Yusuf Martak dan Kapitra Amprea. Kolase: Rayapos/DWO

@Rayapos | Jakarta – Sesama aktivis gerakan 212 kini berebut merek angka itu. Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menyatakan merek 212 adalah miliknya. Sedangkan, Kapitra Ampera juga mengklaim mematenkan nama 212.

Klaim Kapitra saat menanggapi Persaudaraan Alumni 212 yang menyatakan Kapitra bukanlah pengacara Habib Rizieq Syihab lagi. Kapitra menyatakan dirinya ‘mematenkan’ nama 212.

“Belum ada pencabutan kuasa dari HRS kepada saya. Lebih-kurang 8, termasuk yang soal paten dan sebagainya, termasuk mematenkan 212 dan sebagainya,” kata Kapitra kepada wartawan, Jumat (20/7/2018).

Baca Juga:

Menang Besar, Fakhri: Suporter Memotivasi Anak Asuhnya

PSI: “Prabowo Kritik Kemiskinan dari Atas Kuda di Hambalang”

Parfum untuk Kali Bau Busuk Jakarta Bernama DeoGone

Meski begitu, Ketua Umum GNPF Ulama Yusuf Martak menyatakan nama 212 bukanlah ciptaan Kapitra. Memang benar bahwa Kapitra dahulu termasuk salah satu aktivis aksi 212. Namun nama itu berasal dari Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, nama itu berasal dari tanggal aksi 2 Desember 2016 yang dipusatkan di sekitaran Monas.

“Kalau Kapitra pernah ikut aksi 212, memang iya, dia pernah ikut aksi dalam bidang hukum berkaitan dengan kriminalisasi dan ketidakadilan. Tapi kalau (212 adalah) bikinan dia, saya pikir tidak ya. Karena saat itu penentuan tanggal aksi-aksi itu langsung di bawah komando Habib Rizieq. Karena saat itu Habib Rizieq masih ada di Indonesia,” tutur Yusuf Martak.

Yusuf mengatakan pendaftaran merek 212 diawali oleh aktivitas Dewan Ekonomi Syariah dan Koperasi Syariah 212 (KS 212) yang diketuai Syafi’i Antonio. Pihaknya telah mendaftarkan merek 212 ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM sejak awal 2017.

Penelusuran dengan kata kunci ‘212’ pada menu merek memunculkan beragam hasil, meliputi merek yang berstatus didaftar, dalam proses, hingga ditarik kembali.

Hasil pencarian relevan yang banyak muncul adalah pengajuan nama 212 atas nama pemilik K.H. Bachtiar Nasir, Lc., M.M. Pendaftaran pihak ini sudah diterima sejak 16 Januari 2017. Di situ tampil logo dengan gambar Monas sebagai pengganti angka ‘1’ pada ‘212’.

“Angka 1 di tengah berbentuk Monas untuk mengabadikan peristiwa “Persaudaraan Islam” terbesar sepanjang sejarah yang berlangsung di Monas pada tanggal 2 Desember 2016,” demikian penjelasan yang tertera dalam keterangan di situs DJKI.

Ada pula yang didaftarkan di sini, yakni ‘Koperasi Syariah 212’, diterima pendaftarannya pada 24 Januari 2017. Statusnya tercantum ‘menunggu tanggapan atas usulan penolakan’. (*)

BAGIKAN