Kampung Topeng Malang, Jawa Timur (Foto : Youtube)
Sebagai tempat hunian, Kampung Topeng telah disulap oleh Kementerian Sosial bersama Pemerintah Kota Malang menjadi tempat hunian yang relatif nyaman.

@Rayapos | Jakarta – Bulan lalu, bersama Pak Tantyo A Sudharmono, Ketua Umum DNIKS yang baru dan Ibu Niken Indra Dhamayanti, salah satu Ketua, atas undangan dari Ibu Satpo Juli Isminarti, seorang aktifis disabilitas yang gesit, kami berkunjung ke Kampung Topeng di wilayah Kota Malang. Dalam kunjungan memenuhi undangan wanita yang terkena polio yang gesit itu, Ibu Juli rupaya sempat memberi tahu Walikota sehingga Walikota Malang, Abah Anton, figur yang kita tahu sangat tanggap terhadap kegiatan rakyatnya, lengkap disertai jajaran Dinas Sosial yang diwakili oleh Ibu Kustinah, ikut memberikan perhatian dan sambutan.

Kampung Topeng yang menjadi ajang kunjungan termasuk wilayah Kota Malang, namun kampung tersebut terletak jauh di pinggiran kota sehingga perjalanan kesana itu bisa saja membuat kami kesasar bahkan tidak dapat menemukannya. Karena itu Ibu Kustinah berbaik hati menjemput kami di Hotel serta mengantar rombongan dari Jakarta sampai ke Kampung Topeng yang menjadi pusat kegiatan hari itu dengan selamat. Karena dituntun oleh petunjuk jalan yang baik, rombongan Jakarta sampai ke tujuan lebih awal, tetapi ternyata Abah Anton sudah lebih dulu datang ke tempat lokasi dan bercanda dengan para penghuni kampung yang mendapat sentuhan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota tersebut dengan akrab.

Kampung Topeng di pingiran Kota Malang tersebut merupakan kampung rekayasa yang penghuninya mantan penghuni jalanan sepanjang di Kota Malang yang ditampung oleh Pemerintah Pusat dan Kota dengan disediakan rumah hunian dan pekarangannya. Sebagai tempat hunian, Kampung Topeng telah disulap oleh Kementerian Sosial bersama Pemerintah Kota Malang menjadi tempat hunian yang relatif nyaman.

Fasilitas aliran air bersih di kampung tersebut dan sekitarnya telah tersedia untuk keperluan minum dan masak sehingga penduduk tidak harus mengambil air dalam jarak yang jauh seperti nenek moyang yang pernah tinggal di kawasan yang sukar air tersebut. Para penghuni yang masih muda dan siap kerja dilatih bekerja untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia di daerah tersubur bahkan di daerah sekitarnya. Lurah dan aparatnya melengkapi kampung itu dengan berbagai pelatihan kerja agar penduduknya nyaman tinggal di kampung itu. Usaha ini mendapat bantuan pemerintah karena penghuni kampung ini umumnya berasal dari penduduk yang tidak bekerja dan disediakan rumah hunian dengan perlengkapan seperlunya.

Karena itu untuk hidup sehari-hari, mereka dilatih dan diberikan kegiatan diantaranya membuat topeng dan kegiatan keterampilan lain sebagai pengganti kegiatan di jalanan sebagai peminta-minta atau kegiatan yang tidak disukai orang banyak. Dari hasil pelatihan dan kegiatan mandiri yang telah dilakukan sebagian besar masih terbatas pada upaya menggoreng kripik dan dibantu dipasarkan oleh Dinas Sosial secara terbatas sehingga banyak kemungkinan yang masih bisa dikembangkan dengan menggerakkan warga yang berusia muda.

