HNSI NTT Nyatakan Nelayan Tak Gunakan Centrang

rayapos.com - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka
Kapal Nelayan. (Foto: Istimewa)

@Rayapos | Kupang: Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Nusa Tenggara Timur memastikan para nelayan setempat tidak menggunakan centrang atau pukat hela untuk menangkap ikan.

“Nelayan kita di NTT dari dulu tidak gunakan pukat hela atau centrang ketika menangkap ikan di laut,” kata Sekretaris HNSI NTT Wahid Wham Nurdin, di Kupang, Selasa.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memberikan tambahan toleransi menggunakan pukat hela atau centrang hingga Juni 2017.

Namun Wham mengatakan selama ini nelayan di provinsi kepulauan itu menangkap ikan menggunakan pancing secara manual dan “mini purse seine” (pukat cincin kecil).

“‘Mini purse seine’ itu yang digunakan nelayan kita di Kupang, Lembata, Alor, Larantuka, Maumere dan lainnya,” katanya.

Dia mengatakan para nelayan saling memperingati dan melarang agar tidak menggunakan pukat hela karena akan berdampak buruk pada lingkungan laut dan membuat produktifitas hasil perikanan berkurang.

Selain itu, HNSI juga bekerja sama dengan Balai Konservasi maupun dinas terkait sudah melakukan sosialisasi alat tangkap ramah lingkungan secara menyebar di desa-desa nelayan.

“Sosialisasi tetap kita lakukan dan nelayan-nelayan kita pun siap mendukungnya karena mereka juga prihatin dengan ulah oknum nelayan yang masih gunakan bom,” katanya.

Meski demikian, penggunaan pukat hela disebutnya mungkin saja dilakukan oleh nelayan luar yang selama ini masuk tanpa terpantau untuk menangkap ikan di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur.

Terkait bantuan alat tangkap ramah lingkungan, Wham mengatakan biasanya diberikan satu paket dengan bantuan kapal nelayan seperti kapal pole and line, rawe, purse seine.

“Kalau bantuan alat tangkap ikan ramah lingkungan perunit dari kementerian kita belum dapat, namun kalau disalurkan, ya nelayan sangat bersyukur,” katanya.

Dia mengatakan untuk pengadaan alat tangkap ramah lingkungan secara memadai, para nelayan masih kesulitan melakukannya sendiri karena keterbatasan modal.

Untuk itu, lanjut dia, jika ada bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah untuk pengadaannya maka nelayan akan sangat terbantukan, demikian Wahid Wham Nurdin. [ant]

Comments

comments