Diskusi "Jangan Suriahkan Indonesia" di Jakarta, Kamis (1/11/2018). Foto: NU

@Rayapos | Jakarta – Rakyat Suriah tercerai-berai. Hancur lebur. Kini dalam proses bersatu. Rakyat Indonesia sejak merdeka sudah bersatu, kini mengarah tercerai-berai. Kebolak-balik.

Itulah napas seminar “Jangan Suriahkan Indonesia” di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (1/11/2018) lalu.

Pembicaranya tak tanggung-tanggung: Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah, Syekh Adnan Al-Afyouni. Tokoh Suriah yang kini berjuang mempersatukan rakyat Suriah.

Syech Adnan terus berupaya mendamaikan kubu-kubu yang berkonflik di Suriah. Ia terus berkeliling ke berbagai daerah mewujudkan perdamaian itu.

“Rakyat Suriah sudah sepakat melakukan rekonsiliasi,” katanya saat menjadi narasumber pada seminar tersebut.

Mereka, kata Syekh Adnan, ingin meletakkan kepentingan Suriah di atas kepentingan yang lain.

“Sebagaimana kalian (rakyat Indonesia) juga, kami ingin memperoleh harapan hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan. bahwa Presiden Assad sudah membuka diri untuk memaafkan seluruh pihak yang memusuhinya demi Suriah.

Siapa pun yang tidak bersedia berdamai, disilakan untuk pergi ke selatan, tempat bagi para pemberontak, yang negara Suriah akan memeranginya.

Pihaknya telah berbicara dengan pemimpin oposisi. Pihaknya bertanya begini kepada pemberontak:

“Apakah krisis ini yang kalian mau?” Tanyanya kepada oposisi itu.

“Tidak,” jawab mereka.

“Baik. Mari kita duduk bersama untuk masa depan Suriah yang baru,” ajak Syekh Adnan kepada mereka.

Dialog itu menarik seluruh rakyat Suriah berbondong-bondong untuk rekonsiliasi. Mau berdamai.

Rakyat pun bersepakat, mendahulukan kepentingan negara Suriah daripada yang lain.

Tidak akan lagi saling menyalahkan dan fokus rekonsiliasi.

“Kami bersepakat membangun Suriah ke depan. Mereka yang semula melawan, sudah bersatu dalam satu barisan,” jelas Mufti dari Damaskus, itu.

Mereka berkumpul bersama dalam berbagai komponen. Yang sebelumnya saling bertempur. Mereka pun bersepakat mengakhiri konflik kemarin.

“Tidak ada harganya diri kita, jika tidak memiliki negara, Suriah hancur,” ujarnya.

Maka, ia berpesan kepada masyarakat Indonesia, bahwa kepentingan negara adalah di atas segalanya.

“Kepentingan negara adalah di atas perasaan kita. Kepentingan negara di atas emosional kita,” ujarnya.

Baca Juga:

Bamukmin: Banyak Bencana Karena Penguasa Dukung Penista Agama

Wiranto Ungkap Cara Kerja Pembuat Hoaks

JK Tolak Tuntutan FPI soal Pengakuan Bendera Tauhid

Ketika berita ini ditulis, di Twitter sedang trending topic tagar #JanganSuriahkanIndonesia oleh warganet.

Hal ini berkaitan dengan akan adanya Aksi Bela Tauhid siang ini, Jumat (2/11/2018).

Padahal kasus itu (bakar bendera HTI) sudah ditangani yang berwajib.

Karena itu, warganet menengarai bahwa aksi itu bermuatan politis, bukan tauhid. Bahkan berdampak pada perpecahan Indonesia.

Akun @abubakarsegaf mengajak, “Ayo rapatkan barisan, hentikan pertikaian, saling bergandengan tangan menjaga persatuan & kerukunan.

Lbh baik berlebihan dlm mengkhawatirkan perpecahan, daripada terlambat menyadarinya #JanganSuriahkanIndonesia.

“Saudara-saudara twips, tolong gencarkan hastag #JanganSuriahkanIndonesia ya!,” tulisnya.

Dilanjut: “Semoga Indonesia tetap aman, ummat Islam semoga tetap bersatu, jangan mau diadu domba atas nama apapun !!!”

Diakhiri: “Jangan sampai nanti kita menyesal setelah negri kita berantakan #JanganSuriahkanIndonesia.”

Kita diajari oleh tokoh Suriah. Orang penting Suriah yang kini mati-matian berjuang demi perdamaian rakyat Suriah.

Sedangkan kita di Indonesia, sekarang sedang panas-panasnya dikompori oleh kelompok tertentu. Agar kita terpecah-belah.

Apakah kita menerima ‘komporan’ yang mengadu-domba? @JanganSuriahkanIndonesia, Bung. (*)