The destroyer USS Chung-Hoon

@Rayapos | Washington DC – Dua kapal militer Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) berlayar melintasi Selat Taiwan pada pekan ini. Ini merupakan operasi ketiga AS sepanjang tahun ini meskipun mendapat perlawanan dari China.

Pergerakan kapal militer AS ini berisiko semakin memanaskan ketegangan dengan China. Namun di sisi lain, ada kemungkinan akan dipandang oleh Taiwan sebagai isyarat dukungan dari pemerintah Presiden AS Donald Trump.

“Transitnya kapal-kapal ini melewati Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS pada Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” demikian pernyataan Armada Pasifik AS seperti dilansir Reuters, Kamis (29/11/2018).

Baca juga:

Beri Izin Reuni 212, Anies Baswedan Didemo Warga Jaga Indonesia

Begini Kronologi Driver Taksi Online Dibegal Penumpangnya

“Angkatan Laut AS akan terus terbang, berlayar dan beroperasi di mana saja yang diizinkan oleh hukum internasional,” imbuh pernyataan itu.

Disebutkan AS bahwa dua kapal militer yang berlayar melewati Selat Taiwan itu merupakan kapal penghancur USS Stockdale dan Pecos yang merupakan kapal isi ulang.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut aktivitas kapal-kapal militer AS itu merupakan transit wajar melalui perairan internasional di Selat Taiwan. Disebutkan Kementerian Pertahanan Taiwan bahwa pihaknya telah memantau pergerakan kapal-kapal militer AS itu.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menyatakan otoritas China telah menyampaikan kekhawatiran atas hal ini kepada AS.

“Kami mendorong Amerika Serikat untuk…secara berhati-hati dan secara pantas menangani isu Taiwan, menghindari mengganggu perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan dan hubungan China-AS,” sebut Geng dalam pernyataannya.

Aktivitas terbaru AS di Selat Taiwan ini terjadi menjelang jadwal pertemuan antara Trump dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela pertemuan G20 di Argentina, pekan ini. Angkatan Laut AS melakukan pergerakan serupa di perairan internasional yang ada di Selat Taiwan pada Juli lalu.

AS diketahui tidak memiliki hubungan resmi dengan Taiwan, namun diwajibkan oleh hukum untuk membantu Taiwan mempertahankan diri. AS selama ini juga menjadi sumber utama suplai persenjataan Taiwan. Sejak tahun 2010, AS telah menjual persenjataan senilai US$ 15 miliar ke Taiwan.

China sendiri terus berupaya menjadikan Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya. Taiwan dianggap sebagai pecahan provinsi dari ‘satu China’.