusakan juncto Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Para tersangka juga dijerat dengan Pasal 167 KUHP tentang memasuki pekarangan orang lain tanpa izin. (*)

BAGIKAN