Kondisi saat ini, kaum lelaki sebagian masih bisa bekerja di kampung sekitarnya sebagai pekerja kasar atau pekerja bidang lainnya. Sebagian lagi membuat topeng dan dijual di kampung atau di toko-toko di Malang. Tetapi karena tingkat pendidikan penduduk yang rendah dan tidak biasa bekerja keras maka sebagian penduduk Kampung Topeng itu masih menganggur. Apabila penduduk kawasan ini bisa bekerja dan tetap melanjutkan pengembangan topeng atau kegiatan lain sebagai kampung wisata, maka kemungkinan besar bahwa penduduk ini tidak akan kembali ke pinggir jalan di Malang atau merambah ke kampung lain menekuni pekerjaan lamanya yang tidak disukai oleh masyarakat luas tetapi menjadi Kampung Topeng pusat wisata dan industri rumahan.

Ibu Juli adalah seorang aktifis penyandang disabilitas yang telah ikut melatih beberapa orang untuk ikut menjadi pengusaha yang bekerja keras antara lain dalam bidang jahit menjahit. Ibu Juli sendiri telah lama berkecimpung dalam kegiatan jahit menjahit dan biasa mengerjakan pekerjaan borongan menjahit untuk baju seragam anak-anak sekolah atau untuk pegawai kantor pemerintah atau perusahaan. Keinginannya berbagi kepada sesama penyandang disabilitas dan orang tidak mampu mendorong untuk menularkan ilmunya kepada penduduk Kampung Topeng. Itulah alasannya Ketua Umum DNIKS, Tantyo A Sudharmono berkunjung ke Kampung Topeng tersebut.

Pada waktu ini Ibu Juli sedang menerima kontrak selama dua tahun dari seorang pengusaha untuk membuat kaos beraneka ukuran. Untuk kontrak ini Ibu Juli mendapat bantuan kredit dari Bank UMKM Jatim Cabang Malang. Ada tanda-tanda kontrak akan diperpanjang karena pekerjaan yang disajikannya sampai saat ini dianggap baik dan mendatangkan untung kepada pedagang yang memberikan kontrak.

Selama ini Ibu Juli memperkerjakan sekitar 25 pekerja dan karena dia sendiri penyandang disabilitas, Ibu Juli memperkerjakan penyandang disabilitas sebagai anggota tim kerjanya. Pekerjaan yang dilakukannya adalah menjahit baju kaos termasuk memotong bahan sesuai ukuran aneka dengan bahan yang tersedia. Pemotongan dilakukan oleh anggota yang dilatih oleh Ibu Juli. Setelah dipotong bahan langsung dijahit secara rapi. Ibu Juli dan pekerjanya menerapkan kontrol yang ketat dalam usahanya. Bahkan sebelum dikirim sekali lagi barang harus melalui kontrol ulangan yang ketat. Karena kontrol yang baik itu pelanggan merasa puas. Setiap pekerja meyajikan hasil kerjaan yang baik tanpa cacat.

Oleh karena itu honor pekerja relatif tinggi sesuai standar upah yang berlaku di Malang, setiap Minggunya seorang pekerja rata-rata menerima Rp. 1,200.000,- . Namun Ibu Juli yang bercita-cita membantu rekannya sesama penyandang disabilitas di Kampung Topeng masih memiliki kendala karena masyarakat di Kampung ini tidak memiliki mesin jahit. Bantuan pelatihan yang selama ini telah ikut diberikannya kepada masyarakat di Kampung ini belum dapat disertai dengan penyediaan fasilitas bagi masyarakat yang telah dilatih. Fasilitas yang ada sudah dipergunakan untuk karyawan lain yang berasal dari kampung lainnya.

Saat ini Ibu Juli sedang menunggu bantuan mesin jahit otomatis dari Dinas Sosial atau pemberi bantuan lain guna memperluas usahanya dan dukungannya menolong ibu-ibu atau pekerja berasal dari Kampung Topeng yang sebagian belum mendapat pekerjaan tetap. Kita berharap Dinas Sosial atau Walikota Malang memberi perhatian dan membantu dengan mesin jahit agar masyarakat dapat makin mandiri.

Penulis : Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin RI

Comments

comments