Tersangka pembunuhan Iin Puspita saat rekonstruksi di tempat kejadian perkara, Jumat (23/11/2018). Foto: JPNN

@Rayapos | Jakarta – Ada fakta baru dalam kasus pembunuhan ‘Mayat Dalam Lemari’. Tersangka Y (24) dan pacarnya NR (17) menjalani rekosntruksi di tempat kejadian, Jumat (23/11/2018).

Polisi menyebut, ada fakta baru terkait kasus pembunuhan terhadap pemandu lagu karaoke Ciktuti Iin Puspita.

Polisi menyebut, cekcok bukan terkait duit titipan pelanggan Rp 1,8 juta sebagaimana keterangan awal tersangka.

“Ada fakta-fakta baru,” kata Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar usai rekonstruksi kasus mayat dalam lemari di kos korban, Jl Mampang Prapatan VIII, Gang Senang, Mampangprapatan, Jakarta Selatan, Jumat (23/11/2018).

Pertama, korban, tersangka perempuan berinisial NR dan satu orang perempuan lain, rupanya karaoke bersama, tapi bukan di tempat korban dan NR bekerja. Tempat karaoke ini masih ditelusuri.

“Mereka (korban, NR, dan seorang perempuan lain) datang ke tempat karaoke. Dan, sudah janjian dengan 4 orang,” kata Indra.

Siapa perempuan dan 4 orang yang bertemu di tempat karaoke? Indra tak menyebutkannya.

Namun saat karaoke itu, ada janji soal pemberian duit. Siapa yang menjanjikan dan terkait apa janji uang itu, Indra tak menjelaskan.

“Di situlah ada semacam janji atau dialog mereka. Ada yang menjanjikan sejumlah uang. Tapi justru sebenarnya yang Rp 500 ribu itu sudah diberikan kepada pelaku, ke NR,” ujar Indra.

Tapi diduga duit Rp 500 ribu yang diberikan ke NR dianggap kurang. Sebelum cekcok ini, YAP, NR dan korban yang tinggal dalam satu kamar kos, juga pernah cekcok.

Korban, menurut Indra, pernah meminta pelaku pergi dari kamar kos. Namun pasangan YAP dan NR belum mau pindah kos, karena merasa uang yang dimiliki tidak cukup untuk pindah kos.

“Mereka merasa uangnya masih kurang untuk pindah kos-kosan. Makanya berharap sama uang pemberian itu. Tapi kok cuma dikasih Rp 500 ribu gitu. Jadi seolah-olah intinya tersangka ingin mendapatkan uang lebih,” tegas Indra.

Setelah cekcok lewat telepon gara-gara duit ini, korban datang ke kos dan marah. “Nendang pintu itu untuk mengusir pelaku,” sambungnya.

Selain urusan uang yang dianggap kurang, pelaku pembunuhan juga menyebut korban kerap mengeluarkan perkataan yang menyinggung.

“Mereka merasa tersinggung. Menurut pengakuan tersangka, korban ini sering mengeluarkan bahasa yang membuat tersinggung” kata Indra.

Jadi, motifnya kombinasi antar berbagai hal tersebut.

Baca JUga:

Mardani Ali Tanggapi Kejengkelan Jokowi, Begini Katanya

Jengkel Difitnah, Jokowi: Mau Saya Tabok Rasanya

13 Adegan Rekonstruksi

Sementara itu, tersangka Y dan NR, para pembunuh Ciktuti Iin Puspita, memperagakan 13 adegan dalam rekonstruksi, Jumat (23/11/2018)

Reka adegan mulai dari cekcok hingga terjadinya pembunuhan, yang mayatnya dimasukkan ke dalam lemari.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di lokasi rekonstruksi, Jl Mampang Prapatan VIII, Gang Senang, Jumat (23/11/2018) mengatakan:

“Ada 13 adegan dari korban datang, ada cekcok, lalu ada pembunuhan.”

Rekonstruksi ini berlangsung sekitar 1 jam, dari pukul 14.00 WIB. Dua tersangka menjalani rekonstruksi dengan mengenakan baju tahanan.

“Ini murni pembunuhan,” tegas Argo.

Kapolres Jaksel Kombes Indra Jafar menjelaskan, ada fakta baru terkait kasus pembunuhan Ciktuti. Urusan duitlah yang jadi awal mula cekcok, bukan duit titipan pelanggan.

Jumlahnya juga bukan Rp 1,8 juta seperti keterangan tersangka pada pemeriksaan sementara.

“Sementara tidak ada soal duit titipan, karena pengakuan (pernyataan) korban (saat itu) ‘mending kamu dapat Rp 500 ribu daripada nggak’,” kata Indra.

Tersangka membunuh Ciktuti dengan memukulkan palu pada kepala korban. Leher korban juga diikat dengan tali sweater. (*)