Ilustrasi

@Rayapos | Jakarta – Ada hasil riset unik di Jepang. Jumlah perawan naik 2,9 persen selama 23 tahun terakhir. Hasil ini didapat dari riset ‘Pengalaman Seksual Pertama Orang Dewasa’ di sana.

Pengalaman seksual pertama orang dewas di Jepang lebih lambat dibandingkan Amerika dan Eropa.

Dilansir dari CNN, pakar kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo menemukan kurangnya pengalaman seksual di negara tersebut.

Wanita berusia antara 18 tahun hingga 39 tahun yang tidak pernah melakukan hubungan seks meningkat menjadi 24,6 persen pada 2015 dari 21,7 persen pada 1992. Atau naik 2,9 persen.

Sementara untuk pria pada rentang usia yang sama juga naik menjadi 25,8 persen pada 2015, dari 20 persen pada 1992.

Peter Ueda, peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, mengatakan:

“Kurang pengalaman seksual telah menjadi perhatian nasional di Jepang. Jadi perhatian pemerintah. Tapi laporan sebelumnya tidak memeriksa tren di berbagai kelompok umur dan latar belakang sosial ekonomi.”

Sebagai perbandingan, survei dari Inggris, Amerika Serikat dan Australia menunjukkan hanya sekitar 1 persen hingga 5 persen orang dewasa berumur 30 tahunan yang tidak pernah melakukan hubungan seksual.

Laporan tersebut menemukan bahwa persentase pria yang berpenghasilan lebih rendah tetap tidak berpengalaman secara seksual dibandingkan dengan wanita.

“Meskipun diskusi seputar sebab dan akibat menjadi sangat kompleks ketika mempertimbangkan siapa yang berpengalaman secara seksual dan yang tetap perawan,” kata Cyrus Ghaznavi, penulis utama dari penelitian tersebut.

Dia menambahkan,”Kami mendapati bahwa kurangnya pengalaman heteroseksual setidaknya dipengaruhi oleh masalah sosial-ekonomi kaum pria. Sederhananya, ini soal uang.”

Masalah angka kelahiran menjadi hal penting di Jepang karena populasinya yang menua dengan cepat.

Di Jepang, lebih dari 20 persen populasinya berusia di atas 65 tahun.

Sementara hanya ada 946.060 kelahiran pada tahun 2017.

Catatan tersebut menjadi rekor jumlah kelahiran terendah sejak pencatatan resmi dimulai pada tahun 1899.

Kukhee Choo, seorang profesor studi media di Sophia University di Tokyo, mengatakan, penurunan tersebut berarti bahwa kelompok usia produktif yang terus menyusut harus mendukung populasi yang semakin tua dan membutuhkan perawatan kesehatan serta pensiun.

Choo mengatakan, sorotan tentang ketidakberdayaan seksual adalah bagian dari agenda domestik untuk memperbaiki penurunan populasi. (*)

BAGIKAN