Screenshot video Humas Pemprov Sumut

@Rayapos | Jakarta – ‘Alfatekah’ yang diucapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka MTQ Nasional 2018 di Medan, Sumatera Utara jadi perbincangan. Cukup banyak netizen mempersoalkan pelafalan nama surat dalam Al-Quran itu.

Salah satunya, pada akun Twitter @iskandarfauzi16 men-twit saat Jokowi mengajak para hadirin membaca surat Al-Fatihah itu.

“Semoga para keluarga yang selamat diberi kesabaran dan ketabahan. Ala hadiniyah, Alfatekah,” cuplikan ucapan Jokowi di video.

 

Namun, meski begitu, menurut Politisi Golkar, Nusron Wahid, pelafalan Jokowi itu bukan sebuah kesalahan.

“Itu budaya Jawa, biasa. Alkamdulillahirobil Alamin. Alkamdulillah. Ya Owoh… Namanya kadang-kadang orang Jowo. Hal biasa nggak perlu dipersoalkan,” ujar Nusron di Istana Bogor, Selasa (9/10/2018).

Baca juga:

Tabliqh Akbar di Monas Kedatangan ‘Ustaz Sandiaga Uno’

Ratna Di-pingpong antara Ahoker dan Wowower

Menurut Nusron, pelafalan ayat Alquran atau bahasa Arab harus diucapkan dengan benar ketika salat. Sementara untuk bahasa sehari-hari dan tercampur logat bahasa daerah, hal itu tak jadi masalah.

Jokowi di Acara MTQ Nasional di Medan, Sumatera Utara (Foto: Dok. Humas Pemprov Sumut)
Jokowi di Acara MTQ Nasional di Medan, Sumatera Utara (Foto: Dok. Humas Pemprov Sumut)

“Logatnya orang Jawa ya memang gitu. Kecuali dalam salat itu harus fasih. Wong sampeyan kalau bilang Asar ngga bisa ‘Ngasr’ kok. Bilang makan nggak bisa jadi mangan. Ini karena sudah aksentuasi, logat. Ada yang mempersoalkan seperti itu belum paham anatomi betapa luasnya aksentuasi bahasa di Indonesia ini,” kata Mantan Ketua GP Anshor itu.

“Jadi menurut saya kalau ada yang mempersoalkan seperti itu, ya belum paham tentang anatomi multikulturalnya Indonesia betapa luasnya aksentuasi bahasa di Indonsia ini. Nah dan hanya sedikit orang yang bisa memahami bahasa tersebut,” lanjutnya.