George W. Bush. Foto: AFP

@Rayapos | Presiden Amerika Serikat ke-41 George HW Bush berpulang pada Jumat 30 November 2019 dalam usia 94. Bush Senior begitu ia dipanggil, dikenal luas karena perannya di Perang Teluk.

Perak Teluk dimulai Pascaperang dingin berakhir. Tepatnya pada 1990. Dunia ketika itu dikejutkan dengan invasi Irak ke Kuwait.

Dikhawatirkan, Irak yang kala itu dipimpin Saddam Hussein akan memperluas invasinya ke Arab Saudi. Negeri Petro Dolar sejak lama dikenal sebagai sekutu dekat AS.

Invasi Irak dipicu memburuknya keadaan ekonomi Irak, usai perang delapan tahun melawan negara tetangganya Iran.

Karena kekurangan devisa, Irak memutuskan menyerang Kuwait yang kaya cadangan minyak. Niat Irak memicu reaksi keras dari Presiden AS George HW Bush.

“Agresi terhadap Kuwait tidak akan bertahan lama,” sebut Bush pada waktu itu, seperti dikutip dari AFP.

Ucapan Bush Senior ditepatinya. Dalam waktu beberapa pekan usai Irak menyerang Kuwait, Bush mengumpulkan 32 negara termasuk beberapa negara Barat.

Setelah mendapat persetujuan senat dan sokongan negara-negara koalisi, AS menggempur pasukan Irak yang berada di Kuwait lewat serangan udara dan darat.

Untuk serangan darat, AS mengirimkan 425 ribu tentara. Sementara, negara sekutu pendukungnya mengirim 118 ribu tentara.

Mereka bahu membahu mengusir Irak dari Kuwait. Melalui operasi militer yang dikenal dengan nama Desert Storm.

Milisi Irak akhirnya sukses ditekuk. Sayangnya, Bush Senior dan koalisinya saat itu gagal menendang Saddam dari kursi kekuasaan di Irak.

21 Febuari 1991, seluruh Militer Irak yang sempat menduduki Kuwait berhasil diusir. Bush dengan bangganya menyatakan perang telah usai.

Pernyataan berakhirnya perang, secara otomatis menjadikan Bush sebagai pemenang perang teluk. Apresiasi negara-negara sekutu membanjiri Bush dan Menteri Luar Negeri AS James Baker.

Sayangnya keberhasilan Bush di dunia internasional menjadi bumerang baginya di dalam negeri.

Baca Juga:

Habib Bahar: Lebih Baik Saya Membusuk di Penjara…

Pahlawan dari Minahasa Hiasi Google, Hari Ini

Siap Nikah Ketiga Kali, Daus Mini Perawatan Wajah Dulu

Ketika perang selesai, warga AS kecewa terhadap Bush yang memutuskan menaikkan pajak dan gagal membendung memburuknya perekonomian Negeri Paman Sam.

Babak belur Bush di dalam negeri belum cukup di titik itu saja. Bush gagal mencapai kesepakatan APBN dengan kelompok oposisi Partai Demokrat.

Popularitas Bush terus merosot. Dengan kondisi yang ‘compang-camping’ Bush sebagai petahana maju pada pemilu 1992 melawan jagoan Partai Demokrat, Bill Clinton.

Berbekal tak becusnya Bush mengurus perekonomian, Clinton membuat slogan yang membuat petahana semakin terpojok yaitu, ‘perekonomian saat ini bodoh’.

Slogan itu ternyata menjadi senjata ampuh. Bush pada pemilu 1992 kalah telak.

Dalam perhitungan elektoral yang menentukan pemenang pemilu Bush hanya mampu mendapat 168 suara sementara Clinton memperoleh 370 suara.

Kekalahan itu membuat Bush Senior hanya satu periode berkuasa di AS yaitu dari 1989-1993. (*)

BAGIKAN