@Rayapos | Gorontalo – Dirut Petum Jamkrindo Randi Anto mengajak jajarannya membersihkan areal pantai Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo. Dalam sejam, areal pantai sepanjang 300 meter bersih dari sampah.

Mereka tidak sendiri. Sejumlah petinggi dan staf Perumnas juga ikut. Dipimpin Mukhlis Abas, Direktur Hukum dan Pertanahan Perumnas. Juga ratusan warga setempat.

Botubarani tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah. Melainkan hiu pausnya. Yang saat musim tertentu datang berombongan sampai ketepian.

Sangat dekat dari pantai. Tidak lebih dari 100 meter. Dan tidak takut dengan orang. Atau nelayan dengan perahunya. Atau sebaliknya. Bahkan anak-anak kecil pun senang bermain dengan kawanan hewan laut raksasa itu.

Konon, anak-anak nelayanlah yang pertama kali menemukan keberadaan whale shark (hiu paus). Dan bersosialisasi dengan mereka. Awal tahun 2000.

“Kita (para nelayan) justru tahu dari cerita anak-anak yang mula-mula bermain dengan kawanan hiu paus,” tutur Abdul Wahab Matoka, Ketua Paguyuban Nelayan Peduli Hiu Paus, Sabtu, (17/8/2018).

Dari situ, masyarakat mulai berbondong-bondong untuk ikut menyaksikan. Dengan memanfaatkan perahu nelayan. Untuk disewa.

Lalu, agar lebih tertib dan demi menjaga resiko yang tidak diinginkan, muncul ide membentuk paguyuban nelayan pengelola kawasan wisata hiu paus.

Itu terjadi setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti datang dan sempat bermain dengan kawanan hiu paus di sana. Bahkan sampai menyelam sendiri.

Awal 2016, pemerintah setempat meresmikan kawasan pantai Botubarani sebagai lokasi destinasi wisata. Kini pantai dengan kawanan hiu paus itu telah dikenal masyarakat dunia.

Hiu paus adalah ikan laut raksasa. Panjangnya bisa mencapai 11 meter lebih. Ukuran terkecil yang terlihat di pantai Gorontalo mencapai 3 meter.

Menurut penelitian, hiu paus adalah ikan migran. Sepanjang hidupnya terus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Mencari daerah perairan hangat. Konon kawanan hiu paus yang kumoul di pantai Gorontalo ini selalu mondar-mandir Indonesia-Philipina.

Menurut Abdul Wahab, mereka mulai muncul di pantai Gorontalo menjelang pertengahan tahun. “Biasanya Mei baru datang 3-4 hiu paus. Tapi tidak mau ke pinggir karena ada musuhnya: hiu orca (orcinus orca),” tuturnya.

Meski ukuran badannya lebih kecil, hiu orca lebih ganas. Tak hanya menyerang, kadang hiu orca memakan anak hiu paus. Makanya, keberadaan hiu Orca sangat diwaspadai. Karena berbahaya bagi manusia.

“Nelayan juga takut. Karena hiu orca bisa membalik perahu dengan mudah. Lalu menyerang nelayan. Nelayan harus hafal tanda-tanda kemunculannya: semburan air dari punggungnya. Kalau ada itu, harus menjauh,” papar Abdul Wahab.

Dulu, ada 5 pangkalan yang jadi lokasi wisata hiu paus. Tapi yang satu terpaksa ditutup untuk kepentingan lain.

Tiap pangkalan punya pantai dalam. Bentuknya seperti palung laut. Dengan kedalaman antara 30-40 meter.

Di pantai dalam itulah kawanan hiu paus leluasa “bermain”. Mondar mandir menikmati suhu laut hangat di musim panas. Dimana lautnya menyediakan plankton dan ikan-ikan kecil yang melimpah.

Untuk bermain dengan hiu paus, para pengunjung bisa menyewa perahu nelayan anggota paguyuban. Tarifnya hanya Rp20.000 per kepala per jam. Tambah Rp10.000 untuk umpan (udang) pemancing kehadiran hiu paus.

Di hari tertentu (Rabu dan Jumat), banyak turis asing datang. Biasanya lebih nekat. Bermain dengan hiu paus di dalam laut. Menyelam (snowkling). Kadang berupaya menaiki tubuh ikan raksasa itu.

Lalu berfoto (ada fotografer khusus yang bisa disewa untuk selfie di dalam air).

Usai bersih-bersih pantai, rombongan Perum Jamkrindo dan Perumnas bergeser ke salah satu pangkalan hiu paus. Semua sewa perahu untuk melihat hiu paus dari dekat.

Sayang, tidak ada yang berani menyelam. Padahal ada kesempatan menikmati keindahan yang lain. Minimal pengalaman penyelam bareng gadis bule.*

BAGIKAN